
FLY WITH ME
BAB 14
TEMANI
***
***
TANTE RENATA
Ra, can you help me? Bisa kamu jemput Rachel hari ini?
Pesan yang baru di kirimkan Renata hanya Raya baca. Ia diminta untuk menjemput anak Daren. Apakah ibunya tidak ada? Kenapa harus Raya?
Sejenak ia menutup matanya. Ia mencoba mengontrol emosinya sendiri. Sudah beberapa hari Raya selalu dihantui dengan pertanyaannya Daren. Dirinya pusing memikirkan nasibnya sendiri.
Pelan-pelan, ia mencoba legowo, Tante Renata pasti punya alasan lain mengapa harus Raya yang menjemput. Menolak permintaan Renata juga membuat Raya tak enak hati.
RAYA
Boleh, Tante. Raya juga hari ini sedang libur.
Tanpa menunggu lama, Renata mengirimkan lagi pesan kepada Raya.
TANTE RENATA
Rachel pulang jam sepuluh ya, Ra. Alamat sekolahnya akan Tante kirimkan. Tante benar-benar butuh bantuan kamu. Thanks ya, sayang.
Dengan malas, Raya bangkit dari tempat tidurnya. Ia mengambil handuknya lalu keluar dari kamar. Ia melangkah menuju dapur. Tanganya menuangkan air kedalam gelas lalu diminumnya air tersebut.
Tenggorokan yang awalnya terasa kering, kali ini lebih lega. Ini bukan habit Raya sebenarnya. Reza yang sering memberitahunya untuk minum air saat bangun tidur. Entahlah, Raya tidak sadar kalau lama-kelamaan ini jadi kebiasaan untuknya juga.
Langkahnya ia lanjutkan menuju kamar mandi. Ia harus buru-buru karena sekarang sudah pukul sembilan pagi. Tentunya Raya tidak mau membuat Rachel menunggu lama.
***
__ADS_1
“Onti!!” seorang anak perempuan berlari mendekati Raya yang berada di depan sekolah. Perempuan yang di panggil reflek berjongkok menerima pelukan anak itu. “Papa dimana?”
“Papa Acel tidak datang hari ini,” terdengar helaan nafas kekecewaan dari Rachel. Raya kemudian melepas pelukan itu lalu berdiri. Menggandeng Rachel yang masih kecewa. “Acel mau pulang sekarang?”
Anak itu menggeleng, ia mendongak melihat Raya. “Onti, temani Acel ke kantor Papa,”
Susah payah Raya mengalihkan perhatiannya, kali ini ia malah diminta untuk mengantar anak ini ke orang tuanya. Rachel mana tahu soal Raya yang hatinya tengah tidak baik.
Raya sendiri, tidak tahu dimana kantor Daren. Apalagi Rachel yang umurnya masih empat atau lima tahun ini. Dengan sangat terpaksa, ia harus menghubungi Daren.
“Onti, Acel lapar,” Raya melempar pandangannya mencari rumah makan atau restoran. Dia tidak boleh membiarkan Rachel kelaparan. Soal menghubungi Daren, ia akan melakukannya nanti.
Di sekitar sekolah ini, ada sebuah restoran yang berada di sebelahnya. Restoran ayam goreng yang cabangnya sudah dikenal masyarakat luas. Raya menggandeng Rachel kemudian mengajak anak itu memasuki restoran tersebut.
“Rachel mau makan apa?”
“Ayam, tapi jangan yang pedas,” ucap Rachel. Rachel melihat daftar menu yang ada di hadapannya yang tingginya tak lebih dari satu meter. Ada sebuah es krim yang warnanya menggoda, dan Rachel menginginkannya. “Onti, mau es krim,”
“Mba, ayam dan nasi beli dua. Minumnya air mineral dua dan es krimnya satu,” Raya menggendong Rachel supaya anak itu bisa memilih es krim yang ia inginkan. “Mau yang mana?”
Rachel melihat papan yang isinya sama, namun bedanya kali ini berada di atas. Tangannya menunjuk satu cup es krim rasa coklat dan vanilla yang terpampang disana.
“Yang itu,” perempuan yang tengah memperhatikan pesanan keduanya mengangguk. Rachel menunjuk es krim rasa coklat. Raya mengingat Daren, laki-laki itu juga selalu memesan es krim coklat. Dia tidak pernah bosan.
“Ada yang mau ditambah, Ibu?” Raya menggeleng. “Mau makan disini atau take away?”
“Semuanya jadi sembilan puluh ribu,”
Karena ia harus mengambil uang di dompet, Raya akhirnya menurunkan Rachel dan mengambil dompet di dalam tas slempangnya. Uang seratus ribu Raya serahkan kepada kasir. Dengan sigap, petugas kasir memberikan kembalian kepada Raya.
“Mohon ditunggu ya, Ibu. Nanti makanannya akan di antarkan,” Raya membawa Rachel meninggalkan tempat pemesanan dan duduk di sebuah kursi.
Araya dan Rachel duduk bersebelahan. Anak itu sibuk memandangi mobi-mobil yang lewat di pinggir jalan. Raya tidak mau mengganggu perempuan kecil itu.
Mata Raya memilih menatap layar ponsel yang ia ambil sejak ia menaruh uang kembali. Matanya menangkap pesan dari laki-laki yang tak asing untuknya. Penuh keraguan, Raya akhirnya memberanikan diri untuk membukanya.
DAREN GANTENG
kamu dimana?
Pesan itu sampai tepat lima menit yang lalu. Karena teringat ingin mengantar Rachel ke kantor pria itu, Raya akhirnya membalas pesan Daren yang awalnya ingin ia abaikan.
RAYA
di sekolah Rachel. Alamat kantor kamu dimana? Rachel minta diajak kesana.
__ADS_1
Ponselnya Raya taruh di atas meja. Saat bersama anak kecil, lebih baik ia mengurangi perhatian ke benda elektronik apapun. Tentunya Raya takut jika Rachel akan mengikutinya, ketergantungan dengan ponselnya.
“Acel, Onti Sella tidurnya dimana?” Raya berusaha mencari topik apapun, supaya Rachel tidak bosan tentunya.
“Sama Acel,” jawabnya.
“Papa Acel?” timpal Raya.
“Papa pindah, Acel nggak tahu kemana,” ucap Rachel. “Onti Raya sudah punya pasangan?” Raya menggeleng tentunya. Dia menjawab dengan jujur. Ia tidak berani menyebut siapa pun yang tengah dekat dengannya.
“Kenapa?”
Sebuah nampan berisi dua porsi makanan serta dua air mineral dan eskrim ditaruh di atas meja. Keduanya mengalihkan perhatiannya kepada seorang pramusaji yang barusaja datang dengan senyuman.
“Silahkan,” ucapnya sembari menaruh semua yang ada di nampan ke atas meja. Setelah tidak ada yang perlu ditaruh, pramusaji tersebut pegi meninggalkan keduanya.
Sebelum melanjutkan pembicaraan keduanya, Raya membantu Rachel melepas tasnya supaya lebih mudah makan. “Onti, aku mau cuci tangan,” Raya tersenyum, anak itu sudah selayaknya anak dewasa.
Ditemani Raya, keduanya menuju toilet lalu mencuci tangan. Sebelum makan, Rachel berinisiatif untuk meminpin do’a. Jadi Raya mengikutinya saja.
“Mau dibantu tidak?” Raya menawari bantuan, siapa tahu anak itu minta disuapi.
“Tidak perlu, Onti. Aku bisa sendiri,” dengan tangan kecilnya, Rachel berusaha memotong ayam goreng tersebut dengan agak kesusahan. Raya langsung peka, ia mengambil ayam tersebut lalu memotongnya kecil-kecil. “Terima kasih, Onti”
Raya tersenyum lagi, Rachel mulai memakan nasi dengan ayam yang keduanya pesan. Sembari mengamati Rachel yang masih memakan makanannya dengan nikmat.
“Rachel lapar sekali?” tanya Raya. Sambil makan, Rachel mengangguk menjawab pertanyaan itu. “Kamu tidak jajan di sekolah?” kali ini anak itu menggeleng.
Raya kemudian memilih tidak melanjutkan pertanyaannya. Setidaknya, anak itu harus makan dahulu. “Disekolah tidak ada jajanan, Onti. Acel cuma diberi roti,” jawabnya tanpa Raya tanya.
“Setiap hari?”
“Iya, soalnya Acel sudah sarapan kalau di rumah,” jawabnya lagi. Tangannya menyuapi nasi dengan ayam itu lagi.
Sembari makan, Raya mengamati Rachel yang matanya berbinar melihat sesuatu. Raya melihat arah pandangan Rachel, mencari sesuatu yang membuat perhatian Rachel teralihkan.
“Rachel, kamu sama Mama kamu?” seorang anak kecil yang setinggi Rachel mendekati keduanya. Raya melirik Rachel, anak itu tersenyum bersemangat.
“Iya,” jawab Rachel angkuh. “Kalau Nesti ledekin aku lagi, aku bilangin Mama, ya!” ucap Rachel dengan galaknya.
Anak perempuan itu terlihat memelas, ia tertunduk didepan Rachel. Tak lama, seorang perempuan yang Raya duga ibunya, mendekat. Ia menyenggol anak yang dipanggil Nesti itu.
“Kamu sedang apa?” Nesti mendongak. Ia tak berani menjawab pertanyaan Mamanya sendiri. “Ayo kita kesana,” ajak perempuan berusia kepala tiga itu.
“Tadi dia ledekin Acel. Katanya, Acel nggak punya Mama. Tapi kan Acel punya Onti Raya.” Perempuan itu melanjutkan makannya. “Onti, mau jadi Mama Acel, ya? Acel janji tidak akan nakal,”
__ADS_1
***
TERIMA KASIH LIKE & APRESIASINYA.