
FLY WITH ME
BAB 8
SEBUAH SAPAAN
***
***
Malam hari saat Raya baru saja sampai ke mesnya, ia mendapat sebuah pesan singkat dari Aila. Adiknya itu tiba-tiba mengirimkan pesannya.
AILA
Mama mau ke kampung, kakak jadi tinggal di apartemen nggak?
Karena Raya tidak mau membahas masalah ini di pesan, Raya akhirnya memanggil Aila dengan panggilan telepon.
“Halo, kami dari Kentucky Fried Potato. Ada yang bisa di bantu?” mendengar Aila yang berusaha melawak di saat yang tidak tepat, membuat Raya ingin bersikap jutek dengan adiknya.
“Kamu mau pindah ke apartemen?” tanya Raya. Tanpa menunggu lama, adik perempuannya itu segera membalas apa yang Raya tanyakan.
“Mau!” ungkap perempuan itu. “Kejauhan kalau berangkat kuliah dari rumah,” tambah Aila dengan sedikit curhat.
“Sudah ketemu rencana tempatnya?”
“Belum, si. Tapi aku punya teman yang lumayan paham soal ginian,” ujarnya.
Raya memang tidak mau mengambil pusing, akhirnya ia memilih menyerahkan semuanya kepada Aila yang bersedia mencarikan apartemen.
“Cari yang dekat bandara, ya. Biar nggak aku terlalu jauh kalau berangkat kerja,”
“Pokoknya, serahkan ke aku, kak. Semua pasti langsung siap,” mendengar Aila bicara seperti itu, membuat Raya lebih tenang. “Omong-omong, cowok bule aku belum datang juga?”
Raya jengah mendengar adiknya yang sudah kembali kumat. “Mulai lagi, kan.” Protes Raya kemudian. “Aila, pokoknya kalau survei tempat jangan lupa di foto ya, aku harus lihat tempatnya juga,” ucap Raya mengingatkan.
“Siap, Kak” kata Aila. “Oh iya, kemarin aku ketemu Kak Daren,” ujar Aila.
Perempuan yang Aila ajak bicara sudah tahu, bahkan beberapa hari yang lalu Daren mengantarnya sampai ke parkiran mes. Karena selanjutnya, Reza yang mengantarnya sampai ke depan kamarnya.
__ADS_1
“Kak Raya pasti lagi kaget banget, ya? Ya pasti, lah. Orang sampai sekarang masih belum bisa move on!” Raya gemas mendengar Aila yang tengah mengejeknya. “Kak Raya jangan syok begitu, dong!” ledek Aila lagi.
Raya membaringkan tubuhnya di kasur. Masih dengan seragam khas pramugari senior di maskapai Nusantara Air. Riasan di wajah Raya bahkan masih terlihat, walaupun ia sudah sampai di rumah dua puluh menit yang lalu.
Mengingat soal kejadian kemarin, Raya jadi senyum-senyum sendiri mengingat Daren yang bersikap manis dengannya. “Aku juga sudah ketemu Daren kok,” Raya kemudian tersenyum geli.
“Serius?!” suara terkejut Aila dapat Raya dengar. “Ketemu dimana?” tanyanya kemudian.
“Awalnya ketemu di restoran, sebelum jalan sama Reza. Terus main ke rumahnya beberapa hari kemudian,” Raya terkekeh kemudian. Dia benar-benar bahagia sekaligus tidak pernah menyangka.
“Ini lagi halu atau nyata?” Aila tampak ragu dengan apa yang Raya ungkapkan. “Dapat alamat Bang Daren dari mana?”
“Mamanya, beliau tiba-tiba kirim DM. Karena itu akhirnya kita tukeran nomor dan berakhir chattingan,” cerita Raya yang bahkan melupakan perasaan lelahnya setelah flight yang lumayan lama.
“Sumpah, Kak. Lo beruntung banget, Bang Daren gimana pas pertama kali ketemu?” tanya Aila.
“Tahu, nggak. Dia itu pertamanya jutek banget, terus lama-lama bikin meleleh,” Aila yang tengah berada dikamarnya ikut histeris mendengar Raya yang seperti kembali jatuh cinta.
“Kak, Lo kapan libur? Gue harus datengin Lo kalau lagi off day*” ucapan Aila langsung Raya balas.
“Engga tahu, libur yang berhari-hari kayaknya masih lama,” keluh Raya. “Pokoknya kamu langsung kirim foto ya kalau habis survei tempat. Aku mau packing dari sekarang,” Raya kembali mengingatkan.
“Iya,” Raya kembali teringat kalau beberapa hari yang lalu Reza datang mengunjungi rumahnya. “Bang Reza beberapa hari yang lalu datang kesini,”
Yang tentang ini, Raya juga sudah tahu. Reza bahkan sudah berbicara dengannya sehari sebelum ia datang ke rumah. “Reza sudah bicara kok, sehari sebelumnya” ujar Raya. “Dia datang untuk apa?”
Sebelum menjawab pertanyaan Aila, Raya merasa ada yang aneh. Adiknya itu tidak biasanya menanyakan tentang seorang laki-laki kepadanya. Tapi, kenapa tiba-tiba ia menanyakan Reza?
“Tidak jauh dari mes, agak dekat dengan bandara juga,” jawab Raya yang mengundang penasaran bagi Aila.
“Aku tidak tanya soal bagian itunya, Kak. Maksudnya alamat lengkapnya,” timpal Aila lagi.
Ide jahil tiba-tiba muncul di pikiran Raya, “Memangnya kenapa sih? Mau main ke rumahnya Reza?”
Sayangnya, Raya tidak bisa melihat wajah Aila yang entah tengah tersenyum malu atau tengah mendumel karena ia tidak menyukai Reza.
“Tuh kan, kayaknya kamu suka benaran!” ledek Raya sekali lagi.
“Ih, Kak Raya, mah!” Aila menghindar dari ledekan Raya. “Aku nggak ada perasaan apa-apa ya, ke Bang Reza”
“Iya, aku tahu kok. Kamu nggak punya perasaan apapun, cuma suka aja” ucapan Raya barusan membuat adiknya langsung mematikan panggilan telepon tersebut. Raya tersenyum senang, akhirnya ia mengetahui satu rahasia yang Aila miliki.
Baru selesai dengan Aila, ponsel Raya kembali bergetar karena sebuah panggilan dari seseorang yang Raya kenal.
“Halo, Za?” tanya perempuan itu.
__ADS_1
“Halo, Ra. Kamu sudah pulang belum?” Raya mengerutkan dahinya.
“Memangnya kenapa?” tanya perempuan itu lagi. Biasanya, Reza memang tidak pernah menanyakan soal kepulangannya.
“Aku jemput kamu,”
Hanya satu kalimat, tapi dapat membuat Raya langsung tak enak hati dengan laki-laki itu. “Ih, Reza. Kenapa jemput?”
“Emangnya nggak boleh?” Tuh, kan. Raya jadi tak enak hati dengan Reza.
“Bukan gitu, tapi kamu emang nggak lelah? Kan habis landing juga,” ucap Raya.
“Ya, mumpung aku bawa mobil juga. Tapi kalau kamu sudah di rumah, ya sudah deh.” Jawaban dari Reza membuat Raya merasa sangat jahat disini.
“Maaf, ya. Aku nggak tahu,”
“Iya, kamu langsung istirahat aja,” ucap Reza.
“Kamu masih di bandara?” tanya Raya kemudian.
“Engga, kok. Aku sudah di rumah,” jawaban singkat itu membuat Raya tersenyum. Minimal, ia tak terlalu merasa bersalah karena sekarang Reza sudah ada do rumahnya. “Aku tutup, ya”
“Eh, sebentar!” Reza yang tadinya ingin menjauhkan ponselnya dan mematikan panggilan tersebut, mendadak menundanya. “Kamu jangan lupa istirahat,”
Reza tidak bisa menahan senyumnya. Di dalam mobil yang terparkir di sebuah parkiran bandara ini, ia tersenyum geli hanya karena sebuah perhatian kecil dari perempuan itu.
Reza memang berbohong soal ia yang sudah sampai di rumahnya. Nyatanya, ia masih di dalam mobil dan barusan sibuk menelpon Raya yang ternyata sedang berada di panggilan lain.
“Iya, sayang” Raya dapat mendengar kekehan Reza berikutnya. Laki-laki berusia tiga puluh tahun itu seperti anak remaja baru jatuh cinta.
“Errr… Kamu seperti bocah,” jawab Raya tak kalah geli. “Oh iya, aku ada oleh-oleh. Kamu mau?”
Tanpa banyak bada-basi, Reza langsung membalas. “Mau,”
“Ya sudah, besok aku antarkan ya,” ucap Raya kemudian. “Eh, atau nanti Aila yang antar,”
“Menurut aku, mending kamu saja,”
***
LIKE KALAU SUKA
__ADS_1
TERIMA KASIH ATAS APRESIASINYA
ily