
Jam tangan Raya sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Saat ini, Raya tengah mengendarai mobilnya, disebelahnya ada Rachel yang tertidur karena kelelahan. Usai membeli es krim di tempat kesukaan Daren dan Raya, Rachel mengajaknya membeli boneka di mall.
Dari kaca mobilnya, Raya dapat melihat beberapa boneka yang Rachel beli. Semuanya boneka Keroppi yang berbeda bentuk, ada sekitar tiga boneka disana.
Mobil yang Raya kendarai memasuki parkiran kantor Daren, dan memarkirkannya di pojok. Tangan Raya membuka pintu mobilnya dan membuka pintu sebelahnya. Mengangkat Rachel yang masih tertidur pulas.
“Engh…” Rachel menggeliat saat Raya berusaha menggendong Rachel dengan gaya memeluk, kedua tangan anak itu memeluk leher Raya, dan bersandar di bahunya. Dengan satu tangan dan hati-hati, Raya menutup pintu tersebut dan melangkah meninggalkan mobilnya.
Langkahnya ia arahkan memasuki lobby kantor Daren. Semua mata memperhatikan Raya yang baru saja memasuki kantor itu. Raya seperti seorang selebriti yang memang tengah dibicarakan di antara mereka. Tatapan mata mereka pun terlihat tidak bersahabat, membuat Raya bergidik ngeri.
Langahnya terhenti, ia dihadang Daren yang sepertinya akan keluar. “Eh, Daren.” Ucap Raya karena terkejut, tetapi tatapan Daren berubah jadi tak suka.
“nggak sopan.” Balasan Daren yang diluar dugaannya membuat Raya terkejut. “Saya ini bos kamu.” Suara Daren yang mendominasi lobby itu dan membuat semua mata memperhatikan keduanya.
Jantung Raya berdetak kencang, rasanya ia ingin memaki Daren di hadapannya. “Bapak, ini berat.” Raya berusaha memberi kode untuk meminta bantuan Daren agar bergantian menggendong Rachel. Namun, ekspresi yang Daren berubah menjadi bingung.
Apa maksudnya? itulah yang Raya tangkap setelah membaca ekspresi wajah Daren kepadanya.
__ADS_1
“…oh, calon istri?”
“…bukannya Bu Melisa yang pacarnya Pak Daren?”
“…itu yang digendong Rachel?”
“…fix Pak Daren digoda Raya.”
Melihat Daren yang tak kunjung peka dengan kode yang ia berikan, ditambah omongan yang tak sengaja Raya dengar. Moodnya sekarang kembali memburuk. Tanpa mempedulikan Daren yang masih bertanya tanpa bersuara, Raya berjalan menuju lift meninggalkan Daren.
“Araya Caitlin!” panggil Daren menginterupsi Raya yang tetap meninggalkannya walaupun ia mendengar suara panggilan itu. “Berhenti.” Lagi-lagi Raya tetap berjalan menuju lift.
“Biar aku aja,” ucap Daren yang sudah berdiri disebelahnya, tatapannya lurus menatap pintu lift yang terbuka. Pintu itu kosong, Daren masuk kesana tanpa rasa berdosa.
“Daren, ini aku keberatan.” Ucap Raya menahan emosinya kepada Daren. Setelah sekian lama, akhirnya Daren mengerti dengan apa yang Raya katakan. Tangan Daren terulur siap menerima Rachel yang masih tertidur digendongan Raya.
“Maaf, aku gak tahu.” Raya membiarkan Daren mengambil alih tugas menggendong Rachel. Raya masuk ke dalam lift itu dan perlahan pintu tersebut tertutup. “Aku baru aja mau jemput kalian.”
__ADS_1
Bodo amat, ngga peduli.
“Rachel rewel ngga tadi?” Daren membuka obrolan diantara keduanya. Namun, Raya tetap saja diam, tak mau menjawab pertanyaanya. “Ray, aku nanya.”
“Pertanyaan kamu nggak perlu aku jawab, Daren.” Lift yang mereka masuki terbuka dan saat ini Raya sudah ada di lantai tempat kantor Daren berada. “Kita harus selesaiin masalah kita dulu, kamu mah suka ulur-ulur waktu.” Saking kesalnya, Raya sampai harus mengomeli Daren di lift itu.
Daren berjalan lebih dulu dan meninggalkan Raya. Dibantu Hana yang bangun dari kursinya, pintu itu dibukakan oleh Hana. Raya menyusul Daren yang mengabaikannya, seperti tak ada seorangpun selain Rachel yang digendongnya.
Masuk ke dalam ruangan, Raya melihat Rachel sudah tertidur di sofa dan pria itu tengah berjalan menuju meja
kerjanya. “Daren, kamu dengerin aku ngga sih?” tanya Raya.
Pria itu berbalik dan berjalan mendekati Raya yang diam di tengah ruangan. Saat Daren berdiri di hadapan Raya, dijatuhkan tangannya di bahu perempuan itu, “Apa, sayang?”
Pipi Raya memerah dan jantungnya berdegup kencang, “Sayang? Peyang kali!” Raya berusaha menormalkan jantungnya yang dag-dig-dug ser. Raya mendongak menatap Daren lurus, memperhatikan wajah pria itu, temannya.
“Ngeliatin terus, aku tau aku ganteng.”
__ADS_1
***