
“Bang Reza?” senyum Aila tersimpul setelah ia membuka pintu apartemennya. Sebelumnya, ada beberapa kali ketukan yang Aila tak ketahui, siapa orangnya. “Masuk, bang.”
“Ada Raya?” binar bahagia dari mata cantik Aila hilang, kini berganti sendu. “Aku perlu bicara sama Raya.”
“Belum pulang, Bang. Daritadi belum pulang.” Ujar Aila, Reza memasuki apartemen tersebut dan duduk di sofa, seperti biasanya. “Mumpung Raya belum pulang, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, La.”
Bang Reza pasti mau nembak aku, aku yakin. Pikir Aila di dalam hatinya.
Senyum itu mengembang dan dengan semangat Aila berjalan menyusul Reza duduk di sofa sebelahnya. “Mau ngomong apa, Bang?” tanya Aila yang terlalu bersemangat. Aila menatap wajah Reza intens hingga pria itu menyadari gelagat Aila.
“Sebentar, aku bingung cara ngomongnya.” Reza memegangi tangannya dengan tangan yang lain, ada kegugupan yang ditunjukkan. Tentu saja itu membuat Aila tersenyum, gemasnya melihat Reza yang gugup.
“Ngomong aja Bang, aku siap dengerin.” Tangan Aila memegang bahu Reza yang membentuk otot dibalik baju kemeja santai miliknya. Sejujurnya, Aila tidak sabar mau peluk-peluk lengan pelukable, kalau sekarang mimpi dulu.
Kan belum jadi pacarnya Bang Reza.
__ADS_1
Aila tersenyum salting hanya karena memikirkan Reza. Pipinya terasa panas, ia yakin wajahnya sudah merah saat ini. Aila membuang pandangannya ke segala arah supaya Reza tak melihatnya, demi apapun ia malu.
“Aku ambilin makanan dulu ya, Bang.” Aila bangkit dari sofanya dan menuju dapur yang masih ruangannya Bersatu dengan ruang tamu. Dari dapur tempatnya berdiri, Aila dapat melihat Reza yang kini sibuk memainkan ponselnya.
Tangan Aila sibuk mengutak-atik kulkas yang ada di dapur, lalu pandangannya teralihkan kepada minuman soda dan makanan kering yang ada di meja dapur. Usai menyiapkan makanan, minuman, dan gelas Aila membawa nampan berisi semua barang itu menuju meja yang ada dihadapan Reza.
“Sambil dimakan, Bang.” Aila kembali duduk ditempatnya sembari menuangkan botol berisi minuman soda itu ke dalam gelas yang tadi dibawanya, ia kembali mempersilahkan Reza meminumnya.
“Santai, La. Pokoknya kamu harus dengerin dulu apa yang mau aku bilang ini.” Reza jadi seperti orang yang tak sabar untuk bilang sesuatu dengan Aila. Perempuan itu hanya tersenyum, jantungnya semakin berpacu layaknya sedang balapan.
“Abang mau bilang apa? Mau nembak Aila?” akhir yang Aila katakan berupa kekehan yang seharusnya tak Reza anggap serius, gadis itu hanya bercanda. Reza juga nyaman bersama Aila karena perempuan itu humoris. Tetapi ia lebih nyaman dengan Raya, kakak Aila.
Aila tertawa keras hingga terpingkal-pingkal, “Kenapa bilangnya ke aku Bang? Harusnya bilangnya sama Kak Raya.” Senyum Aila muncul lagi, senyum terpaksanya.
Tatapan heran ditunjukkan Reza saat melihat Aila yang tertawa seperti itu, “Kamu katanya suka sama aku.” Ucapan Reza mendapatkan tawa Aila sampai ia sakit perut.
__ADS_1
“Abang percaya sama omongan Kak Raya? Ucapan Kak Raya bener Bang, Aku suka sama Bang Reza.” Ucapan terakhir Aila tak ia ucapkan. Sengaja, tak mau merusak kebahagiaan Reza yang ada disebelahnya.
“Seriusan kamu nggak ada perasaan apapun kan?” tanya Reza memastikannya lagi. Anggukan beserta senyuman antusias tercetak di wajah cantik Aila, kenyataannya perasaannya tak ada yang tahu. Biasanya hati perempuan seperti Aila akan hancur lebur.
“Engga, Bang. Abang kapan mau lamar Kak Raya? Keburu keduluan orang lain loh, Kak Raya juga lagi dekat sama Bang Daren soalnya.” Telinga Reza yang mendengar nama Daren menjadi sensitif. Sebelum ini, Daren dan Reza memang saling kenal. Daren itu kakak Sie—pacar Fero, adiknya.
“Raya dekat sama Daren beneran? Terus gossip mereka mau menikah, beneran?” Reza menatap Aila lurus, berusaha membaca apa yang akan Aila katakan selanjutnya.
“Loh, emang jadi gossip?” Aila malah balik bertanya.
“Iya, semua orang bilang jelek tentang Raya.” Ujar Reza.
“Tapi mereka nggak pacaran kok, Bang Daren sih udah mulai ngode gitu.” Keripik di toples itu diambil Aila dan dimakannya, perasaan sedihnya harus ia tutupi dengan makan. Pokoknya makan nomor satu. “Eh, tapi nggak tau sih. Kayaknya kalau abang nggak duluan, bakal keduluan.”
Sekali lagi, Aila memperingati Reza supaya ia gerak cepat.
__ADS_1
***
Komentarin ceritanya dong, lagi butuh kritik, saran, dan kesan-kesan kalian setelah membaca cerita ini. Btw, lagi butuh penyemangat nulis berupa koment wessssss.