Fly With Me (REVISI)

Fly With Me (REVISI)
Episode 32


__ADS_3

“Ma, gimana di Jepang?”


Renata menelpon Daren disaat yang tidak tepat. Saat ini, Daren tengah menyetir menuju kediaman keluarganya dan menjemput Rachel yang sejak kemarin menginap disana. Sudah sejak kepindahan Renata ke Jepang, Daren memilih tinggal di rumahnya sendiri.


“Kapan mau kenalin Raya ke keluarga besar kita Daren?” tagih Renata yang sampai saat ini tidak mendengar laporan kemajuan dari beberapa orang yang bekerja dengannya. Kesal sendiri, akhirnya Renata memilih menelpon Daren dan menagihnya langsung.


Selama ini, Renata sudah menyuruh beberapa orang untuk mengamati Daren dan Raya. Sudah berkali-kali Renata bilang kepada Daren tentang keinginannya menjadikan Raya menantunya, namun Daren tetap saja tidak pernah mendengarkannya.


“Ma, nggak bisa.” Jawab Daren dengan nada yang terdengar pasrah.


“Kenapa Daren? Kamu bertengkar lagi sama Raya?” tanya Renata melalui sebuah smartphone yang terhubung telepon dan suaranya sengaja Daren perbesar.


“Bukan, Ma. Ini lebih rumit,”


“Apa? Cepetan kasih tahu Mama, Daren. Masa kamu nggak kasihan sama Rachel sih, dia butuh Mama.” Daren tidak memperhatikan ucapan Mamanya, tubuhnya yang lemas sejak semalam semakin memburuk. “Bilang ke Sella juga, kasih tahu mama kapan dia mau menikah sama Fero.”


Kepala Daren semakin pening dan beberapa  kali membuatnya menjambak rambutnya sendiri. “Ma, Raya mau menikah sama orang lain.”


Renata terdiam sejenak lalu terdengar lagi suara Renata yang menanyakan satu hal, “Raya bilang ke kamu?”


“Iya.”


“Dia mau terima apa enggak?” tanya Renata lagi.


“Nggak tahu, katanya masih bingung.” Layaknya orang yang tak bertenaga, Daren hanya manjawabnya dengan pasrah, tidak lagi mempedulikan apa yang akan Renata katakan lagi.


“Terus, kamu bilang apa?”


“Terima aja.”

__ADS_1


“Pintar banget kamu, Daren. Relain permata kamu diambil orang lain.” Suara Renata naik karena marah mendengar jawaban Daren yang terdengar, seperti orang yang bodoh. Anaknya itu membuatnya tidak bisa mendapat menantu yang ia inginkan.


“Aku cuma sahabatnya, Ma. Nggak ada berhak untuk melarang, biarin aja Raya bahagia.” Jelas Daren.


“Perasaan kamu ke dia itu beda, mama yakin banget Daren.”


“Aku yang nggak yakin sama perasaan aku ma, Raya pasti bakal marah banget kalau aku bilang aku nggak mau dia menikah sama orang lain.” Sekali lagi, Daren menjelaskan semuanya  kepada Renata.


“Terus, kamu mau nyakitin perasaan kamu?”


Tak ada suara yang muncul dari bibir milik Daren, perkataan mamanya membuatnya membeku. Daren kembali mempertanyakan hatinya, parasaan apa yang ia rasakan saat bersama Raya. Lalu, perasaan marah apa yang ia rasa saat melihat Raya membicarakan Reza.


Daren tidak tahu.


“Ma, aku lagi nyetir. Nanti aku telpon lagi ya,” Daren memasuki parkiran apartemen Raya dengan mobil yang dikendarainya.


Usai memarkirkan mobilnya, Daren keluar dari parkiran mobil tersebut lalu memasuki lobby apartemen yang ramai orang lalu lalang. Langkahnya berhenti saat dihadapannya ada sebuah pintu lift yang masih tertutup. Bersama dua orang lainnya, Daren memasuki lift tersebut.


Daren tersenyum saat ada Aila disebelahnya, “Ada di rumah?”


“Ada bang, oh iya, nanti abang langsung ketuk kamar Kak Raya aja ya, aku masih mau keluar lagi.” Ujar Aila yang memang tak ingin bertemu dengan kakaknya karena hubungan mereka yang sedang tidak baik.


Ting!


Pintu lift itu terbuka lantas Daren dan Aila keluar dari lift tersebut dan berjalan beberapa langkah hingga akhirnya keduanya sampai. Aila masuk ke dalam apartemen tersebut diikuti Daren, tangan Aila menunjuk sebuah kamar yang sudah tiga bulan lebih ditempati Raya tanpa mengeluarkan suaranya.


Daren berdiri di depan pintu yang kata Aila ditempati oleh Raya. Dengan wajah yang pucat pasi, Daren mengetuk pintu tersebut.


Tok Tok Tok

__ADS_1


Namun, tidak ada jawaban.


Lagi-lagi Daren mengetuk, akhirnya ada sebuah suara dari dalam. “Sebentar,”


Tubuh Daren disandarkan di sebuah dinding yang ada disebelah pintu, tubuhnya sangat lemas. Daren melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi dan dia sudah berada di apartemen Raya untuk menemui perempuan keras kepala itu.


Sebelum Aila hilang dari pandangan Daren, ia sudah melihat Aila yang memasuki kamar milik Aila sendiri. Daren kembali berbalik badan, menunggu perempuan yang tengah ia tunggu untuk membuka pintu.


Pintu yang sejak tadi ia buka akhirnya terbuka, menampilkan cantiknya Raya yang memakai baju santai dengan rambut yang di gerai. Wajah terkejut dari Raya bisa Daren lihat sesaat setelah membuka pintu kamarnya.


“Daren,” suara Raya muncul karena ia terkejut dengan Daren yang muncul dengan wajah yang pucat. “Kamu sakit?”


Tanpa membalas ucapan Raya, tubuh Daren maju mendekat ke tubuh perempuan itu. Memeluk Raya lalu membiarkan wanita itu merasakan suhu tubuh panas yang Daren miliki.


“Kamu sakit, Daren” ucap Raya lagi.


Masih memeluk Raya, Daren tak sedikitpun melepas pelukan itu. Tangan Raya perlahan naik, membalas pelukan dari orang yang disayanginya. “Ray…”


“Hmm?” jawab Raya. Tangan Raya mengelus punggung Daren yang ikut memanas. Daren biasanya sakit karena banyak pikiran.


“Maaf, aku mau egois.” Bisik Daren tepat di telinga Raya, hembusan nafas panas dapat Raya rasakan hingga membuatnya sedikit merinding.


“Egois?” tanya Raya kemudian.


“Aku sayang kamu, Ray.”


***


Absen dong, banyakan Team #RaRez atau Team #RaDar

__ADS_1


Jangan lupa komentar yaa....


__ADS_2