
Flashback saat Raya dan Daren sekolah ya~
“Daren, hari ini mau kemana?” Raya memegang kedua bahu Daren untuk membantu menyeimbangkan tubuhnya saat menaiki motor milik Daren. Sore ini, Raya baru saja pulang setelah membantu beberapa temannya untuk privat, termasuk Daren.
Daren mendapatkan hukuman untuk privat karena ia tidak mengerjakan tugas di beberapa mata pelajaran. Harusnya, Raya yang mendapatan privat itu, karena Daren lah yang selama ini membantunya mengerjakan tugas.
Melelahkan memang menjadi seseorang yang mendapat beasiswa, selama di sekolah Raya pasti selalu di cecar untuk jadi yang paling unggul dalam setiap mata pelajaran. Seharusnya, Raya berterima kasih kepada Daren yang selalu membantunya, bahkan sampai rela mengambil privat karena kesalahan Raya.
“Mau ke es krim mang ucuy, nggak?” tanya Daren sebelum ia memakai helm full-face miliknya.
“Yaudah, eh tapi sekalian ngerjain tugas sejarah ya?” Daren kembali mengabaikan pertanyaan Raya, memang selalu seperti itu.
Dasar, cowok sok dingin. Pikir Raya dalam hati.
Setengah jam keduanya menuju kedai es krim Mang Ucuy yang memang jadi tempat tongkrongan Raya dan Daren selama lebih dari setengah tahun. Saat ini, keduanya sudah duduk di bangku kelas dua, masa-masa bandelnya kata orang mah.
Turun dari motor Daren, Raya masuk duluan meninggalkan Daren yang tengah memarkirkan motornya. Kedai yang ada di pinggir jalan itu biasanya sangat ramai, namun kali ini terlihat tidak terlalu ramai seperti biasanya.
“Mang Ucuy, es krim mangga satu.” Teriak Raya yang tengah memasuki kedai itu dan menempati tempat duduk di paling pojok dekat jendela. Kedai ini dihias dengan gaya rumah bamboo dan beberapa tempat yang diisi sofa khusus tidur. Tentu saja Raya menempati sofa itu yang hanya ada beberapa disini.
“Siap Neng,”
__ADS_1
Dari tempatnya duduk, Raya dapat melihat Daren yang memasuki kedai ini dan berbicara sesuatu dengan Mang Ucuy—pemilik kedai ini. Sepertinya, Daren tengah memesan es krim yang ia inginkan.
Tak menunggu lama, Daren berjalan menuju Raya yang menanti laki-laki itu di sudut ruangan. Daren membuka jaket yang ia gunakan dan memberikannya kepada Raya. Sementara, Raya menerimanya dengan senang hati dan membantu melipat jaket tersebut.
“Woi, keluarin buku sejarah lo.” Titah Raya saat Daren baru saja duduk di sofa sebelahnya. Raya melihat, beberapa orang yang di sekitar mereka memperhatikan keduanya. Daren melempar tatapan dingin kepada semua orang yang memperhatikan mereka, bersamaan dengan wajah Raya yang memang cantik namun tak terlihat bersahabat.
Setelah satu tahun berteman dengan Daren, rasanya wajah Raya yang awalnya terlihat bersahabat semakin berubah sejak bertemu Daren. Pria itu banyak mengubahnya, selain wajahnya yang berubah jadi super jutek, Raya juga jadi perempuan yang berani melawan beberapa kakak kelas yang mengganggunya.
Apalagi mengingat kejadian tadi pagi, ketika Raya dijambak karena dianggap sebagai pengganggu hubungan Daren dengan perempuan yang merupakan teman seangkatannya. Sebenarnya Raya kesal sih, tetapi ya sudahlah. Tidak ada gunanya juga melawan mereka, anak-anak yang modal otot.
Sejujurnya, Raya lebih khawatir beasiswanya akan dicabut jika ia terkena masalah dengan kasus berebut cowok—eww. Itu bukanlah gaya Raya ketika menyukai laki-laki. Raya punya cara yang lebih elegan, menurutnya.
“Emang gua aneh ya?” bisik Daren yang tepat berada di telinga kiri Raya. Suara itu sangat kecil sampai Raya mendekatkan telinganya dengan wajah Daren.
“Kata mereka, gua ganteng kayak badboy-badboy gitu.” Bisikan Daren selanjutnya membuat Raya memandang laki-laki tampan yang katanya kayak badboy-badboy gitu.
Raya mengeluarkan buku paket sejarahnya dan berkata kepada Daren, “Badboy itu, nongkrongnya sambil ngerokok, bukannya makan es krim sambil ngerjain tugas sejarah.”cibir Raya selanjutnya.
"Ini gua beda, nongkrongnya sama cewek cantik dari Cihap." ujar Daren yang membuat pipi Raya panas, Raya membuang muka ke segala arah dan berusaha terlihat normal.
"Gombalan lo udah nggak mempan ya, nggak usah modus, kayak ganteng aja." kikik Raya.
__ADS_1
“Eh, kepala lo masih sakit nggak?” tanya Daren kemudian. Dia cuma berusaha mengalihkan pembicaraan diantara keduanya. “Sorry, Sinta emosi.”
“Emosi gara-gara cintanya diabaikan sama lo? Ya jangan jadiin gua pelampiasan juga dong.” Daren hanya terkekeh melihat kekesalan Raya yang ada disebelahnya, wajahnya tersenyum cantik saat bersama Daren. “Lagian lo jangan terlalu cuek sih, jadi cowok kok nyebelin!”
“Abis dia jadi cewek gitu banget.” Raya mengerutkan dahinya dan bingung mendengarkan ucapan Daren yang ambigu—menurutnya. Raya menatap beberapa orang yang sekarang sudah tak lagi memperhatikan Daren dan Raya.
“Gitu, maksudnya?” tanya Raya berusaha memperjelas apa yang Daren ucapkan.
“Ray, sekarang gua tanya, emang perempuan kalau suka sama orang harus kayak Sinta?”
“Daren, ngomong yang jelas sih. Gua tuh ngga ngerti!”
“Gua tuh nggak suka sama cewek yang terang-terangan bilang suka gitu.” Kata orang, Daren adalah orang yang sangat dingin. Tetapi coba lihat yang sekarang, bukan Daren yang dingin, apalagi di depan Raya.
“Kenapa enggak suka?” tanya Raya.
*Aelah, paling mau modus lagi*, pikir Raya dalam hati.
“Nggak apa-apa, nggak suka aja.” Ujar Daren.
“Kalau gua yang bilang suka sama lo?”
__ADS_1
***