
“Onti, aku nggak mau dijemput Onti Melisa lagi. Aku takut dicubit,” ucap Rachel yang duduk disebelah Raya tengah memakan es krim miliknya. Raya mengambil gelas berisi jus alpukat dan meminum sedikit melalui sedotan.
“Emangnya, onti Melisa itu sering cubit Rachel?” pertanyaan Raya dijawab dengan anggukan dari anak itu.
“Setiap aku di jemput Onti Melisa, pasti di cubit. Aku ngga suka.” Rachel kembali memakan es krim rasa berry tersebut. “Onti, Uti masih di Jepang, Onti mau jemput Acel nggak? Papa sibuk terus, Acel nggak mau dijemput nenek gombreng.” Raya tertawa.
Nenek gombreng, ngakak so hard.
“Kok kamu bisa manggil Onti Melisa ‘nenek gombreng’ sih?” Raya ikut mencicipi es krim itu yang terasa nikmat.
“Dia kalau nggak marah-marah pasti teriak-teriak, kan kayak nenek gombreng.” Ucap Rachel yang diakhiri tawa. “Papa aja sampai capek dengerin nenek gombreng. Kayaknya, sekarang Papa lagi ngusir nenek gombreng deh.”
Raya sibuk memperhatikan Rachel yang sedari tadi berhenti menangis dan mulai tertawa. Benar kata wanita bernama Melisa itu, Rachel memang anak yang aktif dan banyak bicara. Tetapi, Rachel tetap saja anak kecil yang membuat Raya gemas karena tingkahnya.
Belum lagi soal nenek gombreng.
“Onti Melisa mau menikah sama Papa.” Raya mengalihkan perhatiannya kepada ucapan Rachel yang mulai aneh. Anak berumur empat tahun, namun sudah paham mengenai pernikahan.
__ADS_1
“Rachel tau darimana?” tanya Raya yang kini menjadi penasaran dengan hubungan Melisa dan Daren.
“Onti Melisa bilang ke Acel, katanya mau jadi mama Acel.” Rachel mengalihkan pandangannya ke sekeliling kedai es krim yang ada di pinggir jalan ini. “Onti, kenapa Papa nggak menikah sama Onti Raya aja? Aku mau punya mommy cantik kayak Onti Raya.”
“Teman-teman aku bilang, Acel, mama kamu cantik banget tau.” Ucap anak itu sembari berusaha menirukan suara temannya saat mengatakan itu di dalam kelas keesokan harinya.
Sesekali mengedarkan pandangan Raya ke interior kedai ini, mengingatkannya dengan kejadian sembilan tahun lalu. Saat pertama kali mengajak Daren ke tempat ini, tempat kesukaannya. Kadang, Raya akan memesan tiga porsi es bergantian sampai tak terasa mereka sudah duduk disana terlalu lama.
Sampai Sembilan tahun, tampat ini tidak pernah berubah. Semua interior itu masih sama, dan seperti kenangan hari itu, semua masih sama, tidak sedikitpun Raya lupa.
“Onti, kalau Acel panggil Onti Raya, Mommy, boleh?” Rachel bicara lagi dan kini mendongak menatap Raya yang bingung. “Boleh nggak Onti?” tanyanya lagi.
“Semoga Onti jadi Mommy Rachel beneran deh,” anak yang tengah menatap Raya itu mengerutkan keningnya dan membuat Raya kembali bingung. “Onti kok ngga amin?”
Ucapan Rachel barusan membuat Raya bergaya seperti berdo’a dan kemudian bilang, “Amin.”
Di hati aku biasa aja ya, aku nggak suka Daren loh. Beneran, suer dah. Pikir Raya dalam hati.
__ADS_1
Ponsel Raya dari dalam tak kecilnya bergetar dan mengeluarkan suara ringtone tanda ada panggilan masuk. Buru-buru Raya mengeluarkan ponsel itu dan melihat si pemanggil. Daren Ganteng.
Lagi-lagi aku lupa ganti nama ini.
“Mommy, besok kita pergi beli boneka yuk?” ajakan Rachel kepada Raya tak dipedulikan. Raya malah sibuk mengangkat panggilan tersebut dan membiarkan panggilan tersebut di loud speaker, supaya Rachel bisa mendengar suara Papanya.
“Rachel, Papa telpon.” Rachel antusias dan mendekatkan diri kepada Raya yang menaruh ponselnya di meja.
“Raya?” suara Daren muncul sebagai pembuka obrolan mereka.
“Papa!” Rachel memanggil Papanya yang ada di sebrang sana. “Aku beli es krim sama Mommy loh,”
“Mommy?” ucap Daren yang terdengar sebagai pertanyaan untuk Raya dan Rachel.
“Iya, aku manggil Onti Raya, Mommy. Bagus kan?” ucap Rachel yang menjawab sambil menghabiskan es krimnya.
“Acel, Papa nggak setuju.”
__ADS_1
***