
FLY WITH ME
ALASAN AKU MENJAUHIMU
Sebuah undangan cantik Raya pegang dengan perasaan yang lumayan berdebar. Ditemani calon suaminya, Raya datang ke kediaman Bagaskara untuk mengantar undangan tersebut.
Raya turun dari mobil yang Reza kendarai, kemudian berjalan masuk menuju pintu depan kediaman yang Daren tinggali. Wajah khawatir dari Raya tidak dapat ia sembunyikan. Reza manyentuh tangan Raya, membuat perempuan itu menoleh.
“You can” ucap Reza menyemangati perempuan yang akan dinikahinya. Raya tersenyum, rasa khawatirnya berkurang dan menjadi lebih baik. Tangan Raya mengeratkan genggaman itu, Reza memang selalu bisa membuat Raya merasa nyaman.
Tangan Reza mengetuk pintu besar yang ada dihadapan keduanya. Menunggu sampai akhirnya ada suara seseorang yang menyahut. Pintu itu terbuka, memperlihatkan seorang perempuan cantik yang sudah keduanya kenal.
“Loh, masuk kak,” ucap Sella yang mempersilahkan keduanya untuk masuk kedalam rumah. “Kalian mau minum apa nih?” tanya Sella saat keduanya sampai di ruang tamu.
“Nggak usah, Sel. Kita disini cuma sebentar kok,” ujar Reza.
“Oh yaudah kak, duduk dulu.” pinta Sella yang akhirnya membuat Raya dan Reza duduk di sofa yang ada disana. Tangan Raya menaruh tiga undangan yang sejak tadi disimpan olehnya.
Sella yang sedari tadi memperhatikan Raya, kini tersenyum. “Wedding invitation kah?” tanya Sella dengan antusiasnya.
__ADS_1
Anggukan Raya dan Reza jadi jawaban yang membuat Sella tersenyum lebar, “Akhirnya….” ucap Sella. “Bang Reza, lo harus kasih tips gimana hadapin kerasnya Kak Raya ke gue. Biar bisa gue coba ke Fero,” ketiganya terkekeh kemudian.
“Lo mending siapin uang buat bayar dukun, dijamin, it works.” jawaban Reza mendapat cubitan dari Raya yang wajahnya sudah tersipu malu. “Aduh, sakit sayang. Kamu nggak sabar banget ya pengen pegang-pegang aku?”
Godaan dari Reza sukses membuat Raya menutup wajahnya karena malu. “Ih, gemes lihat kalian.” ucap Sella yang nampak iri.
“Sama Fero sudah berapa persen persiapannya, Sel?” tanya Raya yang wajahnya masih sedikit merah. “Kamu bukannya dua minggu lagi, kan?”
“Persiapannya udah beres semua, Kak. Cuma ya gitu,” Raya dapat mendengar kekehan garing dari Sella. Perempuan itu tidak bahagia sepenuhnya dengan rencana pernikahannya.
“Dia belum dapet hatinya Fero, makanya masih galau” ucap Reza to the point. Mendengar jawaban Reza yang terlalu blak-blakan, lagi-lagi Reza mendapat hadiah cubitan pelan dari calon istrinya.
“Nggak boleh ngomong gitu, sayang” protes Raya pelan. “Maaf ya, Sel. Reza emang suka asal ngomong.”
“Ya elah, santai, Kak. Justru aku malah sering ngomongin masalah ini sama Bang Reza.” ucap Sella jujur. “Kak Raya pernah lihat Bang Reza kalau lagi galau, nggak?” goda Sella kemudian.
“Jangan mulai, ya, Sel.” peringatan muncul dari bibir Reza.
“Kita harus bikin ‘girls talk’ deh, kayaknya” balas Raya.
“Loh, Mama sering banget ajak aku nge-gibahin Bang Reza sama Fero,”
“Nanti-nanti, aku join deh, Sel.” kikik Raya.
Reza hanya diam saja, memperhatikan dua perempuan yang tengah membicarakan tentangnya dan Fero. Tidak berniat mengganggu keduanya sedikitpun.
“Mommy?” suara seseorang yang selalu Raya ingat tiba-tiba muncul dikepalanya. Sama seperti dirinya, Reza dan Sella nampaknya juga ikut menoleh karena datangnya Rachel yang langsung memeluk Raya yang masih duduk ditempatnya. “Mommy kemana aja? Acel kangen”
__ADS_1
Raya tersenyum, Rachel begitu polos hingga begitu mudahnya bicara kalau ia rindu seseorang. “Mommy, ini om siapa?” tangan Acel menunjuk Reza. Laki-laki yang merupakan calon suami Raya.
“Acel, salim dulu yuk. Om ini calon suami Onti Raya,” ajak Sella yang membuat Acel melepas pelukan itu dan kini mengikuti arahan Sella dengan menyalimi Reza.
“Suami itu apa sih, Onti Sella?” tanya Acel yang kini duduk diantara Reza dan Raya.
“Suami itu pasangannya istri,” ucap Sella yang berusaha menjelaskan dengan bahasa sesederhana mungkin.
“Kalau istri itu apa?” Sella menepuk jidat, Acel yang masih kecil dan rasa ingin tahunya tinggi membuatnya pusing. Padahal Sella sudah berencana membuat anak sebanyak mungkin. Ya sepuluh lumayan lah.
“Nanti, kalau Onti Raya menikah, Onti Raya jadi istri.” ucap Sella lagi.
“Udah ah, Acel capek. Onti Sella ceritanya nggak jelas,” Acel kini berjalan menjauhi ketiganya dan memasuki kamarnya yang terletak tak jauh dari tempat ketiganya tengah berbincang.
“Untung, ponakan kesayangan….” ujar Sella yang mengelus dada supaya terlihat sabar.
“Sel, di depan mobil siapa?” suara itu. Kali ini, pria inilah yang harus perempuan bernama Raya hadapi. Berbekal keberanian yang sudah ia kumpulkan sejak sebelum kemari, akhirnya Raya memberanikan diri menengok kearah suara Daren. “Oh, kamu”
Datar.
Pria itu mendekati ketiganya yang masih sama-sama diam sesaat setelah kepergian Acel ke kamarnya. Daren, pria itu duduk di sebelah Sella. Dan berhadapan dengan Raya yang masih ada rasa sedikit takut.
Raya menatap mata coklat milik Daren. “Aku mau antar undangan pernikahan, semoga kamu bisa datang ya,” ujar Raya dengan tanpa terbata.
“Okey, aku akan datang, kalau aku ingat,” ucap Daren. Tubuh pria itu bangun dan meninggalkan mereka menuju kamar Acel yang tak jauh dari sana.
__ADS_1
***
Holaaaa\, maaf baru balik. Aku bingung ih mau diakhiri sekarang atau ada beberapa episode lagi. Boleh request part selanjutnya tentang apa *SPESIAL*!! Coment dibawah!!