Fly With Me (REVISI)

Fly With Me (REVISI)
Episode 13: PESTA PERNIKAHAN


__ADS_3

 


 


FLY WITH ME


BAB 13


PESTA PERNIKAHAN


***


***


Kulit putih bersih, serta leher indah sengaja Raya pamerkan. Di balut sebuah dress yang bagian tangannya berupa renda cantik. Rambutnya juga sengaja disanggul rapi. Wajah Raya pun hanya di poles sedikit. Tidak terlalu tebal seperti biasanya.


Di sebelahnya, ada Reza yang sudah rapi dengan batik dan celana hitam miliknya. Tampan, itu yang terlintas di pikiran Raya ketika pertama kali melihat Reza di depan unit apartemennya.


Saat pertama kali keduanya masuk ke dalam ballroom. Raya dapat merasakan banyak mata yang memperhatikan keduanya. Ia menduga, semua ini karena laki-laki disebelahnya.


Memang benar Reza hanya menggunakan batik dan celana hitam biasa. Tapi, wajah tampan dan menarik Reza tidak bisa ragukan. Tipe-tipe laki-laki ganteng totalitas, lah.


Namun, yang Reza pikirkan justru kebalikannya. Orang-orang memperhatikannya karena ada Raya. Perempuan itu tampil cantik sekali hari ini. Dress kuning kunyit itu seperti menyatu dengan tubuh indahnya.


Keduanya memasuki sebuah ballroom hotel bintang lima yang jadi tempat resepsi teman Reza. Raya melirik jam tangannya, baru pukul delapan malam. Tubuh Raya sudah pegal, ia terlalu lelah karena baru pulang terbang.


Tanpa Raya sadari, Reza sedari tadi memperhatikan perempuan yang ada disebelahnya itu. Beberapa kali Reza mendengar Raya menghela nafasnya. Dia menunjukkan kalau dirinya kelelahan.


Tangan Reza mengacak-acak rambut Raya, perempuan itu melempar tatapan tak bersahabat dengan laki-laki itu. “Jangan gitu, Za”


“Harusnya bilang kalau capek,” Raya menyentuh lengan laki-laki itu. “Kita salaman langsung pulang, ya?”


Raya memilih tidak menjawab dan mengikuti Reza yang menuntunnya menuju pasangan pengantin pemilik acara. Raya tidak mengenal keduanya, ia memang hanya ingin menemani Reza yang mengajaknya pergi kesini.


“Wah, bawa gandengan nih,” ucap seorang lelaki yang Raya tebak namanya adalah Nathan. Reza hanya tersenyum, tidak membalas apa-apa. “Kapan lo nyusul?”

__ADS_1


“Nggak tahu, nih. Masih belum kepikiran,” jawab Reza yang terdengar aman. “Langgeng, ya”


Raya hanya mengikuti Reza dengan senyumnya. Sedikit beruntung, pekerjaannya yang memang membiasakan Raya tersenyum tidak membuatnya kesulitan. Masih terus memegang lengan Reza, Raya terus berjalan sembari berusaha tersenyum.


Usai menjauh dari pelaminan, Reza memepet Raya dan berbisik. “Bisa kita pulang sekarang?” suaranya pelan dan dalam.


Raya menoleh sedikit, tahu-tahu wajah Reza ternyata sudah ada disebelahnya. “Mau pulang sekarang?” laki-laki itu mengangguk. Raya tersenyum jahil, ia mencubit hidung Reza yang ada disebelahnya.


Reza menurunkan tangan Raya yang memegang lengannya. Menggenggam tangannya dan membawanya melewati banyak orang yang memperhatikan mereka.


“Kak Reza,” Reza menoleh, mencari seseorang yang memanggilnya. Laki-laki itu tersenyum kepada perempuan tersebut, termasuk Raya disebelahnya. “Raya, kan?” perempuan yang ditanyai hanya mengangguk sembari mengulas senyumnya.


“Sendirian, Sel?” tanya Reza kepada Sella yang berada di sini.


“Iya, Kak. Fero nggak mau diajak kesini,” keluh Sella.


Setahu Raya, Sella ini adalah adik perempuan Daren. Dia sudah lama tinggal di Jepang dan baru kali ini Raya melihatnya lagi usai Raya pindah.


“Kapan balik ke Indonesia?” tanya Raya.


“Barusan kita habis kesana, ini malah mau pulang,” ucap Reza. “Btw, aku pulang duluan, ya” tambah Reza.


Sella terfokus dengan tangan Reza yang menggenggam tangan perempuan disebelahnya. Diliriknya Reza sembari tersenyum penuh arti, “Kak Reza, pas ke pengantin, kalian ngomong apa?”


“Oh, tadi cuma ngomong ‘Langgeng, ya’. Udah, cuma itu aja.”


“Buat kalian juga, ya” ucap Sella yang kemudian meninggalkan keduanya. Reza masih diam dan mengartikan kata-kata yang barusan calon adik iparnya katakan.


“Maksudnya Sella tadi…” Raya yang paham dengan arti ucapan Sella mendadak tersenyum. Wajahnya memerah karena ucapan Sella barusan. Diliriknya Reza yang masih mempertanyakan hal yang sama. “Kamu ngerti artinya?”


Raya menggeleng, ia menarik tangan Reza yang menggenggamnya. Mengajaknya menuju parkiran hotel. Lalu memasuki mobil Reza yang keduanya tumpangi hari ini.


“Kamu senyum terus,” ucap Reza saat keduanya memasuki mobil. “Kenapa, Ra?”


Raya tersenyum lagi, kali ini berusaha menyembunyikan rasa malunya. “Nggak apa-apa,”

__ADS_1


Laki-laki itu menyalakan mobilnya dan mulai keluar dari parkiran sebuah hotel. Keduanya memang baru disana sekitar tiga puluh menit. Tetapi Reza jadi tak enak hati karena Raya baru saja pulang terbang. Ia dapat merasakan lelahnya perempuan itu. Walaupun penerbangan hari ini tidak terlalu lama.


Setelah tiga puluh menit perjalanan, keduanya memilih turun dari mobil dan menuju unit apartemen Raya. Reza sudah biasa mengantar Raya sampai di depan pintu kamarnya.


“Kamu boleh pulang,” ucap Raya saat keduanya sampai di depan pintu unit apartemennya. “Atau mau masuk dulu?”


Laki-laki itu tersenyum, “Aku pilih opsi kedua,” perempuan dihadapannya berbalik dan membuka pintu. “Aila ada disini?”


“Entah, dia nggak bilang kalau mau pergi,” keduanya memasuki unit apartemen. Raya mendekati pintu kamar Aila. “Al, kamu di dalam?” Dan tidak ada jawaban. “Kayaknya masih main deh,” tambah Raya.


Di lihatnya Reza yang tengah berjalan mendekati balkon. Raya menarik sebuah benda kecil yang menyangga rambutnya. Jatuh semua rambut Raya kemudian. Rambut itu kini tergerai bebas disana.


“Disana bisa lihat banyak pesawat, Za” Reza menoleh melihat Raya yang ada disebelahnya. Perempuan itu sudah menggerai rambutnya. “Aku suka banget duduk disini,”


“Aku juga suka disini,” tangan Reza ditaruh di bahu perempuan itu. Sesekali ia memainkan rambut Raya.


Perempuan itu mengerutkan dahinya. “Perasaan, kamu baru datang beberapa kali ke apartemen ini,” ucap Raya penuh keheranan. Bunyi bel menghentikan keduanya. Reza menyingkirkan tangannya yang berada di bahu Raya.


“Sebentar, aku buka pintu dulu,” perempuan itu pamit meninggalkan Reza yang masih berdiri disana. Ia kembali menikmati pemandangan malam yang indah.


Dari jauh, Reza dapat mendengar suara langkah kaki Raya yang kembali mendekat. “Siapa?”


“Paket,” ucapnya. “Sorry, Za. Aku mau singgung masalah yang tadi,” Reza mengubah pandangannya yang kali ini menatap Raya lurus.


Raya ingin bicara tentang Aila yang sepertinya menyimpan perasaan kepada laki-laki itu. Tapi ia merasa kurang tepat jika harus membicarakannya sekarang.


Perempuan itu bahkan tidak tahu soal perasaan laki-laki itu. Apakah ia bercanda, atau serius? Tidak ada yang bisa menjawabnya.


Kalau Raya tetap mengatakannya, ia akan dipandang sebagai perempuan yang gede rasa. Padahal, pengakuan hati Reza yang tadi bisa saja hanya kebohongan.


Eloknya, Raya memang mengikuti semuanya selayaknya air mengalir. Ia tidak harus membuat Reza ataupun Daren bergerak karenanya. Perempuan itu dibutuhkan sebagai air di sungai. Mengikuti arus dua laki-laki tampan yang tidak pernah bisa Raya pilih untuk saat ini.


“Nggak jadi, Za.”


***

__ADS_1


TERIMA KASIH LIKE & APRESIASINYA


__ADS_2