Fly With Me (REVISI)

Fly With Me (REVISI)
Episode 15: UNTUK DIA


__ADS_3

 


 


FLY WITH ME


BAB 15


UNTUK DIA


***


***


“Happy birthday to you!” hanya berdua. Cuma Raya dan Aila yang ada di ruangan ini. Lebih tepatnya, suara Raya yang mengisi ruangan ini ketika Aila tengah melihatnya tak percaya. “Happy birthday, Al!”


“Kakak inget?” Aila antusias.


“Tiup dulu lilinnya,” Aila yang duduk di sofa memejamkan matanya, ia menyatukan jarinya lalu merapalkan do’a. Raya yang duduk di lantai mengikutinya. “Tiga, dua, satu.”


Api di dua lilin yang melambangkan angka dua puluh dua tahun itu ditiup lalu mati. Sekarang, Raya mengambil dua lilin tersebut. Sementara Aila mengambil pisau kue untuk memotongnya.


Satu potongan kue Aila berikan untuk Raya. Diatas potongan kue itu, Aila memberikan sebuah garpu khas ulang tahun yang disiapkan Raya.


“Harapan kamu, apa?” Raya bertanya. Sebenarnya, Raya lumayan ingin tahu tentang Aila yang lumayan tertutup dengannya. Adiknya itu tidak pernah membicarakan apapun soal laki-laki yang ia sukai.


Apa ia benar-benar menyukai Reza? Tapi kenapa tidak bilang saja dengan Raya. Kakaknya itu dengan siap membantu Aila dekat dengan Reza.


“Rahasia,” ucapnya singkat. “Kak Raya kapan terbang lagi?” Aila menaruh potongan kue yang kedua, lalu memakannya.


“Lusa,” Raya menguap karena kantuknya. “Oh iya, kamu ambil magang dimana?”


Tidak biasanya keduanya mulai membahas persoalan kuliah dan pekerjaan seperti ini. Tapi, entah kenapa semua itu keluar dari mulut Raya yang tidak bisa dikontrol.


“Di kantornya Bang Daren,” jawabnya.


Raya melongo, “Kamu kok bisa langsung dapat?” seingat Raya, adiknya ini baru mencari perusahaan untuk magang sejak minggu lalu. Tahu-tahu sudah dapat tempatnya.


“Bisa, lah. Kan ada orang dalam,” Aila terkekeh. “Aku waktu itu nanya ke Bang Daren tentang penerimaan magang, eh ternyata Bang Daren bisa langsung masukin ke perusahaan,”

__ADS_1


“Pasti ada acara negosiasi, nih” ucap Raya curiga. Perempuan itu melihat Aila dengan tatapan menyelidik, tapi percuma saja kalau Aila tidak takut.


“Tentu saja. Kakak tahu tidak yang Bang Daren minta, apa?” Aila mengajaknya bermain tebak-tebakan. Untuk apa? Raya sendiri bahkan tidak mengetahui sama sekali alasannya.


“Ya sudah pasti aku tidak tahu,” jawab Raya.


“Bang Daren minta di beritahu jadwal Kak Raya,” mata Raya melotot.


“Kamu kasih tahu semua jadwal? Memangnya kamu tahu?” jawaban Aila diawali dengan gelengan.


“Aku memang tidak tahu soal jadwal pastinya, tapi Bang Daren cuma minta diberitahu kalau Kak Raya tengah libur.” Raya menyipitkan matanya. Ragu dengan jawaban adiknya sendiri. “Serius cuma ngasih tahu gitu doang,”


“Tapi, Daren tidak menemui aku, tuh” jawab Raya yang kali ini mendapat tatapan meledek dari adiknya.


“Mau banget di temui Bang Daren?” kekeh Aila.


“Maksud aku, bukan gitu, Al.” timpal Raya. “Aku lagi diam-diaman sama Daren,”


“Lho, bukannya kemarin ketemuan?”


“Iya, aku kemarin jemput anaknya. Ngajak makan juga. Terus, tiba-tiba dia datang cuma jemput Rachel doang. Padahal, ada aku di sebelah Rachel!” Raya bercerita. “Yang parahnya, dia tidak bilang terima kasih!”


“Tidak, kok. Dia saja yang sensitive!” Raya sebisa mungkin mengalihkan perhatian Aila. Ia tidak ingin jika adiknya mulai membicarakan tentang Daren yang menurutnya lumayan pribadi.


Kue yang diambilkan Aila, akhirnya habis juga. Raya memilih menyudahi makan kuenya dan berjalan mengambil sebuah air mineral di dapur. Ia sengaja membawa sebotol besar berisi air mineral beserta satu gelas kecil untuknya.


“Mau minum?” botol serta gelas tersebut Raya taruh diatas meja. Bersebelahan dengan sebuah kue yang tadi ia siapkan untuk Aila.


“Oh iya, Kak. Aku boleh tanya sesuatu, tidak?”


Raya menuangkan botol berisi air itu ke dalam sebuah gelas. Sembari menuangkan, Raya menanyakan lagi apa yang mau Aila katakan. “Boleh, mau tanya apa?”


“Kakak ada perasaan sama Bang Reza,” buru-buru Raya menoleh melihat wajah Aila yang hanya biasa. Ekspresi wajahnya tidak bisa ditebak.


Raya memikirkan soal dirinya yang sering merasa aneh saat dengan Reza. Ia jadi mudah senang, padahal dulu juga biasa saja. Baiklah, Raya akan menyimpulkan kalau itu hanyalah perasaan senang memiliki teman.


“Engga,” perempuan di sebelah Raya tersenyum mendengar jawaban dari kakaknya.


“Kalau gitu, boleh tidak aku dekati Bang Reza?”

__ADS_1


Raya tidak bisa bicara apapun ketika Aila bilang begitu. Untuk pertama kalinya, Raya melihat Aila yang kegirangan karena Raya tidak punya perasaan apapun untuk Reza.


Dari pertanyaan serta respon balik adiknya, Raya bisa menyimpulkan kalau Aila punya perasaan berbeda untuk Reza. Perasaanya lebih. Dan Raya tidak punya alasan khusus untuk mencegah keduanya saling dekat.


“Tentu, mau aku bantu?” jawab Raya sebisanya. Hanya karena satu pertanyaan dari Aila, Raya tidak bisa berkata-kata lagi. Bukankah Raya sudah tahu tentang perasaan Aila, sebelum ia ke Bali beberapa bulan yang lalu, kan?


Dering ponsel membuyarkan semuanya. Ponsel Raya berbunyi karena ada panggilan dari seseorang. Raya membaca si penelpon. Panjang umur, ternyata dari orang yang tengah keduanya bicarakan.


“Boleh aku angkat teleponnya, Kak?” tanya Aila. Ia sangat bersemangat. Raya tidak bisa mengeluarkan ekspresi apapun selain anggukan.


Dengan segera, Aila mengangkat penggilan tersebut yang sengaja ia loudspeaker. “Halo, Bang Reza?” sapa Aila yang membuka obrolan keduanya. Raya memilih duduk diam sembari memperhatikan Aila yang tengah mejawab panggilan tersebut.


“Halo, Al. Ada Raya?” Aila tentunya melirik Raya yang mempertahankan pandangannya ke depan. Walaupun dalam hati, ia tengah berusaha mencuri pandang ke arah Aila.


“Lagi keluar, Bang. Ada apa, ya?” Aila berbohong. Dan Raya hanya bisa berdiam saja. Ia tidak mau merusak kebahagiaan sesaat Adiknya.


“Oh, gitu. Tolong tanyain Raya ya, dia lusa mau di jemput atau tidak. Tolong tanyai, ya” Raya mau tak mau menoleh, ia melihat Aila yang tak sebahagia sebelumnya.


“Iya, Bang. Nanti Aila tanyai. Oh iya, Bang Reza kapan liburnya?”


“Lusa, kayaknya sih,” jawab Reza diseberang sana. “Kenapa?”


Raya masih terus memperhatikan Aila yang kali ini tengah berpikir keras. Ada hal yang mau ia ucapkan, tapi ragu mengatakannya karena ada Raya disebelahnya.


“Kenapa, Al? Ada yang mau kamu omongin lagi, tidak?” suara Reza menginterupsi Aila yang terlalu lama berpikir. “Al?”


“Oh iya, Bang. Aila mau ngajak Bang Reza beliin kado untuk Kak Raya, Bang Reza mau?” Aila paham sekali. Cara satu-satunya mengajak Reza memang harus diawali dengan nama Kakaknya lebih dulu.


Namanya, tidak ada di daftar urutan orang terkasih untuk Reza.


“Raya ulang tahun bulan kemarin, ya?” tanyanya.


“Iya, Bang Reza mau?” Aila berusaha memastikannya.


“Ayo, biar sekalian aja.” Selanjutnya, saatnya Raya mundur pelan-pelan.


***


TERIMA KASIH LIKE & APRESIASINYA.

__ADS_1


__ADS_2