Fly With Me (REVISI)

Fly With Me (REVISI)
Episode 11 : KUNJUNGAN APARTEMEN BARU


__ADS_3

 


 


FLY WITH ME


BAB 11


KUNJUNGAN APARTEMEN BARU


***


***


Ketukan pintu serta bunyi bel yang terdengar, membuat Raya bangkit dari tempat tidurnya. Ia terpaksa keluar dari kamarnya karena adiknya baru saja izin untuk pergi main setengah jam yang lalu.


“Siapa?” tanpa menunggu si tamu menjawab, Raya memutar knop pintu dan berdiri tanpa suara.


Seorang laki-laki yang tengah membawa sebaket bunga mawar tersenyum sumringah. Dengan setelan kotak-kotak dan celana jeans semata kaki, pria itu jadi dua kali lipat tampannya.


“Kamu kok tahu,” Raya masih tak percaya, malam-malam seperti ini Daren ternyata berkunjung ke unit apartemennya.


Laki-laki itu menyerahkan baket bunga itu kepada Raya yang masih terkejut tidak percaya. Daren bahkan tidak menghubunginya untuk menanyakan ia pindah atau sebagainya. Dan kenapa pria ini tahu?


“Buat kamu,” pria itu mengingatkan Raya jikalau ia memberikan sebaket bunga untuk perempuan itu. Dengan senyum yang Daren sukai, Raya mengembil bunga tersebut.


“Thanks,” ucap perempuan itu. Daren merasa takjub sekali. Perempuan yang lima tahun lalu memenangkan hatinya, sekarang lagi-lagi terulang.


Di hadapan Daren, Raya tampil cantik dengan wajahnya yang polos serta rambut hitam sehatnya yang sengaja digerai. Mata indah Raya juga tidak berubah. Hanya wajahnya yang terlihat semakin dewasa. Eh, jangan lupa dengan tubuhnya yang main terawat.


Daren juga laki-laki.


“Aku nggak diajak masuk?” Raya sontak mundur dua langkah dan memberikan Daren jalan untuk masuk.


“Kamu kok tiba-tiba tau unit aku, sih?” Raya mendekati sofa dan menaruh baket bunga tersebut. Ia melihat Daren yang masih melepas sepatunya.

__ADS_1


Sembari melepas sepatunya, Daren melihat Raya berjalan menuju dapurnya. Karena Raya berada di dapur, Daren akhirnya menuju dapur yang bisa dilihat dari tempatnya berdiri.


“Eh, kamu duduk di sofa aja, aku mau bikin minum.” Larang Raya. Tanpa mengindahkan ucapan Raya, Daren malah duduk di sebuah kursi makan yang ada disana.


“Aila dimana?”


Raya yang tengah sibuk membuat minuman lalu menoleh singkat. “Entah, tadi bilangnya mau main,” perempuan itu mengambil dua gelas bersih yang sudah tertata. “Habis pergi, ya?”


“Iya, sekalian mampir,”


“Harusnya jangan datang,” Raya membawa seteko minuman dan menaruhnya di sebelah baket bunga dari Daren. Laki-laki itu tentu saja mengikuti Raya yang kemudian duduk di sofa.


“Aku nggak boleh datang?” perempuan itu menoleh, menatap laki-laki yang lima tahun ini dirindukannya. Sementara laki-laki itu ikut menatap Raya, ingin mendengar penjelasan Raya.


Raya tersenyum geli, mengacak-acak rambut Daren dan terkekeh. “Aku mau kerja,” perempuan itu bangkit dari tempatnya. “Kamu tunggu dulu, ya. Aku mau make up, sebentar”


Seperti yang Raya katakan, Daren akhirnya memilih menunggu Raya sembari mengganti beberapa channel televisi.


Usai berpikir lumayan lama, Daren akhirnya memberanikan diri mengirimkan pesan kepada Aila. Sebelumnya, Daren kurang berani menemui Raya setelah kejadian pesan yang hanya dibaca itu. Tetapi, ia jadi berubah pikiran saat melihat Raya yang menerima bunganya.


Tak lama, Daren melihat Raya yang keluar kamarnya. Namun, perempuan itu sudah berganti dengan baju seragam pramugari miliknya. Seragam berwarna putih dengan rok hitam selutut itu nampak indah di tubuhnya.


“Aku make up disini aja, ya” ucapnya menaruh sebuah benda kotak yang Daren tebak berisi alat make-up. Ia tahu karena Sella tentunya, adiknya itu memang penggila make up.


Daren yang tidak mengerti tentang masalah tata rias. Dan akhirnya, ia memilih memperhatikan Raya yang mulai berkutat dengan berbagai alat make up.


“Harus banget make up?” Raya menoleh lalu mengangguk. “Kamu sudah lama jadi cabin crew?” lagi-lagi mengangguk.


“Sejak lulus aku langsung apply,” ucapnya. Masih sibuk merias diri, Daren masih terus memperhatikan Raya walau ia tidak mengerti dengan apa yang Raya lakukan. “Aku aneh, ya?”


Dulu, Raya jarang berbicara masalah make up dan sebagainya. Yang Daren tahu, Raya hanya punya sebuah lip balm. Perempuan itu bahkan beberapa kali bilang kalau ia tidak tertarik dengan make up dan sebagainya.


“Cantik,” perempuan yang tadinya tengah fokus melihat ke kaca, kali ini menoleh ke arah Daren. “Kamu cantik, Ra.”


Raya tersenyum dan memilih melanjutkan pekerjaanya yang belum selesai. Ia tidak bisa menahan perasaannya yang ingin meledak saat ini juga. Ia terlalu senang.

__ADS_1


“Gombalnya bukan main,” kekeh Raya setelahnya. “Oh iya, Mama kamu tahu kalau kamu kesini?” Raya menutup kotak make up itu. Wajahnya kali ini sudah tertutup make up tipis. Daren simpulkan kalau ia sudah selesai memoles wajahnya.


“Engga,” Raya hanya ber-oh ria. “Ra, kamu ada rencana menikah?”


Sontak Raya menoleh mendengar Daren yang bicara menyangkut menikah. Seperti bukan Daren yang biasanya. Tapi, tidak salah juga. Toh laki-laki itu juga hendak bertanya karena disini cuma Raya yang masih belum melepas masa sendiri. Sementara, laki-laki itu sudah menikah.


“Sampai sekarang belum,” ucap Raya kaku. Ditatapnya wajah tampan Daren yang semakin bertambah. “Kenapa?”


Laki-laki itu mengacak-acak rambut Raya. Untungnya, Raya belum menata rambutnya. “Enggak,”


Raya tersenyum hambar, dia senang karena Daren menanyakan soal rencana Raya menikah. Minimal, dia mengamati perempuan yang ada di sebelahnya. Tetapi, ia kembali sadar. Raya dan Daren tidak bisa menyatu, laki-laki itu sudah punya pasangan.


“Ra, if I say aku mau menikah sama kamu, jawaban kamu?” Raya mati kutu mendengar pertanyaan Daren. Laki-laki itu sedang modus atau serius, Raya tak tahu.


“Kamu mau aku jadi istri kedua?” Daren terkejut mendengar Raya yang melempar kata-kata ‘istri kedua’ kepadanya. “Kamu nggak mikirin perasaannya istri kamu?”


“Aku belum menikah, Ra.”


“Tapi kamu punya Rachel, Daren. Aku benar-benar nggak ngerti sama jalan pikiran kamu,” bingung. Raya dihampiri perasaan tak senang. Dia tidak bisa mengartikan tatapan Daren kepadanya.


“Suatu saat aku akan cerita soal Rachel, Ra. Tapi bukan hari ini,” ujar Daren. “Aku cuma mau bertanya,”


Raya menghela nafasnya. Jika ditanya seperti ini, ia tidak punya jawaban sama sekali. Ia tidak mau menolaknya, tapi perasaannya ke Daren tidak sebanyak tujuh tahun yang lalu.


Perempuan itu mengira kalau perasaannya terhadap Daren akan tetap sama setelah tujuh tahun ini. Tetapi ia salah, semua hati berubah. Entah berkurang atau bertambah.


Entah Raya yang berkurang atau Daren yang tambah mencintainya.


Ia juga tidak bisa langsung menerima ucapan Daren yang bilang kalau ia belum menikah. Raya tidak mau asal percaya. Dia saat ini tengah bimbang.


“Aku rasa kita nggak perlu buru-buru, Daren. Perasaan aku ke kamu, nggak sebanyak dulu,”


***


TERIMA KASIH LIKE & APRESIASINYA.

__ADS_1


__ADS_2