
FLY WITH ME
BAB 9
PINDAHAN
***
***
Punggung Raya pegal-pegal. Dia tidak bisa membiarkan tubuhnya lebih lama lagi kelelahan. Tidak seperti biasanya, penerbangan Tokyo-Jakarta kali ini begitu melelahkan.
Sedari tadi di dalam mobil yang mengantarnya ke mes, Raya memang sudah mengaktifkan ponselnya. Entah sudah berapa pesan yang akhirnya masuk ke dalam ponsel yang Raya gunakan.
Setelah membaringkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Ia membuka pesan-pesan yang masuk selama ia berada di udara. Ada banyak pesan dari Aila. Jadi ia memutuskan untuk membuka yang itu lebih dulu.
Banyak photo yang Aila kirimkan, sejak beberapa hari yang lalu, Raya memang tengah bernegosiasi dengan seorang pemilik apartemen tersebut. Untuk sekarang, Raya memang berencana untuk menyewa lebih dulu.
Sebelum berangkat ke Jepang, Raya juga sudah menghubungi kepala mes untuk mengurus kepindahannya keluar dari mes ini. Jadi ia tidak terlalu lama berurusan dengan kepala mes saat ia kembali ke Indonesia.
AILA
Sudah selesai semua Kak, tinggal pindah.
Raya tersenyum melihat pesan pertama dari Aila tersebut, berarti ia hanya tinggal menunggu Aila datang dan membantunya untuk pindah.
RAYA
Pesan taksi online besok pagi, ya. Aku istirahat dulu malam ini.
Usai mengirim pesan tersebut, Raya keluar dari roochatnya dengan Aila. Lalu melihat pesan yang dikirimkan beberapa teman terbangnya. Tapi, ada satu pesan yang menarik perhatian Raya.
DAREN GANTENG
Selamat sore, Raya. Hari ini kamu beruntung disapa orang ganteng.
__ADS_1
Senyum geli muncul saat Raya membaca pesan tersebut. Ia langsung membalas pesan teman lamanya.
RAYA
Halo juga, Tante Renata dan Rachel baik?
Eh, kok tiba-tiba sudah ada nomor kamu?
Tanpa berniat keluar dari roomchat, Raya melihat Daren mulai mengetikkan pesannya. Perasaan deg-degan seperti orang yang tengah jatuh cinta menghampiri Raya.
DAREN GANTENG
Semuanya baik. Aku tidak ditanya?
Raya memilih membaca saja pesan tersebut, ia terlalu lelah kalau harus membalas semua pesan. Jadi, ia memutuskan untuk kembali mencari pesan yang belum terbaca.
Ternyata tidak ada yang terlalu penting untuk dibalas, akhirnya Raya memilih tidur dan beristirahat.
***
Melihat laki-laki itu, Raya baru sadar kalau Reza memang lumayan tampan. Beberapa temannya memang sering menggodanya karena digosipkan dekat dengan pilot tampan, ya dia adalah Reza. Tapi Raya tidak pernah sadar.
Lebih tepatnya, ia tidak pernah sadar kalau ternyata Reza setampan ini. Wajahnya yang halus ditambah dengan rambutnya yang dipotong cepak rapi.
Jangan lupa soal tubuhnya yang disebut ‘tinggi ideal’ para penikmat ‘cogan standar drakor’. Tingginya yang sekitar 185 cm itu membuat Raya harus mendongak setiap kali bicara.
Di tambah, senyumnya yang selalu saja menenangkan. Dia adalah laki-laki kedua yang Raya bilang tampan. Sesudah Daren tentunya. Entah kenapa, walaupun sudah lima tahun lebih, Daren selalu memenangkan hati Raya.
Dengan sebuah kaos putih yang lumayan membentuk tubuhnya yang menunjukkan kalau ia sering berolahraga, Reza bisa mendapat tatapan incaran dari banyak perempuan karena ia hari ini sangat tampan. Serius, sangat tampan.
Pria itu tersenyum manis, membuat daya tariknya naik dua kali lipat. “Aku bohong,” ia cenge-ngesan. “Kamu mau pindahan hari ini, kan?”
Raya terkejut mendengar Reza yang ternyata juga tahu soal kepindahannya. “Kok kamu bisa tahu juga, pasti dari Aila, ya?”
Laki-laki di depannya itu tersenyum dan mengangguk. Kali ini tebakan Raya benar. Laki-laki itu diberi tahu Aila yang sudah pasti bicara dengan Reza.
“Jadi berangkat sekarang?”
“Jadi,” ucap Raya. “Aku ambil barang-barang aku dulu, sebentar” tambah Raya yang masuk ke dalam dan mengambil dua buah koper miliknya.
__ADS_1
Sebenarnya, Raya tidak terlalu banyak membawa barang saat sampai disini. Semua furnitur sudah terisi saat ia pertama kali datang. Jadi, ia tak perlu membeli banyak barang.
Raya juga sebenarnya memilih untuk meninggalkan banyak barang bawaan yang kurang penting untuk ia bawa. Jadi, ia hanya membawa satu koper besar dan satu koper kecil.
“Sini, biar aku bawa” yang Reza pinta langsung Raya tolak, ia tidak mungkin membuat Reza lagi-lagi kesusahan karenanya.
Kejadian beberapa waktu yang lalu memang masih sedikit membekas di hati Raya. Tidak biasanya Reza akan menjemputnya. Usai menelpon Reza pun, Raya baru sadar kalau ada banyak notifikasi panggilan dari laki-laki itu.
Raya masih tidak enak hati. Serius.
“Engga, Za. Kamu jangan bantuin aku dulu, aku mau sendiri aja.” Ucap Raya. “Aku masih nggak enak sama kejadian kemarin,”
Raya keluar dari mes miliknya. Lalu menutup pintu mes dan menguncinya. Suara koper berjalan mengalihkan Raya yang tengah mengunci pintu mes.
“Reza, jangan dibawa kopernya,” ucap Raya yang tidak Reza hiraukan. Laki-laki itu sudah berjalan lebih dulu menuju sebuah lift yang tak jauh dari tempat Raya berdiri.
Usai mengunci pintu, Raya berjalan dengan sedikit berlari untuk menyusul Reza. Laki-laki itu hanya tersenyum simpul setelah berhasil membawa kabur dua koper milik Raya tanpa izin.
“Kebiasaan, ih! Kalau di larang malah makin jadi!” Omel Raya yang tidak Reza pedulikan. Keduanya memasuki lift yang terbuka, lalu menuju lantai tempat dimana Reza memarkirkan mobilnya. “Aila nunggu di bawah?”
Reza mengangguk, “Iya, dia nggak boleh masuk.” Jawaban dari Reza rasanya sudah cukup untuk Raya. Usai mengurus sedikit urusan dan mengembalikan kunci, Raya dan Reza bergegas menuju ke mobil Reza yang terdapat di parkiran.
Selama mereka berjalan, tidak henti-hentinya Raya mengomel kepada Reza yang memaksa untuk membawa dua koper milik perempuan itu. Sementara Raya, dia hanya membawa tas slempang miliknya dengan wajahnya yang ia tekuk.
“Kalian kenapa?” tanya Aila saat keduanya sampai disana.
“Kakak kamu lagi ngambek,” jawab Reza yang masih terkekeh. Raya melemparkan tatapan tak suka dengan Reza.
“Za, sekarang biar aku yang masukin ke bagasi,” ucap Raya yang tak mau kalah. “Kamu capek kalau harus semuanya,” tambahnya.
“Ini berat, Ra. Kamu serius?” Raya mengangguk yakin, tapi Reza tak mau peduli. Ia tetap memasukkan dua koper itu tanpa bantuan Raya. “Biar aku aja,”
“Aku nggak enak kalau kamu semua yang harus ambil alih,” ungkap Raya yang ada di sebelah Reza.
“Ra, aku nggak apa-apa. Kalau semua kamu yang bawa, aku yang kelihatan brengsek.” Setelah Reza bicara itu, Raya tidak mampu membalas ucapan Reza. Perempuan itu memilih diam, dia tidak bisa berkata-kata.
Sementara, Aila hanya memperhatikan keduanya yang kali ini diam-diaman dan akhirnya memasuki mobil yang Reza bawa. Tanpa mempedulikan lagi, Aila memilih memainkan ponselnya.
***
LIKE KALAU SUKA
TERIMA KASIH APRESIASINYA
__ADS_1
ily, more