Fly With Me (REVISI)

Fly With Me (REVISI)
Episode 10 : KELANJUTAN HUBUNGAN


__ADS_3

 


 


FLY WITH ME


BAB 10


KELANJUTAN HUBUNGAN


 


***


***


“Kemarin, aku ketemu Aila. Ma. Dia adiknya Raya,” ucap Daren saat tengah memakan nasinya. Sudah jadi hal yang wajar untuk makan malam bersama. Tetapi, rasanya kurang lengkap karena Sella dan Papa tengah di luar negeri.


Disebelah Daren, ada Rachel yang tengah asik memakan makan malamnya. Anak itu semakin lama makin cantik. Wajahnya sudah terlihat lucu saat kecil.


“Nggak ketemu Raya?” tanya Mama Renata.


Perempuan yang sudah setengah abad itu memang sengaja di Indonesia. Alasannya ya karena ada Rachel. Sella sendiri masih sibuk dengan bisnisnya dan baru kembali dua minggu lagi. Sementara suaminya, tidak bisa pulang karena banyak urusan disana.


Kalau cucu perempuannya itu ditinggal sendirian, Daren belum tentu bisa mengurusnya. Minimal, ia akan menunggu Sella kembali ke Indonesia baru ia akan menitipkan cucunya.


“Enggak, kata Aila masih di Jepang,” jawabnya. Daren kembali teringat dengan pesan yang beberapa hari lalu ia kirimkan kepada Raya. Dan sampai saat ini, perempuan itu belum membalas pesan tersebut. “Lagian aku ketemu Aila karena dia katanya mau magang, lalu aku tawari dia magang di kantor aja,”


Pesan terakhir Daren kepada Raya memang tidak berubah. Hanya lambang sudah terbaca saja yang ia terima. Apakah Raya tidak tertarik membalas pesannya? Atau karena ia jarang memegang ponsel?


Ya mungkin saja, perempuan itu lumayan jarang memegang ponselnya. Seingat Daren, Raya bahkan lebih sering menonaktifkan ponselnya sejak dulu. Jadi, itu konsekuensi Daren saat ingin menghubungi Raya.


Untungnya, ia tadi sempat bertukar pesan dengan Aila. Adik dari Raya itu memberitahu kalau Raya hari ini tengah sibuk mengurus pindahannya. Tapi saat Daren menawarkan bantuan, Aila malah menolaknya.


Mungkin Raya yang menyuruh Aila untuk tidak mengizinkan Daren. Mungkin saja, Raya bukan perempuan yang senang dibantu oleh siapapun. Ia akan berusaha sendiri tanpa meminta bantuan orang lain. Sama seperti dulu.

__ADS_1


Tetapi, sikap Raya yang seperti itu membuatnya sedikit khawatir. Saat keduanya pertama kali bertemu, Daren tahu kalau Raya tengah menunggu seseorang yang waktu itu sempat ia temui juga.


Dan dari tatapan laki-laki itu, Daren menyimpulkan kalau Raya punya hubungan dengan dia. Dia yang Daren maksud adalah laki-laki itu. Laki-laki yang tak asing untuknya.


Tapi Daren belum berani menanyakan kepada Raya, biar saja keduanya mengalir seperti dulu. Di hadiahi pertemuan saja, Daren bahagia bukan main. Selanjutnya, ia tidak akan meminta banyak.


“Papa,” suara Rachel membuyarkan Daren yang tengah asik melamun. “Acel mau main sama Onti Raya,”


Rachel tidak tahu, kalau laki-laki yang ia panggil Papa ini juga menginginkan hal yang sama. Ia ingin mengunjungi Raya. Ingin bercanda seperti tujuh tahun lalu, ingin mengacak-acak rambut gadis itu seperti dulu. Tapi ia tidak bisa. Perempuan yang berani membaca pesan darinya tanpa sebuah balasan itu seperti menjauh.


“Kalau Onti Raya tidak kerja, kita ajak main, ya” kali ini Renata yang memberi pengertian kepada Rachel. “Kok Acel tumben ingin ketemu Onti Raya?”


Renata sudah biasa menanyakan itu. Apalagi kalau bukan ingin melihat reaksi Daren yang merupakan anak kandungnya.


“Acel kesepian, Onti Raya bisa diajak main boneka,” ucap Rachel yang sesekali memakan makanannya. “Onti Raya tinggal disini aja, Uti”


Daren hanya berdehem, dia mulai paham dengan alur pembicaraan yang Mamanya mulai ini. “Ehm, Rachel sudah kode lho” Renata kembali tersenyum ke Rachel. “Coba Rachel mintanya sama Papa, katanya Papa mau Onti Raya disini juga,”


“Beneran Papa?” Daren melirik Mamanya yang tengah tersenyum geli karena mengerjain Daren. “Ayo, Pa. Ajak Onti Raya,”


Sementara Rachel, dia sudah berlari menuju kamar Daren untuk menunggu Papanya yang tengah beres-beres. “Yang sekarang jangan gegabah, lho” ucap Renata.


“Memangnya kenapa, Ma?” tanya Daren kali ini.


“Raya bukan cuma punya kamu di dunianya,” Daren mengerutkan dahinya, ia kurang mengerti dengan apa yang diucapkan Mamanya.


“Maksud Mama?”


Renata menghela nafasnya, memang Daren ini harus dijelaskan sedetail mungkin. Kalau tidak, anaknya ini akan salah paham dan berujung kesalahan fatal. Hal yang seperti ini lumayan sering terjadi, oleh karena itu Renata harus terus memperingatkan Daren.


“Kamu lihat cowok yang waktu itu bareng Raya, tidak?” semua yang Daren pikirkan tadi seolah kembali di ulang oleh Mamanya.


“Tahu kalau ada cowok itu, tapi soal siapanya, aku nggak tahu,” jawab Daren jujur. “Mama tahu dia?”


Anggukan Mamanya jadi sebuah jawaban, “Kakaknya Fero,” Daren mencoba mengingat siapa Fero yang Mamanya maksud. Yang Daren tahu, Fero adalah calon suami Sella yang akan dinikahi adiknya bulan Juni nanti.

__ADS_1


Tapi, apa iya?


“Fero calonnya Sella?” Mama lagi-lagi mengangguk. “Serius?”


“Mama harus jawab berapa kali?” Daren terdiam. “Makanya, kalau kamu nggak mau kalah saingan, jangan gegabah dan jangan lambat,”


“Dia emangnya deketin Raya juga?” Mamanya mengangguk. “Raya bakalan balik ke aku, Ma. Percaya, deh.”


Cubitan dari Renata membuat Daren mengaduh, ia menoleh memperhatikan Mamanya. “Kamu jangan kebiasaan nyepelein orang, Daren! Kamu gak lihat kalau Raya dan Reza dekat banget?!”


“Raya bakal tetap berjalan ke aku, Ma. She loves me, aku bisa lihat kalau dia masih sangat tertarik sama aku,” hal yang barusan diucapkan anaknya itu membuat Renata jengah.


“Jangan sampai kamu menyesal lagi, ya, Daren. Mama sudah mengingatkan kamu untuk nggak memandang orang lain lebih rendah dari kamu. Kamu nggak tau Raya. Tiga tahun kamu, cuma sia-sia. Reza lebih bisa bahagiain Raya, dari pada kamu,” ucapan Mamanya menyentak hati Daren. Tidak percaya dengan ucapan Mamanya barusan.


“Mama lebih setuju Reza sama Raya?”


“Kalau lihat kamu yang sekarang, ya Mama lebih setuju Raya sama Reza, lah. Kamu sendiri aja terlihat nggak serius!” Daren memasang wajah tak suka setelah mendengar ucapan Mamanya yang lebih membela Reza yang bukan anaknya.


“Sudah, ya, Daren. Mama capek banget harus ngurusin kisah cinta kamu yang selalu kayak gini. Apa susahnya sih, memulai hal-hal kecil dengan sering-sering hubungin Raya.”


“Masalahnya, Raya nggak balas pesanku, Ma.” Bela Daren.


“Itu artinya, dia mau lihat effort kamu, Daren”


Daren membersihkan tangannya dan mengambil minum di kulkas. Setelah minum beberapa teguh air, Daren kembali duduk di meja makan untuk menunggu Mamanya.


“Kamu kerjanya jangan lama-lama, ya. Kalau bisa sempatkan telpon Raya, siapa tahu ada kemajuan,” yang Mamanya katakan hanya Daren jadikan angin lalu saja.


Memangnya harus banget menelpon Raya?


Entahlah, Daren tidak mau terlalu terlihat seperti laki-laki yang mengemis cinta seorang Araya Caitlin.


***


LIKE & TERIMA KASIH ATAS APRESIASINYA.

__ADS_1


__ADS_2