
“Ada Raya?”
Tampan. Kaos santai serta celana pendek itu terlihat sangat pas dengan tubuh Daren yang memang atletis. Semua perempuan pasti akan memuji Daren, bahkan tak malu mengajaknya berkenalan. Itu yang Daren tak suka.
Kemarin, Daren sudah bertanya kepada Sie—adiknya. Menanyakan apa yang harus dia bawa agar membuat gebetannya luluh. Jawaban Sie adalah martabak. Aneh memang, Daren ini kan nggak mahir membuat perempuan luluh. Mana tau dia soal apapun yang disukai perempuan.
Daren tersenyum saat melihat Aila yang keluar dengan wajah amburadul dan kacamata yang ikut bertengger di hidungnya. Nampaknya Aila juga cuek dengan penampilannya begitu tau Daren yang ada di hadapannya.
“Bang Daren telat.” Ujar Aila. Mata perempuan itu melihat ke arah tentengan yang dibawa Daren, sebuah plastik yang dari luar tercium aroma martabak. “Masuk dulu atuh, Bang. Masa martabaknya mau dibawa pulang lagi.”
“Nih, buat lo.” Daren menyerahkan martabak yang dibawanya itu kepada adik Raya. “Kakak lo kemana?”
Semangat sekali Aila mengambil bungkusan itu dan sedikit membukanya supaya tercium aroma martabak yang masih ada di dalam kotaknya. “Jalan, sama Bang Reza.”
“Reza?” ekspresi Aila berubah, wajahnya kaku karena keceplosan berbicara tentang rencana Reza yang akan melamar Raya malam ini. “Dia pergi kemana?” tanya Daren lagi.
“Aila nggak tau kalau itu Bang, mereka nggak bilang.” Kalau hari ini gagal, Aila yakin Daren dan Reza akan bertengkar. Okey, masalah baru untuk Aila.
“Lo masuk gih,” nadanya terdengar datar namun sedikit memerintah.
“Bang Daren mau balik?”
__ADS_1
“Nggak, mau cari Raya.”
***
“Harus aku jawab sekarang Za?” tubuh Raya mendadak kaku usai mendengar lamaran Reza yang terdengar mendadak untuknya. Raya kira, selama ini Reza hanya menganggapnya teman biasa.
Tetapi, dibalik itu semua, tidak sesederhana itu.
Dering ponsel dari seseorang membuat Raya mengalihkan perhatiannya dan mengambil ponselnya yang berada di dalam saku hoodie miliknya. “Bentar, ada telpon.”
Daren Ganteng
Tanpa bangkit dari tempatnya, Raya mengangkat panggilan tersebut. Terakhir kali, panggilan dari Daren ternyata cuma kesalahan pencet dari Rachel, siapa tau kali ini sama.
“Kamu dimana?” suara berat milik Daren sukses membuat dahi Raya menyatu, ini pasti Rachel.
“Oh, Rachel nyariin aku?”
“Aku yang nyariin kamu.” Wajah Raya tetap santai, paling-paling itu cuma modus Daren doang. Dia kan tukang modus.
“Tolong bilangin Rachel ya, besok aku nggak bisa jemput dia disekolah.” Terdengar tak mempedulikan ucapan Daren yang terakhir, Raya malah membalas dengan hal yang tidak ingin Daren dengar.
__ADS_1
“Kamu dimana?”
“Aku lagi pergi sama Reza, kenapa?”
Reza tersenyum, dia punya cara yang bisa membuatnya selangkah lebih dari Daren. Setelah beberapa kali memikirkan cara ini, Reza akhirnya memilih nekat dengan mengatakannya. “Lamaran aku hari ini kamu jawab secepatnya ya, Ray. Aku tunggu.”
Raya mengalihkan pandangannya dan melihat Reza yang kini bangkit meninggalkannya entah pergi kemana. “Kamu masih dengar aku kan Ray?” suara Daren kembali terdengar di telinga Raya.
“Apa Daren?” tanya Raya jengah mendengar Daren yang tak jelas saat menelponnya.
“Pulang sekarang.” Titah Daren.
“Kamu nggak berhak menyuruh aku Daren, kecuali soal pekerjaan.” Sanggah Raya.
“Aku kesana sekarang.”
“Kamu nggak akan tau tempatnya.” Ujar Raya.
“Aku bakal cari tahu tempatnya.” Raya hanya diam, tidak berminat membalas apa yang Daren katakan. Sekaligus, dia tak mengerti dengan alasan kemarahan Daren saat ini, pria itu sulit di tebak. “Ray, jangan pergi sama laki-laki lain.”
Ada perasaan aneh saat mendengar Daren yang tak seperti biasanya, Raya perlu tahu alasan yang membuat Daren bicara seperti itu. “Kenapa?”
__ADS_1
***
Pada kangen aku nggak sih kalian ini? Pokoknya aku ngambek karena nggak ada yang kangen!!