Fly With Me (REVISI)

Fly With Me (REVISI)
Episode 26


__ADS_3

“tentang apa?” Reza berjongkok disebelahnya lalu kemudian duduk dengan bersila.


“Bukain makanannya dulu.” Titah Reza yang membuat Raya mengerucutkan bibirnya dan mulai membuka sebuah plastik berisi makanan—kata Reza. Memang benar, isinya makanan dan minuman, Raya mengambil sebuah snack dan membukanya untuk Reza.


Raya biasanya tak akan mau melakukan ini, semua dia lakukan hanya karena Raya kepo dengan apa yang Reza katakan. “Cepetan, mau ngomong apaan?”


Suasana pantai semakin malam semakin dingin, Raya ikut merasakan walaupun ia sudah memakai hoodie miliknya. Wajah Raya berkerut dan menatap Reza yang hanya berkaos tipis duduk di pinggir pantai, gila kali orang itu.


“Emang nggak dingin?” tanya Raya karena baru sadar melihat Reza yang tak memakai jaket atau hoodie yang gunanya untuk menghangatkan tubuhnya.


“Ini kamu lagi berusaha perhatian?” tangan Raya menjitak kepala Reza yang langsung mengeluh kesakitan.


“Perhatian apaan sih? Udah punya Aila jangan suka modus, kucrut” omel Raya.


“Itu yang mau aku omongin,” ucap Reza tiba-tiba. Raya mengerutkan dahinya memberikan kode menanyakan maksud ucapan dari Reza barusan. “Aku nggak ada apa-apa sama Aila, perasaan suka pun engga ada.” Jelasnya.


“Loh, katanya suka.” Protes Raya kemudian.


“Cewek yang aku suka, bukan dia.” Reza memandang Raya, perempuan keras kepala yang dicintainya. Sepertinya berlebihan kalau bilang mencintainya, Reza belum berani mengakui karena keduanya belum punya hubungan apapun. Lebih baik menyukai—kata yang aman untuk menjelaskan situasi saat ini.


“Ya terus? Aku?” Raya terkekeh, “Jangan bilang kamu suka aku ya.”


“Loh, kenapa?” Reza mencari tahu alasan yang membuat Raya bicara seperti itu. “Karena mau menikah sama Daren?”

__ADS_1


Raya terkejut bukan main saat Reza menyebut nama Daren, laki-laki itu. Berarti, selama ini Reza sudah tahu banyak soal apa saja yang digosipkan teman-teman mereka. Raya menengok dan menatap Reza lurus, berusaha menatap matanya.


“Kamu tahu semua?” tanya Raya yang suaranya terdengar khawatir.


“Tidak kok, tapi banyak yang bertanya padaku. Kata mereka, Reza, emang—” saat Reza tengah menjelaskan tentang reaksi banyak temannya setelah mendengar berita dua minggu lalu itu, Raya menyelanya dan menolak mendengarkannya.


“Stop, aku capek dengar hal itu.” Tatapan Raya berubah sendu, “Emang aku sesalah apa sih, Za? Aku sama sekali enggak menggoda Daren. Dia aja yang senang ganggu aku. Tapi, gara-gara itu, aku susah fokus saat kerja, Za. Banyak orang jauhin aku, aku pikir kamu juga jauhin aku.”


“Maksud kamu?”


“Aku pikir, kamu selama dua minggu ini jauhin aku juga. Tapi, terserah juga sih. Aku kan nggak bakal peduli.” Sikap Raya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Awalnya ia marah, namun ucapan terakhirnya membuat ia terlihat seperti perempuan yang apatis.


“Nggak usah sok kuat.” Reza menyentuh rambut Raya yang dikuncir satu dan membuat rambut itu berantakan. “Tapi, emangnya mau beneran menikah?” tanya Reza yang terdengar seperti meminta penjelasan kepada Raya.


“Kalo ditanya, mau nggak menikah sama aku? Jawaban kamu?”


“Enggak mau.” Ujar Raya.


“Kok enggak mau?” tanya Reza penasaran. Dalam pikiran Reza ia bicara, cewek aneh.


“Kamu tukang modus, sama kayak Daren.” kata-kata Raya tidak benar, sejak kapan Reza modus dengan cewek lain. Orang selama ini yang dia sukai cuma Raya.


“Kapan aku modus sama cewek lain?”

__ADS_1


“Sekarang, modus sama aku. Kamu mah bercandanya ke menikah-menikah, nggak semua orang senang bercanda kayak gitu, Reza.” Raya menjelaskan yang menurutnya tidak harus dilakukan Reza kepada temannya.


“Tapi kalo aku serius?” tanya Reza lagi. Sepertinya, Reza sekarang senang sekali membuat Raya kesal dengan pertanyaan pria itu.


“Engga mau juga.”


“Kali ini karena apa?”


“Kalau dijelasin, bisa sampai pagi.”


“Yaudah, kamu bicara, aku tungguin sampai pagi.” Ucapan Reza lagi-lagi membuat Raya menjadi orang yang—tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


“Harus banget aku jelasin?” Raya memalingkan wajahnya melihat pantai yang luas namun terlihat gelap. Matanya tidak ingin melihat Reza yang ada disebelahnya. Dinginnya angin pantai menusuk, Raya berharap ia menemukan api unggun atau semacamnya disini.


Apa ini yang disebut kencandi pinggir pantai? Gila lo, Ray, batin Raya bicara.


“Ray…” panggil Reza yang disebelahnya.


“Hmm…” Raya memandang pria itu yang masih memandangnya dengan ekspresi yang tidak dapat Raya artikan. Raya mengerutkan dahinya, kenapa?


“Menikah sama aku yuk?”


***

__ADS_1


__ADS_2