
Kemarin kenapa pulang duluan?
Reza membaca pesan yang ia ketik dan barusaja ia kirimkan kepada Raya. Tubuhnya ia sandarkan pada sebuah sofa yang didudukinya.
Pandangannya kini ia sibukkan dengan memperhatikan banyak crew cabin yang tengah menunggu waktu untuk jadwal terbang mereka. Sama seperti Reza, yang hari ini akan terbang menuju Makassar.
Ponsel Reza bergetar, sebuah pesan balasan dari Raya. Senyumnya muncul, tangannya segera menyentuh notifikasi pesan yang sudah menunggu untuk di sentuh.
Maaf ya, aku kemarin ngantuk. Oh iya, kamu tau rumah Sie?
Jari Reza gemas ingin membalas pesan perempuan itu. Sibuk memikirkan balasan untuk Raya, membuat Reza tak sadar ada seseorang yang duduk disebelahnya.
Tau, kenapa?
“Balas pesan harus sambil senyum-senyum, Za?” ucap seseorang yang mangagetkan Reza. Wajah Reza memerah dan mulai tersenyum salah tingkah. “Lagi balas pesan siapa sih? Pacar kamu?” tanya Kapten Riko yang akan terbang bersamanya hari ini.
“Engga, Capt. Cuma sama teman kok.” Balas Reza yang masih terlihat malu-malu karena digoda Kapten Riko.
“Za, teman kamu yang cantik itu benar pacaran sama bos?” tanya Kapten Riko yang sekarang sibuk memainkan ponselnya.
Reza mengerutkan keningnya, “teman yang mana, capt?” tanya Reza, ia tidak tahu teman mana yang Kapten Riko maksud.
“Itu, si Raya. Mba pramugari yang pernah digosipin dekat sama kamu. Ternyata si Raya sama Pak Daren pacaran, saya kira sama kamu.”ucap Kapten Riko yang kembali memainkan ponselnya. Reza diam sejenak, mencoba mencerna ucapan Kapten Riko.
“Raya pacaran sama Daren, capt?” tanya Reza kembali memastikan.
“Kamu memangnya belum tahu? Padahal berita mereka mau menikah sudah tersebar kok, sampai semua orang ngomongin tentang hal itu.” Kapten Riko melihat jam di ponselnya, sekarang waktunya pengarahan sebelum penerbangan mereka menuju Makassar.
“Capt, Raya beneran mau menikah?” tanya Reza yang seperti seorang yang gagal fokus. Mempertanyakan hal yang harusnya ia tanyakan sendiri.
__ADS_1
“Coba kamu tanya Raya, siapa tau dia lupa kasih tau kamu.” Ucap Kapten Riko sebelum pergi meninggalkan Reza yang masih sibuk dengan pikirannya.
***
Flashback
Langit sudah semakin mendung, tanda-tanda hujan akan turun. Di tambah jam tangannya sudah menunjukkan pukul lima sore, sudah waktunya pulang untuknya. Namun, harapannya untuk pulang itu harus ia tahan.
Saat ini, tidak ada seorang pun tukang ojek yang mangkal di depan sekolahnya, mungkin karena sebentar lagi akan hujan. Raya tak tahu menau tentang hal itu. Di pikirannya, ia hanya berpikir bagaimana caranya agar cepat sampai ke rumah.
“Neng, gak pulang?” tanya seorang bapak yang umurnya sama sekitak lima puluhan, Raya mengenal bapak itu, ia
seorang penjaga sekolah.
“Belum, Pak. Gak ada tukang ojek." Ucap Raya yang masih duduk di sebuah kursi yang berada di pos satpam.
“Kalau udah sore, mamang ojeknya sudah pada balik neng. Emangnya neng ada apa kok pulangnya sore banget?” sambil menikmati kopi hitam yang aromanya tercium, Bapak satpam itu menemari Raya yang masih menunggu ojek, harapnya.
“Neng, saya ke dalem sekolah dulu ya. Hati-hati neng nanti pulangnya.” Bapak yang belum Raya kenal itu pergi meninggalkannya, ia masuk ke dalam sekolah yang semakin gelap. Sepertinya bapak itu akan mengecek keadaan sekolah, entahlah Raya tak mau tau.
Dari jauh Raya mendengar suara motor seseorang, entah tidak tahu siapa. Sejenak Raya berpikir, tadi hanya Raya dan teman-temannya yang terakhir ada disekolah. Lalu itu motor siapa?
Suara motor itu semakin keras masuk ke telinganya, menyeruak layaknya harapan. Siapapun pemiliknya, Raya tidak peduli. Muncul sosok yang membuat Raya penasaran dalam beberapa saat. Laki-laki itu, yang tidak Raya kenali, dia membawa motor besarnya yang berisik itu.
Gerimis turun, Raya dapat mencium bau tanah yang terkena air hujan. Rasanya menenangkan, sesaat ia lupa dengan masalahnya. Perasaan Raya tak karuan, sesekali ia melirik awan yang tak berubah warna.
Raya tidak bisa pulang.
Di motornya masih ada pria itu yang akan melewati pos satpam, Raya segera bangkit dan berlari memasuki hujan yang semakin deras. Tangannya ia bentangkan, pria yang Raya tak ketahui itu harapannya. Saking takutnya, Raya menutup matanya dan menunduk, intinya hari ini Raya harus pulang!
__ADS_1
Nyiiiiittt
Decitan rem itu ikut memberhentikan motor yang dikendarai oleh orang asing tersebut. Setelah memberanikan diri untuk membuka mata, Raya akhirnya tau siapa pemilik motor itu. Helm full face yang awalnya digunakan, sekarang sudah dilepaskan dan membuat kepala pria itu basah terkena hujan.
“Daren?” pria itu ternyata teman sebangkunya.
“Bodoh, lo nyari mati?” sarkas Daren.
“Kok lo gak balik?” tanya Raya yang sekarang melangkah mendekatkan dirinya hingga berada tepat di sebelah cowok itu.
“Lo sendiri?” tanya Daren balik, tanpa menjawab.
“Gue mau balik, tapi gak ada ojek.” Ucap Raya bicara jujur.
“Terus lo hadang gua gitu buat numpang?” tanya sinis Daren to the point.
Raya mengangguk semangat, “boleh kan?”
“Gak.” Daren memakai kembali helmnya. Raya memegang kedua bahu Daren, “tahan ya.”
Tubuh Raya menaiki motor Daren dengan pelan, “lo ngapain?”
“Udah sore, kita pulang yuk.”
“Turun.” Titah Daren yang tidak Raya dengarkan.
“Gak boleh biarin cewe pulang malem sendirian, Daren. Ayo anterin gue ke pangkalan ojek.” Tepuk Raya di bahu Daren.
“Dasar cewek gila.” Daren menyalakan motornya dan mulai menjalankannya keluar dari sekolahnya, SMA Citra Harapan.
__ADS_1
***