Fly With Me (REVISI)

Fly With Me (REVISI)
Episode 17


__ADS_3

Raya memasuki kantor Pak Nata, kepala HRD di perusahaannya. Di dalam kantornya, pria berumur lima puluh tahunan itu tengah membaca sebuah berkas. Kedatangan Raya membuatnya menghentikan aktivitas itu dan kini sibuk memperhatikan Raya yang terlihat kesal.


“Apakah anda sudah mendapat pesannya?” tanya Pak Nata yang terdengar seperti sapaan untuknya. Pagi hari ini bukanlah hari yang menyenangkan untuk Raya, tentu saja ini semua karena Daren.


“Pak Nata, saya keberatan dengan surat pemanggilan itu. Saya tidak melakukan apapun saat pesta itu.” Protes Raya karena pesan yang ia dapatkan pagi ini.


“Saya hanya menjalankan perintah Pak Daren, Bu Araya.” Ucap Pak Nata yang tetap sopan kepada calon istri bosnya itu. “Beliau yang meminta saya memanggil anda melalui surat itu.”


“Pak Daren memerintahkan anda menemuinya. Saya harap, anda bisa menemuinya agar masalah ini cepat selesai. Anda bisa ke kantornya sekarang, itu perintah Pak Daren.” Tanpa menjawab, Raya menarik kopernya keluar dari ruangan itu.


Saat menutup pintu ruangan Pak Nata dari luar, Raya melihat banyak mata yang memperhatikannya. Mereka beberapa kali membicarakan Raya dan menatap sinis kepadanya. Apa mereka membicarakan make up Raya yang terlihat berantakan?


Sialan, sekarang mereka memperhatikan aku.


Dengan jurus seribu bayangan milik Naruto, Raya meninggalkan kantor pusat Angkasa Air dan segera manuju gedung Bagaskara Group yang tak jauh dari sana. Daren sedang mempermainkannya, dasar laki-laki kurang ajar!


***


Flashback 

__ADS_1


Perasaan Raya tak karuan, hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah. Sebulan yang lalu, Raya mengikuti seleksi beasiswa kurang mampu dari SMA Citra Harapan, salah satu sekolah swasta yang termasuk sekolah favorit.


Dibuat galau menunggu selama satu minggu, akhirnya pengumuman itu keluar. Terdapat tiga nama yang berhasil mendapat beasiswa pendidikan selama lebih dari 50%. Raya menutup matanya, ia tak siap membaca tiga nama itu.


Harapannya hanya satu, ia dapat lolos dalam seleksi itu. Selama satu tahun bersekolah, Raya sudah mengumpulkan banyak prestasi dari SMP lamanya. Ia juga mengikuti banyak olimpiade supaya dapat memperbesar peluangnya lolos dalam seleksi ini.


Intinya, seleksi ini mempertaruhkan hidupnya. Raya perlu beasiswa ini, sangat perlu. Raya tidak bisa melihat Mamanya tidak pulang demi bisa membiayai sekolahnya, seperti sejak dua tahun lalu. Belum lagi, Aila—adiknya barusaja naik ke kelas enam dan sudah pasti akan banyak pengeluaran yang diperlukan.


Sejenak Raya berdo’a, meminta Tuhan supaya hatinya dilegakan. Kalau ini bukan rezekinya, Raya akan berusaha ikhlas. Raya menguatkan hatinya untuk membuka mata, ia tak akan kecewa lagi.


“Kak, kamu lolos beasiswa loh. Buruan di cek, Mama mau urus ke sekolah kalau beneran.” Gina bicara dari ruang tamu sembari membuka website pengumuman. Raya memandang tiga nama dalam website tersebut. Benar, namanya terdapat diantara dua nama yang ada disana.


“Selamat pagi semuanya.” Bu Ari mengintrupsi semua murid yang tengah menulis dihadapannya dan membuat mereka memperhatikan Bu Ari serta seorang anak perempuan seumuran yang dibawa guru piket itu.


*Beberapa diantara mereka mulai berbisik ke teman sebangkunya. Mereka membicarakan Raya yang sepertinya sudah dikenal, sebag*ai siswa penerima beasiswa. Wajah Raya terasa kaku, walau hanya sekedar memunculkan sebuah senyuman kecil. Dia gugup.


“Silahkan perkenalkan nama kamu.” Bu Ari mempersilahkan Raya bicara. Raya memegang tangannya sendiri yang sudah dingin entah sejak kapan.


“Perkenalkan, nama saya Araya Caitlin. Saya murid baru disini, saya harap kita semua bisa ber—” belum selesai Raya memperkenalkan dirinya, semua mata kini terarah kepada pintu masuk yang dimasuki seorang laki-laki dengan tubuh jangkung.

__ADS_1


“Maaf bu, saya terlambat.” Raya diam di tempat, laki-laki itu melihatnya. Dalam hati pria itu, mempertanyakan tentang seorang gadis yang ada dihadapannya.


*Anak baru?*Pikir Daren.


“Langsung duduk di tempat kamu, Daren. Besok-besok jangan diulangi lagi.” Suara Bu Ari menyadarkan Raya yang sedari tadi bengong melihat cowok yang kebasahan karena keringat—totalitas gantengnya.


Daren berjalan ke kursi paling depan di hadapan Raya. Matanya tak sedikitpun berhenti memperhatikan Raya yang berusaha menyibukkan matanya melihat sekeliling. Ada satu hal yang dipikirkan Daren yang wajahnya dipenuhi keringat setelah berlari mengelilingi lapangan sepak bola.


Cantik.


“Raya, kamu duduk di manapun tempat yang kosong ya. Ibu tinggal keluar.” Bu Ari keluar dan meninggalkan kelas 10 IPS 1 itu.


“Raya, misi dong. Gak kelihatan tulisan yang didepan.” Ucap seorang yang tak Raya kenali. Tubuh Raya bergeser hingga tak menutupi papan tulis, matanya meng-absen setiap kursi yang tak ditempati.


“Woi…” suara pria itu—Daren. Entah dia memanggil siapa, Raya tak mengerti. “Jangan di depan, sini duduk disebelah gua.”


 Oh, oke. Dia memanggil kamu, Ray. Calm down.


***

__ADS_1


__ADS_2