
Balik ke episode 32 saat Daren di bawa ke rumah sakit.
Pria tampan itu terbaring diatas sebuah ranjang rumah sakit. Daren dengan wajah pucatnya yang masih belum berubah terlihat begitu kelelahan. Beberapa kali Raya memegang dahi laki-laki tampan yang dicintainya, masih tetap panas.
Pintu kamar Daren terbuka, lalu muncul Sella yang sedari tadi membantunya. Sedangkan Aila yang tadi sempat ikut ke rumah sakit, kini sudah hilang entah kemana. Penyesalan tiba-tiba datang kepada Raya karena ia terbakar emosi mendengar perkataan Aila.
Tetapi Aila benar. Dia tidak bisa memilih dua orang itu sekaligus. Raya tidak bisa memilih Reza, untuk saat ini tidak. Hati Raya sepenuhnya masih milik laki-laki yang terbaring sakit di hadapannya ini.
Namun, mengingat umur Raya yang sudah matang, sepertinya Raya sudah pantas untuk menikah. Jika memilih Daren, Raya tidak akan tahu, sampai kapan ia akan terjebak diantara ketidakpastian hubungan bersama Daren—sahabatnya.
Mengingat ucapan Daren barusan, tentu ada perasaan senang saat mendengar pria itu ternyata menyayanginya. Namun, Raya harus ingat. Pria itu setengah sadar dengan ucapannya. Bisa saja, itu hanya ilusi yang Daren miliki. Intinya Raya tidak mau menggantungkan perasaannya hanya kepada Daren.
Ting!
Smartphone milik Raya bergetar pertanda ada sebuah pesan masuk. Dengan buru-buru tangan Raya menyentuh ponselnya dan melihat si pengirim pesan tersebut.
Mama
Tangan Raya bergerak cepat menyentuh isi pesan tersebut, sepertinya lumayan penting. Kalau diingat-ingat, sudah lama sekali Raya tidak berkirim pesan dengan Mamanya. Aila juga tidak pernah bercerita lagi tentang Mama.
Ray, mama dirumah nih. Kamu kapan pulangnya? Daren udah siuman?
Pesan singkat dari Gina membuat Raya mengambil tas slempang miliknya. Sella yang sedari tadi memperhatikan Raya merasa bingung karena Raya jadi sedikit terburu-buru. Perempuan yang dekat dengan Daren itu berjalan mendekati Sella yang duduk di sofa kecil.
“Sel, aku pulang duluan ya. Mama aku balik,” usai pamit kepada Sella, Raya bergegas meninggalkan Sella tanpa mendengar balasan dari perempuan itu.
Kemarin, Sella beru saja mendengar kabar terkait hubungan Raya dan Reza yang katanya akan menjadi hubungan yang serius. Namun, entah benar atau hanya kabar burung, rasanya senang menjadi Raya yang disayangi dua orang sama-sama dekat dengan Raya.
__ADS_1
Lalu, Sella?
Perempuan itu hanya bisa menyukai satu pria yang sama sekali tidak menyukainya. Beberapa kali Sella harus menyesal karena mengiyakan perkataan Papanya yang senang bermain bisnis kepada banyak orang. Dan bersama Fero adalah salah satunya.
Di sisi lain, Raya memasuki apartemen yang sudah beberapa bulan yang lalu ia tempati. Dari luar, Raya dapat mendengar suara perbincangan dua orang yang terdengar hangat. Dengan sopan, Raya mendekati dua orang tersebut yang merupakan Aila dan Gina—mamanya.
“Ma, dijemput Aila?” sapa Raya yang langsung duduk setelah salim dengan mamanya.
“Iya nih, maaf ya Aila jadi nggak bisa pulang bareng kamu.” Ucap Gina yang merasa sedikit bersalah karena sudah minta dijemput oleh salah satu anaknya.
“Ma, aku ke dalam ya. Masih ada yang harus aku kerjain.” Aila bangkit dari sofa yang didudukinya dan beranjak masuk kedalam kamarnya. Raya hanya bisa memandang adiknya yang beranjak meninggalkan Gina setelah datangnya Raya, sepertinya Aila masih marah dengannya.
“Kamu kok tumben nggak terbang, Ray?” tanya Gina.
“Engga Ma, aku lagi ambil cuti satu minggu ini.” Ujar Raya.
“Engga, Ma. Paling cuma mau main sama Rachel,”
“Rachel?” nama itu baru pertama kali Gina dengar, sepertinya teman baru Raya, biasanya Raya hanya menyebut Reza disetiap ceritanya.
“Iya, anaknya Daren.”
“Anak? Daren sudah menikah?”
“Ma, Raya bisa jelasin ka—” terlambat, Gina sudah tidak senang lagi mendengar cerita tentang Daren. Tidak seperti sembilan tahun lalu, saat pertama kali bertemu Daren.
“Ray, ada yang mau mama omongin.” Ujar Gina yang terlihat mulai membuka pembicaraan yang akan terdengar serius.
__ADS_1
“Iya ma, ada apa?”
“Apa benar, Reza melamar kamu?” pertanyaan yang diajukan Gina mendapat jawaban anggukan dari Raya.
“Iya, Ma.” Ucapnya. “Tapi Raya nggak bisa, Ma.”
Tangan Gina menyentuh tangan Raya yang menganggur di atas sofa, “Bilang Mama, apa yang bikin kamu nggak yakin?”
Awalnya, Raya ragu mengucapkan semuanya kepada Gina. Namun, ia terus memberanikan dirinya. “Aku sayang Daren, Ma.”
Gina tersenyum, sudah ia duga. Ternyata anak pertamanya ini sudah menyukai orang lain, yang tidak tahu memiliki perasaan yang sama atau tidak. Rambut Raya dielus pelan oleh Mamanya, “Kak, lamaran orang jangan ditolak ya. Mama berharap kamu sama Reza aja, dia sayang sama kamu, Kak.”
“Tapi, Ma—”
“Kak, Mama nggak mau kamu sakit lagi.” ucapan Mamanya mungkin akan terdengar peduli saat Raya sedang tidak
jatuh cinta.
“Aku nggak mau nyakitin Reza, Ma. Kalau aku terima Reza, sama aja aku—” Raya terus saja memperjuangkan perasaannya yang masih harus ia perjuangkan. Namun, belum selesai semua ucapannya, Gina kembali membuat Raya terdiam.
“Takut nyakitin Reza?” lagi-lagi Mamanya bisa menebak semua yang akan Raya katakan. Hanya anggukan yang bisa Raya ungkapkan, rasanya ia tidak bisa jadi orang yang terlalu banyak bicara saat Mamanya seperti ini. “Kak, Daren itu cukup jadi masa lalu aja ya?”
***
Nampak-nampaknya Team #Rarez pada seneng nih, cung coba yang team #RaRez
Oh iya, kira-kira selain masalah Rachel, apa lagi yang membuat kalian bertanya-tanya. Cusss coment dibawah, ditunggu cinta-cintakuuu....
__ADS_1
Semangat selalu di senin yang indah, besok upacara ingat.