
Yeay, akhirnya balik. Selamat membaca semua\~
***
Satu minggu kemudian…
Raya tidak tahu bagaimana caranya ia menjawab pertanyaan dari Mamanya. Pertanyaan sekaligus sebuah perintah untuk menjauhi Daren, tentu saja bukanlah hal yang ia inginkan. Belum lagi, pernyataan Daren kemarin yang ia anggap layaknya sebuah pernyataan cinta.
Raya benci semua ketidakpastian ini.
Biasanya ia akan menceritakan semuanya kepada Aila. Namun, ia terpaksa menelan semua permasalahannya sendiri karena hubungan keduanya yang tengah tidak akur. Mengharapkan maaf dari Aila juga rasanya percuma, semua itu adalah kesalahannya.
Kamar bernuansa biru laut dengan lampu yang sengaja dimatikan menjadikan Raya bagai perempuan yang berada di kegelapan. Ditambah gordyn besar yang sengaja di bentangkan, membuat Raya semakin asik bertarung dengan pikirannya didalam gelapnya kamar Raya.
Raya mengambil ponselnya yang terbaring di nakas keci di sebelah kasur besarnya, ia harus segera berdamai dengan Aila. Terangnya sinar dari smartphone milik Raya nampak paling menarik perhatian. Roomchatnya dengan Aila sengaja dibuka dan siap mengirim pesan kepada adiknya itu.
Ke es krim Mang Ucuy yuk?
Kirim.
Pesan tersebut berhasil dikirimkan kepada Aila, tanpa menunggu lama, adiknya itu segera membalas pesan yang selama ini ia tunggu.
Ngga bisa kak, besok aja kapan-kapan. Lagi pula aku masih di Bali, liburan.
Bibir Raya mengerucut karena jawaban Aila yang tak sesuai harapannya. Mati sudah harapannya untuk menghabiskan sisa libur cutinya yang rasanya sia-sia. Sudah seminggu ini juga, Raya tidak menerima sebuah pesan dari Daren, laki-laki yang ia tunggu.
Pemikiran Raya berkelana, memikirkan Daren yang rasanya seperti main-main dengannya. Perasaan senang saat mendengar apa yang Daren katakan, ternyata tak bertahan lama. Pria itu membuatnya kesal karena tidak mengiriminya pesan satu pun.
__ADS_1
Apa dia masih sakit?
Entahlah, Raya tidak mau memikirkan Daren yang membuat moodnya hancur beberapa hari ini. Dari dalam kamarnya, Raya terus berpikir tentang hal yang harus ia lakukan. Dirinya tidak boleh diam saja, Raya harus segera menemui Daren dan menanyakan semuanya. Membuat semuanya menjadi jelas.
Raya bangkit dari ranjang tempat tidurnya dan membuka gordyn agar cahaya matahari yang mulanya malu-malu, bisa leluasa memasuki kamarnya. Dengan langkah cepat, Raya memasuki kamar mandi yang berada di luar kamar dan bersiap menemui Daren, laki-laki yang beberapa hari ini menghantui pikirannya.
Usai mandi dan berdandan sedikit, Raya kini siap menemui Daren dengan setelan kaos lengan panjang lalu memadukannya dengan sebuah jeans panjang. Tidak lupa, Raya mengikat kuda rambut panjangnya. Ditemani lipstick merah di bibirnya, Raya sudah terlihat cantik untuk dirinya sendiri.
***
Berbekal alamat yang baru saja Sella berikan, Raya melajukan mobilnya menuju sebuah apartemen yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Alamat itu adalah tempa tinggal Daren yang sekarang ia tempati, laki-laki itu memilih tinggal sendiri usai Renata menemani suaminya di Jepang.
Daren hanya tinggal sendiri, Rachel kini tinggal bersama Sella yang memang tidak bekerja karena tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya. Sengaja Sella mengambil alih dalam menjaga Rachel, karena Daren belum tentu kembali ke apartemennnya karena terlalu sibuk bekerja.
Mobil Raya berhenti di parkiran apartemen dan mengambil sebuah kertas yang berisi alamat Daren. Sengaja Raya tidak bilang kalau akan menemui pria itu. Biar saja, ia mau melihat ekspresi laki-laki itu saat ditemui secara mendadak.
“tiga belas, empat belas,… nah, ketemu!” sudut bibir Raya naik karena berhasil menemukan tempat tinggal Daren. Dengan tidak sabar, Raya menyentuh bel yang ada di hadapannya.
Sesuai harapannya, pintu tersebut terbuka dan menampilkan Daren yang tampak awut-awutan. Kaos polos berwarna putih serta celana pendek warna biru tua itu menghiasi tubuh atletis milik Daren.
Ekspresi terkejut tidak bisa Daren sembunyikan. Tidak biasanya Raya datang memakai lipstick merah saat bersamanya. Perempuan itu nampak sangat cantik, Daren memujinya.
“Hai…” sapaan Raya terasa kaku walaupun ia sudah tersenyum semanis mungkin. Daren menyandarkan tubuhnya di pintu dan memperhatikan Raya yang tiba-tiba saja datang ke tempat tinggalnya.
Sontak Daren berucap, “Rachel lagi di rumah mama, Ray. Dia nggak tinggal disini lagi.”
“Eh, bukan cari Rachel….” Raya menggaruk tengkuknya karena canggung sekaligus takut melihat Daren yang berubah menjadi dingin. Tidak ada tatapan bersahabat seperti biasanya, “aku cari kamu.”
__ADS_1
Sedikit lega dapat Raya rasakan karena ia akhirnya dapat mengungkapkan apa yang selama ini ingin ia katakan, kalau Raya mau menemui Daren. Namun, tidak ada senyum yang biasa Daren munculkan saat tengah bersama Raya. Pria itu seolah tak acuh dengan apa yang ia ucapkan.
“Udah kan?” tetap saja, pria itu tetap dingin.
“Daren, kita harus ngobrol.” Protes Raya karena Daren yang nampak berusaha menjauhinya. Tanpa izin dari sang pemilik, Raya memasuki apartemen Daren dan membiarkan Daren mengikutinya. “Kamu kenapa sih?”
“Kamu tau apartemen aku dari mana?” tanya pria itu, tepat dibelakang Raya. Tubuh Raya berbalik, dan ada Daren dihadapannya. Melihat Daren yang terlalu tampan, bulan sabit di bibir Raya muncul. “Emangnya ada yang lucu?”
“Jangan alihin pembicaraan diantara kita, Daren.” Tegas Raya yang masih berdiri dihadapannya. Perasaan gugup kembali menyelimuti Raya, sudah beberapa kali pula perempuan itu membuang nafas berat. “Jelasin ke aku, apa maksud ucapan kamu seminggu yang lalu?”
Ekspresi terkejut Daren perlihatkan saat mendengar ucapan Raya, “maksud kamu?”
“Seminggu yang lalu, waktu sebelum kamu pingsan.”
Daren, laki-laki itu seperti menolak menjawab pertanyaan Raya. Beberapa kali pria itu membuang pandangannya ke segala arah, demi tidak bertemu pandang dengan Raya yang lebih pendek darinya.
“Jawab, Daren.” Pinta Raya.
“Jawab apa sih?”
***
Pengen liat ih, yang pada penasaran siapa aja. Terima kasih sudah baca\~
Mari berteman dengan ku
Wa 08578093-2441
__ADS_1