Fly With Me (REVISI)

Fly With Me (REVISI)
Episode 28


__ADS_3

Bab ini harusnya jadi bab 29, tapi setelah drama panjang akhirnya aku putusin buat jadiin cerita ini bab ke 28. Selamat membaca semua. 


***


“Selamat pagi, Pak. Hari ini, bapak ada pertemuan dengan beberapa orang dar—” ucapan Hana pagi ini langsung diputus oleh Daren yang baru saja sampai di kantor jam sepuluh pagi.


“Batalin semua, saya butuh istirahat.” Tanpa melirik Hana sedikitpun, Daren memasuki ruang kerjanya. Suasana hatinya pagi ini sangat buruk.


“Pagi, saudaraku.” Sapaan siapa lagi kalau bukan Sie. Perempuan itu sudah duduk di kursi kerjanya dengan lipatan tangan di depan dadanya.


Daren mendekati meja kerja yang berisi tumpukan berkas yang harus ia kerjakan hari ini. Reflek Sie bangun dari tempat itu dan menjauhi Daren yang menyeramkan. “Keluar dari sini.”


Wajah yang lesu, lalu seragam yang berantakan. Sie tak yakin laki-laki di depannya ini tidur malam ini. Lingkaran hitam di sekitar matanya tampak jelas, ditambah dengan wajahnya yang kelelahan.


“Santai, bro.” ujar Sie kepada singa galak yang sudah duduk di tempat duduknya dan memegangi kepalanya dengan memejamkan mata. “Lo habis lembur?”


“nggak”


“Terus? Rachel sakit ya?”


“bukan”


Sie memikirkan cara lain agar Daren bisa menjawab rasa keponya—pria itu sebenarnya kenapa. Teringat, kemarin Daren menanyakan banyak hal tentang apa yang perempuan sukai. Tetapi, Daren tak menyebutkan siapa yang disukainya.


“Eh, si Raya punya pacar baru ya?” iseng Sie menanyakan Raya yang tidak pernah Daren singgung saat bersamanya.


Saudaranya itu sudah menatapnya dengan tatapan banyak pertanyaan, “tau dari mana?”


Ketahuan!


Setenang mungkin, Sie berusaha membuat ekspresi seolah-olah ia tahu semuanya. "udah lama, sempat ketemu.” Ujarnya.

__ADS_1


“Dimana?”


“Kepo ya?”


Hati Daren jadi geram. Gara-gara Raya, Daren jadi tidak bisa tidur semalaman. Rasanya sekarang ia jadi seperti mayat hidup. Wajahnya tak tampan sedikitpun, lesu bagai orang yang patah hati. “Ngomong yang jelas, ceritain semua.”


“lo dulu lah, masa ladies first.” Ngeles Sie, sebenarnya Sie tidak tahu apapun.


“Gua ngomong dari mana?”


“Kenapa lo lesu?”


“Biasa, nggak tidur.”


Oke, Sie paham. Biasanya Daren nggak bisa tidur karena kebanyakan pikiran. “Mikirin apa?”


“nggak tahu”


“Lah, kok nggak tahu?”


Sie tersenyum, dugaan perempuan yang membuat cemas Daren terungkap. “Iya, ganteng loh. Kayaknya hubungan mereka lagi mau tahap serius deh.” Daren pasti akan murka jika mendengar semua yang Sie katakan hanya sebuah kebohongan.


“Berarti cuma gua doang yang nggak tau apapun.” Daren menjambak rambutnya frustasi. “Lo pasti kenal cowok itu.” Tambah Daren.


Dari Sie berkerut, siapa laki-laki yang bersama Raya. “Nggak sempat lihat wajahnya sih, lo kenal?”


"Terus, kenapa lo bisa bilang dia ganteng?"


“Daddy!!” pintu yang terbuka memperlihatkan Rachel yang masih menggunakan seragamnya dan menggandeng


seseorang yang membuat Daren jadi galau selama beberapa hari ini. “Aku di jemput mommy loh!”

__ADS_1


Di depan pintu, Raya tampil cantik dengan dress dibawah lutut dan sebuah totebag yang senada dengan dress yang nampak segar dipandang. Senyum Raya muncul saat melihat Sie yang beraada tak jauh dari laki-laki yang beberapa hari ini tak ditemuinya.


“Mommy?” ucapan itu keluar dengan lancer dari bibir Sie.


Rachel melepas genggaman itu dan berjalan memasuki ruangan tersebut, disusul langkah Raya yang mendekati Daren dan Sie. “Maaf ya kalau ganggu waktu kalian, aku cuma mau antar Rachel kok.”


“Ray, pasti Rachel ngerepotin ya?” tanya Sie yang dibalas gelengan oleh Raya.


“Engga kok, malah makin rame kalau ada Rachel.” Ujar Raya yang memang berencana akan menjemput Rachel hari ini. Pandangan Raya beralih kepada Daren yang tidak memperhatikan kedatangannya dan tengah sibuk dengan beberapa berkasnya.


“Daddy, kapan Daddy selesai kerjanya? Katanya kita mau beli boneka baru” Rachel merengek, Sie segera meraih tangan Rachel yang menarik kemeja Daren yang sudah berantakan. Raya disana hanya diam,


sepertinya ia harus pergi.


“Onti, aku mau perginya sama Papa!!” Rachel marah karena keinginanya tidak terkabul. Anak itu menangis dengan suara yang agak besar.


“Iya Acel, nanti ya. Papa mau ngobrol sama mommy, katanya Rachel mau onti Raya jadi mama Acel.” Tangis Rachel mereda. “Acel nggak boleh nakal, okey?”


“Onti Sella bohong, nanti Papa menikahnya sama nenek gombreng. Acel nggak mau.”


“Enggak, sekarang Acel mainnya sama onti ya?” ajak Sie. Memberikan tangannya agar dipegang oleh Rachel. Dengan senyum, Rachel menggenggam tangan itu dan mengajak Sie keluar dari sana.


Dari kejauhan, Daren hanya memperhatikan Rachel yang bisa ditakhlukan oleh Sie. Biasanya anak itu akan mengomel tak mau kalah atau menangis selama sepuluh menit lalu tertidur. Dilihatnya Raya yang hanya berdiri tanpa berani mendekat.


Setelah keluarnya Sie bersama Rachel, Daren bangun dari tempatnya dan duduk di sofa. Matanya memperhatikan Raya yang masih berdiri sembari memperhatikan Daren yang terlihat aneh—menurut Raya.


“Duduk, Ray. Ada yang mau aku omongin.” Titah Daren kepada Raya yang membalas dengan cengiran khasnya.


“Hari ini kayaknya kamu agak berantakan deh.” Ujar Raya setelah ia duduk di sebelah Daren. Mata yang dihiasi lingkaran hitam sukses membuat perhatian Raya teralihkan. “Habis lembur ya?”


“Jangan berusaha alihin pembicaraan, Araya.”

__ADS_1


***


Semakin banyak komentar, semakin memotivasi ya. Semangat komentnya hehe.


__ADS_2