
“Onti, kita mau ke mana?” tanya Rachel yang bersuara saat keduanya memasuki gedung Farnadi Group, tempat kekasih Sella bekerja.
“Acel mau ketemu om ganteng nggak?” tetap menggandeng Rachel, Sella sesekali senyum kepada beberapa orang yang memang Sella kenal.
“Nggak, maunya beli boneka sama mommy dan daddy.” Rachel mengerucutkan bibirnya dan tetap berjalan walau dengan perasaan kesalnya. Keduanya memasuki lift dan Sie memencet tombol lantai tempat ruangan Fero berada.
“Acel mau mommy sama daddy menikah nggak?” pintu lift mulai menutup, dan membawa keduanya berpindah dari lobby itu.
“Onti, Menikah itu kayak party kan?”
Mendengar pikiran polos Rachel, Sie berniat meracuni pikiran anak berumur empat tahun ini. “Bukan, menikah itu punya dede baru.”
“Kalau daddy menikah, nanti aku langsung punya dede baru gitu?”
“Iya, makanya Rachel minta dede ke mommy dan daddy, tapi pas mereka barengan ya.”
“Siap, onti Sella.”
Pintu lift terbuka dan keduanya berjalan memasuki ruangan Fero. Dari luar, Sella dapat mendengar suara bising dari dalam ruangan tersebut. Sella mengetuk pintu tersebut, kebisingan itu berhenti karena ketukan itu.
Rungan dengan dua pintu yang tertutup itu terbuka, menampilkan seorang Melisa yang baru keluar dari ruangan tersebut. Senyum perempuan itu muncul saat melihat Sella.
“Nenek gombreng ngapain disini?” Rachel berbicara dengan lancar saat melihat Melisa yang baru saja keluar.
“Eh, ada Acel. Papa dikantor kan? Tante baru aja mau ketemu papa kamu.” Ujar Melisa yang berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Rachel.
“Nggak boleh! Papa lagi sama Mama, nggak boleh digangguin nenek gombreng.”
“Mama?” tangan Melisa membelai rambut Rachel, calon anaknya.
__ADS_1
Sella jengah melihat Melisa yang terlihat sok baik di hadapan Rachel, “Mel, pulang gih. Anak kecil nggak boleh ketemu ular.”
Sella memasuki ruangan tersebut dan terlihat Fero yang tengah duduk di kursi kerjanya. Wajah kalut Fero membuat Sella memikirkan banyak hal. Apa karena Melisa?
Sudah tidak memperhatikan Rachel, Sella memilih mendekati Fero dan berusaha menghibur kekasihnya itu. “Sayang, ada apa?”
Tidak seperti harapannya, Fero ternyata lebih memilih mengambil sebuah map yang ada di meja kerjanya. Sella tak dianggap olehnya. “Fer, dengerin aku.”
“Keluar, Sel. Aku nggak butuh kamu saat ini.” Tanpa mengalihkan perhatiannya, Fero bicara tanpa mempedulikan perempuan itu.
“Oh, mungkin kamu butuh waktu.”
“Bukan butuh waktu, aku lebih menunggu saat-saat kamu menghilang. Kapan kamu akan pergi ke Amerika lagi?” selalu seperti ini, pasti keduanya akan selalu bertengkar saat sedang berdua.
“Okey, nggak lama lagi. Kamu pasti nggak sabar buat kangen-kangenan sama aku, iya kan?” goda Sella yang tak Fero pedulikan.
“Tolong, jangan terlalu banyak berharap. Kamu terlalu merepotkan kalau terlalu lama berada disini.” Satu persatu map ia ambil bergantian, tanpa melirik Sella sedikitpun.
“Terserah, aku nggak peduli.”
“Kapan sih Fer, kamu bakal terima kalau kita berdua harus nyatu. Jangan karena kamu masih sayang mantan kamu itu ya, aku capek cemburu tiap hari.”
“Kalau kenyataannya begitu?” tatapan tajam Sella terima dari Fero yang tak suka dengan apa yang Sella katakan.
Perasaannya tentu jadi tak bagus, Sella hanya membalas dengan suara yang pelan. “Ya mungkin aku bakal capek dan berakhir ninggalin kamu.”
“Bagus, aku makin semangat bikin kamu cemburu.” Fero kembali memperhatikan beberapa berkas yang harus ia periksa.
Bukan Sella namanya jika tak jadi perempuan optimis, “Kalau aku nggak mau nyerah?”
__ADS_1
“Aku bakal sabar nunggu kamu nyerah.”
“Kalau aku bikin kamu sayang sama aku?”
Sella nggak akan menyerah, ingat ya Fer
“Besok-besok kamu jadi penulis aja deh, sayang banget imajinasi kamu nggak dimanfaatin.”
“Apa yang aku bilang bakal kejadian, Fer.”
“Imajinasi mana yang bakal kejadian? Kasih aku petunjuk.”
“Kalau aku yakin kamu sayang sama aku?”
“Okey, mungkin itu akan kejadian kalau di cerita kamu. Di kehidupan nyata, aku nggak yakin.”
“Aku penasaran, apa sih yang bikin kamu nggak bisa sayang sama aku?”
“Kita itu nggak pernah bisa nyatu, La. Hari ini ataupun di masa depan.”
“Kamu bodoh ya, sia-siain cewek tulus macam aku.”
“Lebih tepatnya kamu yang bodoh, mencintai aku yang nggak pernah menganggap kamu.”
“Jahat.” Sella membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Fero bersama emosinya yang memuncak. Langkah kakinya mengajaknya mendekati Rachel yang tengah mengobrol dengan Melisa, perempuan itu sedikit berguna juga untuk saat-saat yang genting.
***
Sengaja banget bikin part ini, supaya makin kenal aja sama sie. Kira-kira lanjut novel tentang sie dan fero nggak nih?
__ADS_1
Kalau coment lagi, aku makin semangat ngetik, coment ya gaes.