Fly With Me (REVISI)

Fly With Me (REVISI)
Episode 37 SANDARAN


__ADS_3

Teman-teman, beri aku semangat update dengan like dan coment. Sebagai bentuk hadiah di tahun baru juga, silimit tihin biri.


 


FLY WITH ME


SANDARAN


    Raya sangat marah, ia bukan marah dengan Daren. Tapi ia marah dengan dirinya sendiri karena begitu butanya mencintai Daren. Setelah ucapan Daren minggu lalu, Raya lebih membenci dirinya saat ini.


    Sudah seminggu ini, Raya berusaha menyibukkan dirinya dengan terbang ke berbagai tempat. Tapi, itu semua tidak ada gunanya. Raya tetap saja tidak bisa mengalihkan pikirannya dari ucapan Daren saat itu.


    Penumpang untuk penerbangan dari Medan-Tangerang, baru saja selesai. Nafas lega keluar dari bibir Raya saat pekerjaannya akhirnya selesai. Ia hanya butuh merapikan beberapa barang, lalu keluar dar pesawat untuk laporan di kantor Angkasa Air yang terdapat di bandara ini.


    “Mbak Raya, kita tinggal turun,” ucap seorang pramugari yang merupakan rekan kerja Raya pada penerbangan hari ini.

__ADS_1


    “Loh, bukannya kita belum beres-beres?” tanya Raya yang masih bingung karena semua rekannya sekarang sibuk mengambil barang mereka.


    “Kita sudah beres-beres daritadi, Mbak lagi bengong tadi, aku nggak berani nyentuh Mbak Raya” jelas perempuan dengan nametag ‘Rita’ ini.


Ya ampun, sampe bengong gini…


    Raya memilih bangkit dan membereskan barangnya untuk dibawa turun dari pesawat. Tidak biasanya ia seperti ini ketika punya masalah. Daren ternyata punya peran penting dalam membuat hancur mood-nya saat ini.


    Satu jam berlalu dengan cepat, Raya akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Semua rekannya sudah berpisah menuju tempat tinggal mereka masing-masing. Namun, tidak dengan Raya yang masih duduk menunggu taksi yang sebenarnya sudak siap untuk ditumpakki.


    “Pasti lagi ada masalah,” suara itu. Laki-laki yang selalu datang kepada Raya, akhirnya datang lagi. Raya mengedarkan pandangannya mencari arah suara yang ternyata dari Reza.


    “Kamu tahu banyak tentang aku, Za.” Tangan Raya menyentuh sisi kursi yang kosong. Membiarkan Reza duduk disana menemaninya. “Kok kamu tahu, aku disini?”


    “Entah, mungkin karena kita jodoh,” Raya hanya tersenyum, rasanya gombalan itu semakin hambar untuk dirinya. Tetapi, lumayan menghibur untuk dia yang tengah tak berjiwa. “Okey, kali ini kamu butuh sandaran?”

__ADS_1


    Raya hanya diam, dia tidak butuh sebuah sandaran. Lebih dari itu, ia butuh seorang teman. Sedikitpun dia tidak membicarakan ini dengan Aila. Adiknya itu tengah sibuk dengan pekerjaan barunya, menjadi youtuber yang bertemakan jalan-jalan.


    “Kamu baik-baik aja?” Reza bertanya pelan. Tidak mau membuat Raya terlalu sedih. Reza mengelus punggung Raya yang terlihat tegar diluar. “Maaf, aku beberapa hari ini ninggalin kamu,”


    Raya diam saja saat Reza bicara, tidak mau menjawab karena yang ia butuhkan hanyalah teman. Baru beberapa minggu Reza menjauhinya, tapi rasa hidup tanpa teman memang seberat ini. Raya tidak mau kehilangan Reza sebagai temannya.


    “Kamu habis terbang?” Laki-laki yang baru saja duduk disebelah Raya hanya mengangguk. “Mau temani aku sebentar, tidak?”


    “Aku temani kamu,” ucap Reza. Ada perasaan nyaman kala Reza bersikap sangat dewasa di depannya. Pria itu juga sangat bijak jika menyangkut masalah hati. Seperti sekarang, Raya tahu jika Reza sangat menyukainya. Tapi pria itu tetap santai saat tahu jika Raya menyukai Daren --Teman lamanya--.


    “Za, ayo pulang,” pinta Raya yang membuat Reza mengerutkan keningnya.


    “Katanya mau di temenin,” ucap pria itu.


    “Temenin di apartemen, malu kalo nangisnya disini,” Raya bangun dan mengambil kopernya yang ada disebelahnya. Tanpa membuang waktu, Reza ikut bangkit dan akhirnya menuju parkiran mengantar Raya ke apartemen perempuan itu.

__ADS_1


__ADS_2