Fly With Me (REVISI)

Fly With Me (REVISI)
Episode 19


__ADS_3

***


“Maaf, bu. Pak Daren sedang pergi ke rumah Ibu Sella Bagaskara.” Ucap Hana saat Raya sudah ada di kantor Bagaskara Group. Perempuan itu sedang sibuk dengan setumpuk berkas yang Daren tinggalkan.


Setelah dari kantor Angkasa Air, Raya segera menuju ke kantor ini untuk mencari Daren yang Raya pikir ada disini. Sejak memasuki kantor ini, Raya sudah tidak nyaman karena semua mata menatapnya dengan tatapan aneh mereka.


Raya lupa kalau dia sedang menjadi bahan gossip semua orang disini. Kata mereka, aku menggoda Daren.


Mereka gila ya? Gak waras!


Jauh-jauh menempuh perjalanan hingga sampai di lantai ruangan Daren, hanya kekecewaan yang Raya temukan. “Apa kamu punya kontak Bu Sella, hari ini aku butuh Pak Daren.”


Ponsel Raya bergetar dan ada sebuah pesan yang masuk ke smartphone miliknya. Tangan Raya gemas mengambil ponsel tersebut dan melihat pengirim pesan tersebut. Satu pesan dari Reza.


Kemarin kenapa pulang duluan?


Pesan tersebut Raya baca dan tangan Raya segera membalasnya. Dia tak mungkin jujur jika kemarin ia pulang dengan Daren. Reza hanya temannya, tak perlu tau tentang kehidupan Raya.

__ADS_1


Maaf ya, aku kemarin ngantuk. Oh iya, kamu tau rumah Sie?


Usai membalas pesan dari temannya—Reza, Raya kembali memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Pikirannya fokus memikirkan, bagaimana caranya menemukan Daren.


“Ibu nggak telpon Pak Daren aja? Pak Daren bilang, Ibu Raya disuruh telpon aja nanti.” Hana menyampaikan amanat yang disampaikan Daren pagi ini, sebelum pergi bersama Sie.


“Maaf Mba, saya ini lagi punya masalah sama Pak Daren. Kalau telpon duluan, saya gengsi dong. Mendingan saya cari Daren sendiri kemana pun, pokoknya saya nggak mau telpon duluan!” Raya melipat tangannya di depan dadanya dan mengerucutkan bibirnya, moodnya hancur seketika.


***


Flashback 


Raya duduk di kursinya dan merogoh lacinya. Mencari buku paketnya yang sengaja ia tinggal beberapa. Ada benda kecil, panjang dan pipih yang seperti bukan miliknya. Tangan Raya mengeluarkan benda itu, jumlahnya kira-kira tiga.


Coklat.


Ini punya siapa? Tanya Raya dalam benaknya.

__ADS_1


Ada sebuah kertas kecil di setiap coklatnya. Raya meraih salah satu kertas itu dan membacanya,


Dear Kak Daren, aku Rita. Sms ya kalau nemu coklat nie, hehe. Ini nomor q, 0867462XXXXX.


“Itu apaan?” suara Daren memasuki telinga Raya yang sedari tadi sibuk sampai tak menyadari hadirnya Daren di dalam kelas ini. “Coklat lagi?”


“Gak tahu, nemu di laci gue. Yang ngasih salah server, kan meja lo di sebelah kanan, masa ngasihnya ke kiri.” Raya menaruh coklat itu keatas meja Daren dan kembali mencari buku paket Matematikanya.


“Lo suka coklat?” tanya Daren saat pria itu sudah duduk disebelah Raya. Pertanyaan itu membuat Raya mendongakkan kepalanya hingga ia dapat menatap Daren dengan jarak yang lumayan dekat.


“Suka, tapi gak terlalu.” Daren mengambil coklat itu dan menaruhnya diatas meja Raya.


“Buat lo.” Daren menatap mata Raya yang juga menatapnya.


“Kok dikasih? Emang gak suka coklat?” tanya Raya yang bingung melihat Daren yang baru menjadi temannya dalam beberapa hari ini. Biasanya, Raya akan memakan coklat itu jika diberikan oleh seseorang. Tapi kenapa Daren tidak?


“Lo cantik, gua suka.” Buru-buru Raya membuang pandangannya ke arah yang lain, perasaanya jadi tak karuan. “Gua ke toilet dulu.”

__ADS_1


Untung saja Daren pergi, Raya akan malu jika Daren melihat wajah Raya yang sudah memerah karena ucapan manis di pagi hari itu. Tiba-tiba hawa sekitarnya menjadi panas, padahal matahari saja masih malu-malu untuk muncul.


***


__ADS_2