
Yang nungguin cung!!
***
Berada terlalu dekat dengan Daren, ternyata bukan pilihan yang bagus untuk jantung Raya. Sedari tadi, jantungnya terpompa dua kali lebih cepat karena melihat wajah Daren yang tidak seperti biasanya. Beberapa kali Raya harus menahan tangannya sendiri supaya tak lancang memegangi rambut berantakan yang menggodanya.
“Jawab, Daren.” Pinta Raya.
“Jawab apa sih?” ucap Daren tak mau kalah.
“Kenapa kamu beberapa hari ini menjauh? Aku ada salah? Apa ini ada hubungannya dengan pernyataan cinta kamu itu? Atau, kamu nggak suka ada aku?”
“Aku bercanda soal yang itu,” kata-kata itu keluar dengan mulus dari bibir Daren yang dapat Raya lihat kala ia mendongak.
“What?!”
__ADS_1
“Kamu tanya soal pernyataan cinta kan? Oke, fine. Sorry, aku bercanda.” Wajah datar Daren dan ucapan pria itu sukses membuat Raya terdiam membisu. “Aku salah karena nggak berpikir jangka panjangnya, sorry.”
“Oke, selama ini kamu beneran cuma bercanda? Kita ngelakuin semuanya bareng dan kamu cuma anggap ini lelucon?”
“Aku minta maaf, Raya.” Tegas Daren saat melihat Raya yang marah dengannya.
Semakin banyak bicara, Raya makin terlihat seperti perempuan yang mengemis sebuah cinta dari Daren yang sama sekali tidak mempedulikannya. Raya menguatkan hatinya, berjanji tidak akan mengeluarkan air matanya. Walau sepertinya tidak bisa.
Benar kata Mamanya, pantass saja Gina yang lebih setuju jika Raya dengan Reza. Mencintai Daren kedua kalinya memang bukanlah solusi terbaik untuk Raya. Seorang sahabat memang sebaiknya tetap berakhir sebagai sahabat kan?
“Iya, cuma itu” Kalau sudah begini, Raya cuma bisa berusaha sok tegar melihat Daren yang baru saja mematahkan impiannya. Raya tidak akan bisa membuat Mamanya percaya kalau Daren mencintainya, itu tidak akan pernah terjadi. “Maaf, ganggu kamu”
“Yaudah, bisa pulang sekarang?” pertanyaan Daren jadi teguran halus untuk Raya yang barusaja mengganggu minggu pagi milik Daren dengan sebuah kunjungan yang tidak laki-laki itu inginkan. “Pulang, Ray. Aku bukan lagi rumah kamu.”
Raya tersenyum paksa memandang manik coklat milik Daren, tampak indah seperti biasanya. Kepalanya tertunduk pasrah. Melangkah menuju pintu depan yang hanya berjarak lima meter. Harapannya harus ia tinggalkan, dia tidak boleh egois.
__ADS_1
“Aku nggak mau kamu masih terus di dekat Rachel, anak itu harus tau kalau kita punya Batasan.” Ujar Daren saat Raya tengah berjalan menuju pintu. “Kamu bisa lanjutin hidup kamu seperti biasanya, tanpa aku”
Emosi Raya memuncak mendengar ucapan Daren yang seolah menendangnya jauh. Membiarkan perempuan itu pergi meninggalkan kehidupannya dan berjalan sendirian seperti sebelumnya. Air mata Raya menetes, tanpa disengaja. Membasahi pipi tirus perempuan berkaos abu-abu putih dengan lengan panjang tersebut.
Tubuh Raya berbalik melihat laki-laki yang tidak sedikitpun membalikkan tubuhnya. Daren, laki-laki angkuh penuh keegoisan itu tetap saja tidak mau mempedulikan Raya yang merupakan sahabatnya.
“Kalau sejak awal ini cuma bercanda, kenapa harus aku?” tanya Raya kemudian, dirinya tidak terima jadi korban permainan Daren yang tidak lucu baginya. “Aku mau tanya itu,”
Tanpa membalikkan tubuhnya, Daren menjawab pertanyaan Raya, “Kalau aku bilang karena kamu bodoh, itu terlalu jahat nggak?” sekali lagi, Raya menyesal menanyakan hal yang seharusnya tidak ia tanyakan. Lelaki itu pasti semakin puas menyakiti perasaannya.
“Jahat,” tangan Raya meraih knop pintu apartemen tersebut dan membuka pintu tersebut, meninggalkan Daren yang semakin kacau dengan perasaannya.
***
Semoga suka~
__ADS_1