
FLY WITH ME
BAB 6
TENTANG DIA
***
***
“Tadi, kamu kenapa?” tanya Reza yang tengah menyetir. Sudah beberapa jam Reza menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan tiga orang yang membuat wajah Raya murung selama jalan dengannya.
“Gak apa, hanya mood aku lagi down.” Jawaban Raya pun tak bersemangat, tidak seperti Raya yang biasanya. Reza mencoba mengerti, ia kembali sibuk mengemudikan mobilnya menuju mes pramugari yang tak jauh lagi.
“Habis ini mau langsung istirahat?” tanya Reza, ia tak tahan harus diam menunggu Raya memulai percakapan.
“Iya, aku ada jadwal terbang besok siang. Kamu terbang lagi kapan?” tanya Raya yang mengalihkan perhatiannya kepada wajah Reza disebelahnya.
“Lusa, aku mau ke Jepang.” Ungkapnya.
“Wah, enak banget dong. Aku baru ada jadwal ke Jepang minggu depan.” Raya teringat, jaket musim dingin milik Reza masih ada di kamarnya. Pria itu lupa membawanya setelah menemui Raya beberapa hari lalu. “Eh jaket kamu masih di mes aku, mau diambil sekarang?”
“Boleh, sekalian aku ada oleh-oleh dari Semarang, aku beliin buat kamu.” Mata Raya berbinar.
“Serius?” dan dijawab anggukan oleh Reza.
Mobil Raya memasuki parkiran mes pramugari dan pilot yang dicampur menjadi satu gedung dengan banyak kamar. Raya turun dari mobilnya dan menunggu Reza mengambil sebuah totebag besar dengan isi banyak makanan.
“Kalau cuma aku yang makan, gak akan habis.” Ucap Raya ketika memasuki Gedung mes itu.
“Ya bagi-bagi sama temanmu lah, atau kirim ke Aila.” Ucap Reza, namun ia teringat sesuatu. “Aila suruh ambil ke rumahku aja, aku simpan makanan untuk Mama kamu juga.”
Keduanya memasuki lift, dan Raya menyentuh tombol 6, lantai tempat ia tinggal. “Kebiasaan deh, pasti kalau bawa oleh-oleh selalu banyak.”
Ting!!
Raya dan Reza keluar dari lift itu, dan menuju kamar nomor 62 yang tak jauh dari sana. Setelah sampai, Raya berhenti disana dan memandang Reza.
“Tunggu disini ya, aku ambil dulu.” Raya masuk, sementara Reza menunggu di luar kamar. Tak lama, Raya kembali keluar dengan totebag hitam berisi jaket musim dingin milik Reza.
“Nih, kamu langsung pulang aja.” Ucap Raya menyerahkan totebag itu dan bertukar totebag dengan Reza. “Makasih makanannya, langsung istirahat loh. Besok-besok aku gak mau jalan kalau kamu baru landing. Pasti cape banget.”
Reza mengacak-acak rambut Raya, “Iya, bawel banget anak kecil.”
__ADS_1
“Inget, langsung istirahat.” Raya mengingatkan Reza lagi, memberitahu pria itu selayaknya ia bicara dengan anak kecil. Reza yang gemas memeluk Raya yang lebih pendek darinya.
“Iya, Raya. Jangan bawel-bawel, besok kita gak ketemu.” Bisik Reza.
“Aku bisa ingetin kamu lewat telfon.”
“Okey, aku tunggu.”
Raya bingung, “Kenapa ditungguin?”
“Aku lagi bayangin jadi pacar kamu,” Raya mencubit perut Reza dan membuat pria itu melepaskan pelukannya. “Safe flight, Raya. Ingatkan aku istirahat, jangan lupa.”
Sebelum Raya memukulnya, Reza sudah meninggalkan wanita itu menuju lift yang tak jauh dari sana. Begitu pintu lift terbuka, Reza masuk dan di ikuti lambaian tangan dari Raya sebelum pintu menutup. Perempuan itu setia menunggu Reza sampai pintu lift menutup.
Raya masuk ke kamarnya, dan mencari ponselnya. Ada notifikasi pesan dari seseorang, Raya melihatnya. Ternyata dari Reza.
REZA
Besok bilang pada Aila, ada makanan di rumah untuk Ibumu.
Sepertinya laki-laki itu mengirim pesan saat di dalam lift. Raya membalas pesan tersebut.
RAYA
Makanan yang kamu bawakan sudah lumayan banyak, biar aku berikan kepada Aila saja.
Tidak membutuhkan waktu lama, Raya mendapat pesan balasan dari Reza.
REZA
Raya berpikir sejenak, beberapa bulan ini pria itu sudah berani mengunjungi ibunya. Lagipula, ia agak kepo dengan hal yang ingin Reza tanyakan.
RAYA
Bertanya soal apa?
REZA
Secret. Selamat tidur untuk orang cantik.
Raya terduduk di tempat tidurnya dan kembali mengetik sebuah pesan.
RAYA
Aku akan tidur, terima kasih untuk makan malam dan nonton filmnya. Gombalan kamu, Errr nggak pernah berubah.
Raya bangkit dari tempat tidurnya, ia menaruh ponselnya asal. Ia membuka lemari, besok ia akan terbang ke beberapa rute dan menginap di Denpasar untuk dua hari.
Raya mengambil beberapa baju santai, ia kemungkinan akan pergi ke pantai. Tidak lupa ia mengambil kacamata kesukaannya dan memasukkan ke dalam koper. Kamera, charger laptop, serta alat make up.
__ADS_1
Setelah siap, Raya menutup kopernya dan menyiapkan seragamnya. Raya teringat kalau Aila ingin menitip ketika ia ada RON (Remain Over Night)* di Bali.
Setelah semua persiapan beres, Raya mengambil ponselnya. Ada pesan dari Reza, ia membacanya.
REZA
Aku tidak bilang kalau yang cantik itu kamu. Btw, besok mau dijemput?
Raya hanya membaca pesan itu dan membuka roomchat Aila.
RAYA
Aku lusa ada RON di Denpasar, kamu mau sesuatu?Raya melihat jam dinding, sudah jam dua belas malam.
Biasanya Aila masih bangun karena ia terbiasa mengerjakan skripsi tengah malam. Harapan dibalas kesampaian, Raya segera membuka pesan itu.
AILA
Bisa bawakan aku cowo bule Bali?Sudah Raya duga, otak adiknya tidak pernah beres.
RAYA
Tidak guna aku mengirimkan kamu pesan malam-malam.Ponsel itu dimatikan dan ditaruh diatas nakas, sementara Raya menuju tempat tidurnya, membaca do’a dan mulai tertidur.
***
Malam-malam, Raya dan crew yang hari ini bekerja dengannya sampai di sebuah hotel berbintang lima di Denpasar. Hotel ini adalah hotel yang sudah beberapa kali Raya kunjungi, dan memang hotel yang direkomdasikan dari perusahaan tempatnya bekerja.
Hari ini, ia mendapat kamar dengan seorang pramugari junior yang baru bekerja satu tahun. Namanya Winda. Raya sebenarnya tidak pilih-pilih dalam pertemanan. Mau sekamar dengan junior atau senior baginya tak penting.
Toh, kami ini tetap satu tim kan?
“Kak Raya, mau mandi duluan atau aku duluan?” tanya Winda ketika keduanya telah sampai dikamar mereka. “Kamu duluan aja, aku mau kabarin orang dulu.” Setelah itu, Winda menghapus make upnya dan memasuki kamar mandi.
Raya membuka tasnya, ia mencari ponselnya. Mengaktifkan ponsel itu dan mengambil kapas untuk menghapus riasannya yang mulai terasa berat. Banyak notifikasi mulai masuk ke dalam ponselnya dan Raya memilih menghapus riasannya dulu.
Selesai menghapus makeup yang menempel diwajahnya, Raya menganbil jepit kecil yang menahan rambutnya. Rambutnya ikut tergerai setelah semua jepit di lepas, walaupun ada sedikit rambut yang mengeras karena hair spray yang ia gunakan.
Tangannya meraih ponselnya dan membaca pesan-pesan yang masuk. Dari banyaknya pesan yang masuk, Raya terfokus dengan satu DM dari orang yang dikenalnya.
Renatabgskr :**Ra, tante bisa minta nomor ponsel kamu?**
***
LIKE KALAU SUKA
TERIMA KASIH ATAS APRESIASINYA
__ADS_1
ily