
Langkah kaki Raya membawa tubuhnya dan seluruh amarahnya masuk ke dalam ruangan besar bergaya simpel milik Daren. Setelah kemarin ia gagal untuk menemui Daren, akhirnya hari ini ia dapat menemui laki-laki itu diruangannya.
“Selamat Pagi, Raya. Apa kamu butuh sesuatu?” suara itu terdengar seperti sapaan sekaligus menertawai Raya yang wajahnya merah memendam marah.
“Kamu harus berhenti, Daren!” ucap Raya saat ia berhenti di depan meja besar Daren. Pria itu menahan tawanya, dan melihat Raya yang nampak cantik dengan dress selututnya.
“Aku nggak ngelakuin apapun, yang kamu maksud itu apa?” Daren tahu, perempuan itu pasti memarahinya karena menyebarkan gossip tentang Raya dan sebuah surat panggilan dari HRD itu.
“Daren, ini nggak lucu. Kamu tahu nggak, mereka ngomong apa aja? Sejak pesta itu, mereka selalu natap aku dengan sinis.” Raya mengeluarkan ponselnya dan membuka pesan dari HRD yang pasti ini akal-akalan Daren. “Ini ulah kamu juga kan?”
“Kenapa kamu yakin banget kalau ini ulah aku?” tanya Daren.
“Terus, siapa lagi?” tanya Raya balik.
“Kamu lebih baik pulang.” Daren memperhatikan Raya yang semakin marah karena jawabannya.
“Urusan kita belum selesai, Daren Bagaskara.” Raya ngotot ingin menyelesaikan masalahnya, kegagalan menemui Daren kemarin tak mau ia sia-siakan untuk hari ini.
__ADS_1
“Rachel sebentar lagi kesini, kalau kamu tetap disini, aku gak yakin—” ucapan Daren terpotong karena Raya.
“Aku gak peduli.” Raya melipat tangannya di depan dadanya dan mengibarkan bendera perang dingin diantara keduanya. “Pokoknya, masalah ini harus selesai hari ini. Titik.” Lanjut Raya.
“Kamu gak paham sama apa yang mau aku omongin, Ray. Pergi sekarang, atau kamu akan menyesal.” Ucap Daren memperingatinya sekali lagi.
“Nggak, Daren.” Raya tetap pada pendiriannya.
“Papa!” Rachel masuk ke ruangan Daren dengan wajah yang sembap. Setelah masuknya anak itu, ada perempuan yang masuk dengan wajah tak Raya kenali. Di pelukan Daren yang sudah bangun dari kursinya, Rachel menangis sesegukan.
“Daren, salah kamu ya karena nyuruh aku jemput Rachel. Dia itu berisik, ngomong mulu. Aku cubit deh. Aku nggak mau kamu salah-salahin!” wanita yang dipanggil—Mel itu melihat Raya yang berdiri di depan meja Daren. “Itu siapa?”
Pertanyaan yang Melisa tanyakan membuat Rachel berhenti menangis dan meminta turun dari gendongan Daren. “Onti.” Rachel berlari dan Raya menyatukan dengkulnya dengan lantai hendak menerima pelukan Rachel.
“Oh, pengasuh anak kamu. Bagus deh, nggak nangis lagi.” Raya yang mendengar itu menatap tajam Melisa yang tak jauh darinya.
Apa kata dia? Pengasuh? Kurang ajar!
__ADS_1
“Onti Raya, kita pergi yuk. Ada nenek gombreng disana tuh.” Rachel menunjuk Melisa yang kini memperhatikan anak itu.
“Nenek Gombreng?” Melisa tak percaya dengan apa yang anak bocah itu katakan. “Sayang, emang aku kayak nenek gombreng?” tanya Melisa kepada Daren yang sedari tadi berdiri diam memperhatikan mereka yang sibuk masing-masing.
Sekarang apa? Sayang? Emang ya, Daren itu player banget!
“Sayang, suruh pengasuh anak kamu pergi gih. Aku males lihat mereka.” Ucap Melisa yang masih duduk disana sembari bersiap menutup mata.
“Onti, kita pergi yuk. Biarin aja Papa sama nenek gombreng.” Rachel berusaha mengajak Raya pergi dari ruangan yang kini rasanya tak nyaman.
“Mbak, tolong ajak Rachel main dulu ya.” Ujar Daren yang belaga memerintahkan Raya yang sekarang menatap pria itu dengan tajam.
Mbak? Orang ini mau main drama atau gimana? Makin lama makin ngga bener!
Raya bangun dan menggandeng tangan kecil Rachel, “permisi Pak, saya pergi dulu.” Ucap Raya sebelum meninggalkan ruangan itu bersama Rachel.
***
__ADS_1