Fly With Me (REVISI)

Fly With Me (REVISI)
Episode 24


__ADS_3

Dua minggu kemudian….


“Ray, mau temenin jalan ngga?” ajak Reza yang ada dihadapan Raya yang terlihat tampan dengan kaos polosnya, sepatu ketsnya menarik perhatian Raya. Sepertinya sepatu baru.


“Sekarang?” Raya melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. “Lo lagi mau minum-minum?” tanya Raya sekali lagi.


Dahi Reza berkerut, “Emang ada tempat minum yang buka jam segini?”


“Lah terus, lo mau kemana?” Raya masuk ke kamar, mengambil hoodie kesayangannya berwarna hitam. Biasanya, jika pergi jam segini, mereka baru akan pulang dini hari. Akan sangat dingin jika Raya tak membawa baju penghangat.


“Kita ke pantai yuk?” dari dalam kamarnya, Raya dapat mendengar suara Reza dan ajakan pria itu yang aneh.


Kaki Raya membawa tubuhnya keluar dari kamarnya dan melihat Reza yang sudah duduk di kursi meja makan di dapur sembari memakan kerikil—eh bukan. Paansi ini gua garing banget.


Oke, kita cerita lagi.


Raya berjalan menuju rak sepatunya dan mengambil sepatu ketsnya. Sepatu putih dengan motif ‘ceklis’ itu Raya pakai di kakinya yang bersih. Reza hanya duduk di kursi meja makan tersebut sembari memperhatikan Raya yang tengah memakai sepatunya.


“Ke pantai malem-malem mau ngapain emang? Bantuin orang mancing?” cibir Raya. Mata Raya menatap lurus kepada Reza, “Jadi nggak, cangak?”

__ADS_1


“Jadi, kucrut.” Reza bangkit dari tempatnya dan keluar dari apartemen Raya, tempat yang mulai disukai Reza. “Besok terbang?” tanya Reza saat Raya selesai mengunci pintu.


“Iya, tapi dapet sore.” Ujar Raya, tangannya menyentuh tombol lift, keduanya hendak menuju lobby.


***


Dua jam perjalanan, tak terasa bagi Raya dan Reza. Keduanya sibuk membicarakan banyak hal sampai akhirnya mereka sampai di pantai. Suasana pantai tak sepi, banyak mobil yang terparkir di pinggir pantai.


Banyak orang yang sebaya dengan mereka tengah makan di beberapa restauran pinggir pantai. Sepertinya pantai ini adalah pantai pribadi yang di desain untuk banyak acara malam. Pinggir pantai yang biasanya gelap gulita tak bercahaya, saat ini sangat terang dan berisik. Banyak orang yang tengah berkumpul di pinggir pantai  untuk sekedar bernyanyi.


“Ini pantai?” tanya Raya saat ia turun dari mobil yang dikendarai Reza. Di tangan Raya, sudah terdapat satu plastik berisi makanan dan minuman yang siap mereka makan sampai dini hari. Pria yang duduk disebelahnya di mobil itu menghampiri Raya.


“Kenapa?” Reza memegang tangan Raya, mencegah perempuan itu mendekati tempat itu.


“Tempat kita bukan disana, aku mau tunjukkin kamu tempatnya.” Reza menggenggam tangan itu dan membawanya ke sebuah tempat melewati banyak orang yang sedang bernyanyi bersama.


“Emang mereka besok nggak kerja ya? Kok masih pada nongkrong sih, kan besok takut kecapekan.”


“Emangnya, hari ini hari apa?” tanya Reza kemudian.

__ADS_1


“Emang hari apa?” Raya seperti orang linglung yang tengah dituntun orang tuanya.


Reza mengerutkan dahinya, “Loh, kok malah tanya balik?”


“Lah, aku kan nggak tahu.” Ujar Raya.


“Aku kan juga nggak tahu,” Reza berhenti disana, di pinggir pantai yang agak jauh dari berisiknya orang-orang dan disini hanya diisi oleh beberapa pasangan yang memang tengah berkencan.


Raya menengok sekeliling, rasanya ia salah tempat. Tempat ini terang karena terdapat cahaya yang lumayan terang, namun rasanya agak kurang nyaman bagi Raya.


“Disini?” tanya Raya memastikan, dan anggukan dari Reza membuat Raya langsung terduduk di tempatnya berdiri. Malam-malam di pantai adalah hal baru untuk Raya, biasanya ia akan dirumah saja saat Reza tak mengajaknya pergi kemanapun.


Walaupun pengikut Instagram Raya termasuk banyak, Raya bukanlah orang yang senang pergi kemanapun. Apalagi kesibukan pekerjaannya, waktu untuk berpergian lebih baik ia habiskan untuk istirahat saja dirumah.


Raya melirik Reza yang sedari tadi memandangnya intens. Tatapan yang tak pernah berubah, sejak pertama kali mereka bertemu. Tanpa Raya sadari, keduanya menjadi dekat dan sering pergi bersama.


“Ray, kamu mau tau sesuatu nggak?” mata keduanya bertemu, tatapan mereka bertemu di tengah terangnya cahaya lampu di pinggir pantai. Rambut Raya yang tak dikuncir berterbangan karena angin pantai.


Dahi Raya berkerut, “tentang apa?” tanyanya, penasaran dengan apa yang Reza katakan.

__ADS_1


***


__ADS_2