Fly With Me (REVISI)

Fly With Me (REVISI)
Episode 12: PERTANYAAN SEPUTAR PERNIKAHAN


__ADS_3

 


 


FLY WITH ME


BAB 12


PERTANYAAN SEPUTAR PERNIKAHAN


***


***


“Sudah selesai?” tanya Reza ketika perempuan yang ia tunggu sampai di mobilnya. Masih dengan seragam pramugari ditambah sebuah blazer berwarna hitam, Raya tersenyum mendengar Reza.


Sore yang terik dan Reza yang memakai kaca matanya membuat Raya sedikit terpana. Pantas saja, Aila menyukainya. Laki-laki itu tahu caranya supaya ia terlihat sangat tampan.


“Kamu nunggunya lama?” Reza membuka bagasi mobil lalu memasukkan sebuah koper besar milik Raya. “Kebiasaan,”


“Kamu langsung masuk ke dalam aja,” tak lama, keduanya memasuki mobil dan memasang seatbelt masing-masing. “Gimana tadi terbangnya?”


“Kayak biasa, cuma aku lagi nggak mood aja,” ujar Raya. Mobil itu perlahan berjalan keluar dari parkiran dan mulai menyusuri jalanan menuju sebuah apartemen milik Raya.


“Enggak kayak biasanya,” kali ini Raya haya tersenyum, ia tidak berminat menanggapi Reza. “Oh iya, temenin aku kondangan, yuk?”


Raya menoleh, “Kemana?”


“Undangannya ada di belakang,” mendengar intruksi Reza, Raya segera melihat ke belakang. Di kursi belakang, ada sebuah undangan yang tergeletak.


“Aku ambil, ya” Reza mengangguk. Undangan itu di ambil oleh Raya lalu dibuka. “Teman kamu?”


“Iya, lumayan dekat pas kuliah, tapi kurang dekat kalau sekarang” perempuan yang bertanya hanya mengangguk-angguk. “Kamu mau?”


“Malam ini?”


“Iya, tapi kalau kamu capek, nggak usah” mungkin karena Reza sudah dua tahun jadi teman dekat Raya. Dia bahkan tahu banyak soal Raya.


Contohnya seperti sekarang, saat Raya tengah tidak mood, harusnya Reza tidak mengganggunya. Dan ia merasa kalau tawarannya kali ini akan perempuan itu tolak.


“Kamu mau berangkat jam berapa?”


“Jam tujuh malam, mungkin. Tapi kalau kamu nggak bisa, aku akan datang sendiri,” perempuan itu bahkan belum sedikitpun bicara soal keinginannya untuk datang atau tidak. Namun, Reza nampaknya selalu bicara agar tidak memberatkan Raya.


“Yaudah,” laki-laki itu terkejut mendengar ucapan Raya.


“Kamu mau?”

__ADS_1


“Iya, tapi jangan lama-lama, ya.” Reza mengangguk senang.


“Siap, Ibu Pramugari.” Raya terkekeh. Perempuan itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran.


“Za, aku mau tanya sesuatu,” Raya penat. Ia dipusingkan dengan pertanyaan Daren waktu itu. Hanya satu pertanyaan, dan Raya tidak bisa menjawabnya. “Kamu ada rencana menikah?”


Pria itu sontak terkejut dengan pertanyaan itu. Sempat juga Reza menoleh singkat melihat wajah Raya yang tidak berekspresi apapun. “Pasti ada,” jawabnya yakin.


“Aku bingung, Za” Raya menoleh, tapi tetap bersandar. “Ada yang tanya itu ke aku, tapi aku nggak punya jawaban,” tambah Raya.


“Lagi bimbang?” perempuan itu mengangguk. “Kenapa?”


“I don’t know why, Za. Tiba-tiba aja aku beneran nggak bisa jawab,” Raya melipat kedua tangannya di depan dadanya. “Menurut kamu, kalau aku jawabnya nggak mau buru-buru, termasuk nolak atau biasa aja?”


“Emangnya ada yang tanya gitu?” bukannya menjawab pertanyaan Raya, pria itu malah membalasnya dengan sebuah pertanyaan.


“Kamu ingat nggak, waktu kita terakhir kali nonton kamu lihat aku ngobrol sama beberapa orang di restoran,” itu adalah saat pertama kalinya Raya bertemu Daren lagi. “Ada cowok yang setinggi kamu,”


“Cowok itu yang nanya?” Raya mengangguk. “Teman lama kamu atau mantan kamu?”


Helaan nafas milik Raya terdengar, “Cuma teman sih, tapi kita sempat dekat banget. Eh terus tiba-tiba dia punya pacar,” cerita Raya, ia terlihat sedikit kesal saat menceritakan tentang temannya itu.


“Perasaan kamu ke dia, gimana?”


“Entah, aku pikir aku akan merasa senang banget ketemu dia lagi, Za. Tapi, ternyata biasa aja,” Reza memilih menyimak. “Kalau kamu, ada yang lagi kamu incer nggak?”


“Maksudnya, kamu lagi tertarik sama seseorang atau nggak?” helaan nafas Raya terdengar lagi, ini sudah yang kedua kali.


“Ada, tapi dia nggak peka,” balas Reza, tanpa memberitahu Raya siapa yang ia maksud.


“Aku mau tebak,” ucap perempuan itu. “Pramugari Nusantara Air?”


“Iya,”


“Za, kasih inisialnya dong. Kan pramugari Nusantara Air lebih dari seribu orang,” Raya terdengar pasrah.


“Itu baru bisa jawab satu,” timpal Reza. “Aku kasih clue deh,”


“Nah, gitu dong!” Raya kembali bersemangat.


“Dua tahun yang lalu, di Jepang” walaupun sudah mendapat clue yang sangat jelas dari Reza. Raya tetap saja harus menggali memorinya yang agak ia lupakan.


“Ada aku?” anggukan Raya dapatkan. “Oh, aku ingat teman-teman kita waktu ke Jepang.”


“Coba kamu sebutkan,”


“Mba Rita?” nama purser mereka saat itu Raya sebutkan.

__ADS_1


“Bukan, dia sudah punya suami,”


“Gita?” itu nama teman Raya yang seangkatan saat masuk dan saat itu juga terbang ke Jepang.


“Bukan dia, kata kamu dia pacaran sama dokter,”


“Oh iya, lupa. Rani sama Gege?” Reza menggeleng. “Aku lupa sisanya, Za”


“Coba sebutkan lagi, kamu ingat kok” mendengar yang Reza ucapkan, Raya kembali mengingat nama-nama para awak kabin pramugari yang ia ketahui.


“Kamu suka sama Kapten Eko?” kekehan terdengar saat Raya menyebut nama kaptennya dua tahun lalu.


“Yang benar aja, Ra. Aku masih normal,”


“Ya habis aku lupa, Za.” Kembali di ingat-ingat, cuma ia yang tidak namanya sebutkan. “Jangan-jangan, kamu suka aku?”


“Exactly,” Raya menganga mendengar jawaban itu. Pria ini sedang bercanda, ya?


“Dari kapan?” tanya Raya.


“Sejak di Japan,” Raya mengalihkan perhatiannya ke jalanan menuju apartemennya. Ia sengaja membuang tatapannya dari Reza. Dari sudut matanya, Raya dapat melihat kalau Reza meliriknya.


Lampu merah pun menyala, terpaksa mobil yang keduanya naiki harus berhenti. “Kamu lagi nembak aku atau gimana, Za?”


Raya deg-degan. Perempuan itu memang sering digombali oleh banyak penumpang saat ia tengah bertugas. Tapi, yang kali ini berbeda. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Ekspresi laki-laki itu bagaimana?


Tentu saja Reza tertawa keras melihat tingkah Raya yang diluar dugaannya. Perempuan itu tidak marah, dia malah membuang tatapannya ke segala arah.


“Ra,”


“Apa, Za? Kamu mau ajak aku pacaran?” kekehan itu terdengar. “Kamu kenapa ketawa, Za? Aku disini deg-degan gara-gara kamu,”


Reza tersenyum geli melihat Raya yang wajahnya memerah. “Engga, Ra.” Raya menoleh dan bersamaan dengan itu, Reza kembali menjalankan mobilnya yang sempat terhenti.


Selanjutnya, Raya memilih untuk diam saja. Ia malu kalau sampai Reza melihat wajahnya yang sedari tadi terasa panas. Mana mungkin ia menaruh perasaan kepada Reza. Selama ini, keduanya bahkan hanya berteman.


Raya juga tidak bisa sepenuhnya percaya dengan apa yang Reza ucapkan. Laki-laki itu lumayan suka bercanda dengannya. Apalagi masalah seperti ini, dia lumayan sering menggombalinya juga.


Kalau di ingat-ingat, ia sama dengan Daren juga. Tapi, mungkin beda tipe gombalan saja.


“Aku mau hubungan yang serius, Ra. Nggak perlu pacaran, kita bisa langsung menikah,”


***


TERIMA KASIH LIKE & APRESIASINYA.

__ADS_1


__ADS_2