Fly With Me (REVISI)

Fly With Me (REVISI)
Episode 39


__ADS_3

FLY WITH ME


AKU LELAH


Usai membuka pintu, tubuh Raya mendadak kaku. Dengan matanya, Raya dapat melihat Daren yang lebih kusut darinya. Laki-laki itu tidak bercukur, baju kantornya juga berantakan.


“Aku mau ngomong berdua, Ray. Aku menyesal,”


See, dengan gampangnya dia ngomong itu.


“Ayo ke mobil kamu, ada Aila di dalam.” tanpa senyum seperti beberapa minggu sebelumnya, keduanya berjalan bersebelahan bagai orang yang tidak memiliki asa.


Di hati Raya, ada rasa senang yang memuncak saat mengetahui ada Daren yang datang ke sini. Berusaha menemuinya, itu sangat Raya hargai. Tapi, tentunya Raya lelah. Apakah setelah ini, keduanya akan sedekat sebelumnya? 


Yang lebih Raya takutkan cuma satu, apa ia akan merasakan sakit ini untuk yang kesekian kali? Bersama Daren tentunya bukanlah satu-satunya sumber kebahagiaanya. Keduanya masih bisa berteman seperti sebelumnya. Dan Raya yakin, Reza tidak akan melarangnya sedikitpun.

__ADS_1


Sambil menenteng sebuah paper bag berisi cincin yang diberikan Daren, Raya memasuki mobil yang biasa Daren pakai. Sedari tadi, Raya dipusingkan dengan berbagai pertanyaan yang membuat kepalanya ingin pecah. Posisinya yang baru pulang kerja, membuatnya menjadi sedikit tidak beres.


Di dalam mobil, keduanya jadi bisu. Daren yang tadinya mengajak bicara, sekarang hanya duduk diam. Akhirnya Raya lah yang berinisiatif membuka pembicaraan diantara keduanya. Tangan Raya memberikan paper bag itu kepada Daren, namun Daren hanya melihatnya tanpa menyentuhnya.


“Kamu nggak seharusnya kasih aku ini,” Daren menoleh, perempuan itu menolak barang yang sudah sejak lama ingin Daren berikan. “Ada perempuan lain yang lebih pantas terima ini, bukan aku”


“Aku minta maaf karena bikin kamu sedih selama satu minggu ini, Ray. Aku kasih ini karena aku pengen tegas sama perasaan aku,” ucapnya berusaha meyakinkan Raya bahwa dia bersungguh-sungguh.


Karena pria itu tidak mengambil paper bag miliknya, akhirnya Raya memilih menaruhnya diatas pangkuan Daren. “Sama seperti kamu, aku juga sedang berusaha tegas dengan perasaan aku,”


“Aku yang nggak bisa menerima semuanya dari awal, Daren” tatapan keduanya beradu. Penyesalan Daren memang bisa ia ucapkan, tapi dengan hatinya?


Tatapan mata Daren mulai melembut, “Kamu mau akhiri hubungan ini, gitu aja?” tanyanya pelan. Memandangi Raya entah sejak kapan sudah jadi kesukaannya.


Raya menunduk, tidak mau lagi menatap Daren. “Kita nggak pernah memulai apapun, tujuh tahun lalu atau tiga bulan lalu. See, kita semua masih di zona yang sama.”

__ADS_1


Disebelah Raya, Daren menjambak rambutnya frustasi. Menyesal karena tidak pernah memikirkan perasaan Raya yang sebenarnya juga ikut terluka karena kesalahannya yang egois.


Dengan berani, Raya mendongakkan kepalanya dan menatap laki-laki yang menjadi lawan bicaranya, “Aku sayang kamu, sayang banget. Tapi, untuk hidup selamanya sama kamu, I can’t.”


“Kasih aku kesempatan untuk berubah--”


“Aku capek beri kamu kesempatan untuk berubah, nggak semuanya harus dengan orang yang kita sayang, Daren.” tegas Raya. “Reza, dia lebih bisa menghargai aku daripada kamu.”


Daren hanya bisa diam di tempatnya, menelan kenyataan pahit bahwa perempuan yang ia sayangi lebih memilih orang lain untuk menemani hidupnya. Daren marah, sangat marah dengan dirinya yang begitu bodoh menyia-nyiakan Raya.


“Kita tetap bisa jadi teman, aku janji.” senyum itu mengembang, senyum yang juga akan Daren rindukan.


 


***

__ADS_1


Akhirnya bisa update....


__ADS_2