Fly With Me (REVISI)

Fly With Me (REVISI)
Episode 5: TUJUH TAHUN BERSELANG


__ADS_3

 


 


FLY WITH ME


BAB 5


7 TAHUN BERSELANG


 


***


***


 


RAYA POV


Sudah tujuh tahun berselang, hari ini aku genap berusia dua puluh lima tahun. Setiap tahunnya, aku selalu ingat tentang ulang tahunku yang aku dan Daren rayakan bersama. Ah, rasanya aku ingin pergi saja. Aku malu mengingat Daren dan semua perasaan yang aku ungkapkan.


Aku mencoba memikirkan saat itu, Daren pasti akan sangat membenciku. Aku selalu mendengarnya bicara, ia tak suka perempuan yang mengungkapkan perasaan sukanya kepada dirinya. Dia akan membenci perempuan itu.


Dan aku salah satu diantara mereka.


Selama tujuh tahun ini, aku pergi bagaikan orang gila. Setelah hari terakhir bertemu Daren, aku menghapus semua nomor temanku. Memblokir social media Daren dan nomornya. Serta pergi dari kota tempatku tinggal.


Kurang dari satu tahun, aku kembali lagi ke kota ini. Aku telah lulus SMA, dan memilih bekerja untuk membantu keluargaku. Mama dan Aila pindah kesini dua tahun kemudian, mereka pindah karena Aila harus sekolah SMA.


Sementara aku, sudah lima tahun lebih bekerja di sebuah perusahaan penerbangan sebagai pramugari. Dengan gaji yang terbilang lumayan, aku akhirnya bisa menyewa sebuah rumah sederhana untuk keluargaku. Tapi aku tidak tinggal dengan keluargaku, aku tinggal di mes pramugari yang disiapkan perusahaan.


Aku melirik jam dinding, sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aku segera bersiap karena nanti malam aku akan menemui temanku, Reza. Perlu kujelaskan, Reza ini seorang pilot di tempat kerjaku.


Kami bertemu saat penerbangan dari Jakarta menuju Jepang dua tahun yang lalu. Setelah penerbangan itu, kami berteman di sosial media dan berakhir menjadi teman dekat. Kami sudah beberapa kali pergi bersama, bisa di bilang sering.


Dan seperti hari biasanya, Reza mengajakku jalan dengan jadwal yang dadakan. Ya kami sering seperti itu, pekerjaan sebagai pramugari dan pilot memang jadwalnya tidak pasti. Terkadang kami bisa bekerja di hari libur, dan kemudian libur di hari kerja.


Aku tadi sempat mengirimi Reza pesan, mengingatkan kalau aku akan berangkat ke restoran yang lumayan sering kami kunjungi. Kemudian ia hanya membalas dan bilang kalau ia juga akan berangkat.


Usai mengirim pesan itu, aku menyisir rambutku yang di gerai dan memoles sedikit wajahku. Setelah nampak bagus, aku keluar dari mes sambil memesan sebuah mobil untuk mengantarku ke mall tempat aku dan Reza bertemu.

__ADS_1


 


***


 


Raya memasuki pusat perbelanjaan, dan memasuki sebuah tempat makan yang sering ia kunjungi bersama Reza. Raya memesan minuman kesukaannya, setelah selesai ia membayar dan duduk di salah satu kursi.


Malam ini Raya hanya menggunakan kaos hitam polos dan celana jeans. Rambuatnya ia gerai dan bertambah anggun. Ia juga hanya membawa sebuah sling bag kecil yang sering ia gunakan saat berpergian.


Raya meminum latte yang ia pesan, sembari menunggu Reza Raya membuka sosial media miliknya. Ia melihat beberapa DM yang masuk di Instagram miliknya. Dan membaca beberapa pessan dari orang yang tidak dikenalnya.


“Onti, Acel boyeh duduk disini?” tanya seorang anak kecil yang membawa sebuah makanan dan langsung duduk di sebelah Raya.


Perhatian Raya beralih ke anak kecil di sebelahnya. “Nama kamu siapa?”


“Acel, Onti namanya siapa?” Acel memakan makanannya dengan lahap, sedangkan Raya hanya memperhatikan anak itu.


“Raya?” panggilan seseorang membuat Raya mencari suara itu. Ada perempuan berumur lima puluhan yang mendekatinya. “Kamu Raya kan?” tanya perempuan itu lagi.


Raya berusaha mengingat wanita di depannya ini, wajahnya sangat mirip dengan Renata, Mama Daren. Raya agak ragu memanggilnya, namun tetap ia ucapkan. “Tante Renata?”


Renata duduk di hadapan Raya dan bicara, “Ternyata kamu masih inget sama tante. Tante pikir, kamu lupa.”


“Tante apa kabar?” tanya Raya yang menaruh ponselnya di atas meja.


“Baik, kamu gimana? Bertahun-tahun hilang gak ada kabar loh. Tante baru tau setelah dua tahun lalu follow akun Instagram kamu.” Penuturan Renata membuat Raya terkejut.


“Serius tante follow Instagram aku?” tanya Raya tak percaya.


“Uti, aku mau minum.” Belum sempat menjawab pertanyaan Raya, Renata malah sibuk membantu Acel mengambil minumnya. Raya hanya memperhatikan keduanya, sepertinya keduanya dekat.


“Raya, Rachel ini anak Daren.” Ujar Renata, dan Raya pun sudah mengerti, mata anak itu juga sangat mirip dengan Daren.


Raya tersenyum, laki-laki itu rupanya sudah menikah, “Cantik ya, pasti Mamanya cantik.”


“Ya begitulah,” ucap Renata, “Kamu sekarang masih jadi cabin crew?”


“Masih tante,” jawab Raya. “Tapi hari ini aku lagi libur.”


“Oh iya, kamu main ke rumah dong. Sudah lama banget kan, nanti kita bik—”

__ADS_1


“Ma?” suara itu.


Sudah tujuh tahun Raya tidak mendengarnya. Wajah Raya menoleh ke arah suara supaya dapat melihat wajah yang selama ini mengusik pikirannya.


“Papa!” teriak Rachel lalu berdiri mendekati Daren. Dengan sigap, Daren menggendong anak itu, yang katanya anaknya. Tipe bapak yang sangat sayang anaknya.


Daren berdiri disana dengan ekspresi tidak bisa Raya jelaskan. Wajah itu sangat tampan, sama seperti Sembilan tahun yang lalu, saat pertama kali Raya menyukai Daren. Raya bingung, apakah ia harus tersenyum atau bersikap biasa saja.


“Coba tebak, Mama ketemu siapa?” Renata mengeluarkan suaranya supaya suasana ini mencair. Renata tentu paham, perasaan Daren yang membenci Raya. Bahkan saat Raya meninggalkan anaknya, Daren jadi laki-laki yang pemarah.


“Gak penting juga buat aku.” Raya menundukkan wajahnya, miris sekali ia. Harapan Daren tak membencinya pupus, kenyataannya Daren memang tidak menginginkannya kan?


Renata menepuk lengan Daren agak keras, lalu memarahi Daren dengan suara yang bahkan tidak bisa Raya dengar di tengah keramaian.


“Raya, kamu masih ingat Daren kan?” air mata yang akan mengalir Raya tahan, matanya kembali menatap mata Renata.


Ia tersenyum, “Masih, Tante.” Perhatian Raya teralihkan kepada Daren yang menatapnya tajam.


“Bisa kamu pergi dari sini?” tanya Daren kemudian disenggol Renata.


“Daren!” Renata tak terima dengan ucapan Daren. “Gak boleh ih!”


Raya tersadar, adanya Daren tak menginginkannya. Daren masih terus membencinya. Setelah tujuh tahun lamanya, kenyataan pahit ini membuat Raya menelan salivanya. “Tante, maaf aku harus pergi dulu.”


Raya menyalimi Renata dan bangkit dari kursinya. “Onti, peyuk Acel.” Ucap Rachel yang masih dipelukan Daren.


Daren menurunkan Rachel dan membiarkan anaknya berjalan lalu memeluk Raya yang berjongkok. “Onti, kita main ke rumah Acel yuk?” ajak anak berumur empat tahun itu.


“Besok kalau Onti gak kerja, Onti main ya.” Acel melepas pelukannya.


“Raya?” Tak jauh darinya, Raya melihat Reza yang mendekatinya. Raya segera pamit dan mendekati Reza yang hanya berjarak dua meter darinya. Keduanya langsung menuju bioskop dan meninggalkan Renata, Rachel, dan Daren.


 


***


BERI LIKE KALAU SUKA. 


SHARE KALAU PERLU DIBACA.


TERIMA KASIH ATAS APRESIASINYA. 

__ADS_1


Ily.


__ADS_2