
FLY WITH ME
BAB 7
KUNJUNGAN
***
***
Setelah mendapat DM dari Tante Renata, Raya mengirimkan nomor ponselnya yang terhubung juga ke aplikasi pesan miliknya. Renata yang mendapat nomor Raya, segera mengirimkan Raya pesan. Raya pun menyimpan nomor Renata.
Sejak dua hari yang lalu, Raya selalu teringat pesan Renata kepadanya. Katanya,
TANTE RENATA
Rachel katanya pengen ketemu kamu loh, Ra.
Raya sebenarnya tidak percaya, namun ia jadi percaya ketika paginya Renata melakukan video call dengannya. Ada Rachel yang terlihat sangat antusias. Itu sudah membuatnya percaya dengan pesan Renata waktu itu.
Satu notifikasi pesan masuk ke ponsel Raya, ia membiarkan pesan itu. Mobil yang ditumpangi Raya berhenti di sebuah gerbang rumah besar milik keluarga Bagaskara. Kemarin, Renata mengundangnya untuk datang kesini. Dan Raya berusaha menyempatkannya.
Raya memencet bel masuk, tak lama seseorang membukakan gerbang untuknya. Raya tersenyum kepada laki-laki tua yang sepertinya seorang satpam di rumah ini. Kakinya melangkah menuju pintu besar, belum sempat Raya mengetuk, muncul Renata dengan Rachel yang berlari mendekatinya.
“Onti!” teriak Rachel lalu memeluk kaki Raya. “Kenapa onti kemarin gak kesini?”
“Onti Raya kemarin kerja, Acel. Gak bisa kesini tiap hari.” Ucap Renata yang mendekati mereka, Raya menyalimi tangan Renata.
“Maaf baru bisa kesini hari ini, Tante.” Raya tersenyum kaku.
“Gak apa-apa, kita masuk yuk.” Acel membuka pelukannya dan berjalan masuk bersama Raya dan Renata. “Daren hari ini lagi kerja, gak apa kan kalau cuma ditemani tante?”
“Gak apa, tante. Raya justru gak enak kalau ketemu Daren.” Renata muncul ide untuk memancing obrolan dengan Raya.
“Kok gak enak?” tanya Renata penasaran. “Duduk dulu, Ra. Tante ambilkan minum.”
Renata menuju dapur dan mengambilkan minum yang tadi sempat ia buat sebelum Raya datang. Sementara, Raya duduk di salah satu sofa yang ada disana. Ia tersentak ketika Rachel duduk disebelahnya.
“Onti, kita main boneka-bonekaan yuk?” ajak Rachel menggandeng Raya menuju kamarnya. Sampai di kamar Rachel, Raya sedikit kaget dengan isi kamar Rachel yang berisi boneka yang lumayan banyak.
Raya duduk di salah satu sisi tempat tidur dan melirik jam tangannya. Sudah jam tiga sore, ia akan pulang satu jam lagi. Sebenarnya, Raya hanya ingin menghindari Daren saja. Itu alasan jujurnya.
Rachel mendekatinya dengan membawa sebuah boneka keroppi berukuran sedang. “Onti Raya, kenapa onti cantik banget?”
Pertanyaannya sangat random, persis seperti bapaknya.
Pertanyaan itu menurutnya tidak perlu dijawab, Raya memilih memperhatikan Rachel yang sibuk memainkan beberapa boneka yang ada diatas tempat tidur. Raya menyenderkan kepalanya dikepala tempat tidur, dirinya sibuk tenggelam memikirkan banyak hal yang mengganggunya akhir-akhir ini.
***
“Papa, dirumah ada onti cantik yoh,” Rachel menghampirinya dan langsung meminta gendong. Persetan dengan apa yang Daren katakan. Siapapun yang datang, Daren tak akan peduli.
Daren menggendong Rachel seperti biasanya, Ia masuk ke dalam menuju ruang keluarga. Ada Renata yang tengah menonton televisi, sibuk dengan sinetron yang ditonton.
“Uti, onti cantik masih tidur kan?” tanya Rachel yang turun dari gendongan Daren. “Papa, ayo lihat onti cantik!”
Daren yang lelah, memilih duduk disana. Ia tak menghiraukan ucapan Rachel yang beberapa kali merengek minta ditemani.
“Ada tamu Ma?” tanya Daren kepada Renata.
__ADS_1
“Ada,”
“Siapa?”
“Kamu lihat aja, dia ada di kamar Rachel.”
“Tante?”
Daren diam, ia melihat sang pemilik suara tersebut dan suara langkah yang terdengar semakin dekat. “Onti, lihat deh kesini.”
“Iya sayang?” Renata bangun dari duduknya setelah melihat Raya yang ternyata sudah bangun.
“Maaf, aku ketiduran.” Raya dengan wajah yang memelas meminta maaf kepada Renata.
“Gak apa-apa sayang, kita makan malam dulu yuk?” ajak Renata.
Raya melihat jam tangannya, sudah jam enam sore. Melihat Daren yang sudah menatapnya dengan tatapan sangat tak suka. Raya memilih menghindari tatapan itu dan memilih melirik Renata.
“Aku mau ada urusan habis ini, tante. Maaf ya,”
Pikiran Raya saat ini, Plis tante, aku gak mau ketemu Daren, takut.
Kalau ada cermin di hadapannya, wajah gadis itu pasti terlihat sangat melas. Ia hanya tidak ingin membuat Daren semakin kesal padanya—sesederhana itu.
Renata yang melihat dua orang ini, sedikit paham. Keduanya butuh waktu, apalagi untuk Raya yang terlihat sangat menyesal.
“Ya sudah, kamu pulang saja Ra.” Wajah Renata manunjukkan kekecewaannya, “tapi kamu pulangnya bareng Daren ya?”
Sontak dua orang itu melotot karena kaget, “Raya mau pesan mobil habis ini, tante. Daren pasti capek, karena baru pulang kerja.” Raya berusaha menolak.
“Kamu jangan nolak, Ra. Daren sudah biasa kok,” gimana pun, Renata tetap menyuruh Raya untuk bersama Daren.“Iya, kan?”
Daren yang masih duduk tenang hanya memperhatikan dua orang perempuan yang menurutnya—sangat ribet.
“Aku naik ojek online aja tante, gak apa-apa. Lagian, dari sini ke mes gak jauh kok.”
“Onti, papa ajak Acel jayan-jayan. Kita jayan-jayan bertiga yuk?” anak itu mulai lagi, sama saja seperti ayahnya.
Daren mengambil kunci mobilnya dan bangun dari tempatnya. “Cepetan.” Ucap Daren, nadanya terdengar memerintah. Berbeda dengan tujuh tahun yang lalu, sikapnya berubah.
Pria itu sudah lebih dulu keluar dari rumah itu meninggalkan Raya. Dengan terburu-buru, Raya menyalimi Renata dan segera berlari mengejar Daren.
“Daren!!” panggil Raya, ia mau menghentikan laki-laki itu.
Tepat sekali, Daren berhenti. Lalu ia membalikkan tubuhnya melihat Raya yang mendekatinya. “Jangan cepat-cepat jalannya.”
Daren diam saja. Langkah kaki pria itu mendekati mobilnya yang terparkir di depan rumah Bagaskara. “Masuk.”
Laki-laki itu sangat otoriter!
Raya masuk ke dalam mobil dan disusul Daren. Mobil itu segera keluar dari pekarangan rumah keluarga Daren dan menuju mes tempat Raya tinggal.
Hening. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Usaha Raya untuk tidak bertemu Daren juga gagal total. Moodnya sudah jatuh, tak minat melakukan apapun. Belum lagi, Daren yang terlihat menyebalkan didepannya.
Huft!
Raya teringat, besok ia akan ada penerbangan ke Singapura. Besok ia harus bangun tengah hari karena ia akan terbang saat subuh. Raya harus cepat-cepat mengistirahatkan tubuhnya di mes.
“Besok-besok jangan pernah kerumahku lagi.” Ucap Daren memecah keheningan.
Nadanya datar, namun menusuk.
“Maaf, selalu lancang.”
Raya memilih masa bodo.
__ADS_1
“Kamu kan memang selalu lancang sejak dulu.” Telinga Raya memanas mendengar ucapan Daren yang seenaknya.
“Dibagian mana aku selalu lancang?” tanya Raya menantang ucapan Daren yang tidak berdasar fakta. Mata Raya sudah sepenuhnya melihat Daren yang sibuk menyetir.
“Kamu sudah bilang menyukaiku, lalu pergi tiba-tiba. Itu
namanya lancang juga kan?”
“Kamu ternyata orang yang senang menyangkut-pautkan masa
lalu ya, terlihat sangat tidak dewasa.”
“Kalau tidak mau di sangkut-pautkan dengan masa lalu, kenapa kamu datang lagi?” mobil Daren memasuki parkiran Gedung mes. “Kamu mau cari perhatian?”
Usai memarkirkan mobil di parkiran dengan rapi, Daren mematikan mesin mobilnya. “Thanks,” Raya turun dari mobil tersebut tanpa diperintah. Jalannya sedikit berlari karena ia ingin menangis.
Daren membuka pintu mobilnya dan berlari mengejar Raya yang sudah keluar berjalan beberapa langkah. Perempuan itu mengelap matanya, ia terlihat menangis. Tangan Raya di Tarik Daren dan dipeluk perempuan itu yang tingginya tak lebih darinya.
Benar, dia menangis. Daren mengelus punggung wanita itu dan menenangkannya. “Maaf,”
“Maaf kamu, gak guna.” Masih dalam dada Daren, Raya menangis dan membasahi kemeja kantor yang dipakai Daren.
Daren memeluk Raya semakin erat, mencegah gadis itu pergi. Walaupun Raya sudah berusaha melepas pelukan itu, tetap saja ia kalah kuat dengan Daren.
“Jangan pergi lagi….” Raya menutup matanya, merasakan wangi tubuh Daren yang ia rindukan. Wangi itu menyeruak, dan memenuhi indra perciuman Raya.
Mendengar apa yang Daren katakan, membuat ia tak percaya. Lagi pula siapa yang akan percaya dengan ucapan laki-laki yang sudah membencinya. Daren bahkan tidak pernah bersikap menye-menye seperti ini.
“Lebay lo.”
Daren melepas pelukannya dan memegang bahu Raya. “Kamu gak ngerti kalau aku lagi berusaha jadi baik?”
“Gak usah sok baik, gak cocok juga.” Tangan Raya melepaskan tangan Daren yang memegang bahunya. “Cepetan pulang.”
Tangan Raya membuka tas dan mencari ponselnya. Ia menyalakan ponsel itu dan membuka beberapa pesan yang ia tinggalkan begitu saja sejak sore itu.
Kini langit sudah berwarna gelap, sebentar lagi akan malam. Menatap Daren yang dihadapannya, terlihat hanya wajahnya yang samar. Lampu parkiran belum dinyalakan, dan Raya menikmati ini.
Bisa memandangi Daren sepuas yang ia mau.
“Harus banget sekarang?” tanya Daren.
Ponsel ditangan Raya terambil dan kini berada di tangan Daren. Pria itu entah membuka apa dengan ponselnya, dan Raya hanya sibuk melihat wajah Daren yang terkena sinar dari ponselnya.
“Aku tau, aku ganteng.”
Raya ketahuan. Ia membuang muka kesegala arah, pokoknya jangan lihat Daren. Laki-laki tetap saja jadi orang yang sangat percaya diri, parah deh.
Tak terasa, lampu mulai menyala. Jadi keduanya dapat saling melihat dengan jelas.
Ponsel Raya dikembalikan dan sang pemilik menerimanya. “Kapan pulangnya?”
“Ra?” Keduanya teralihkan kepada seseorang yang tengah menatap keduanya. Pria itu masih berdiri dengan kopernya serta seragam kerjanya yang belum ganti.
Reza, pria itu masih mengenakan seragam pilotnya serta membawa topinya. “Kamu lagi ngapain?” tanya Reza yang terkejut menemukan Raya yang tengah bicara dengan laki-laki yang tidak dikenalnya. Reza berjalan mendekati mereka.
“Za, kenalin ini Daren.” Ucap Raya yang agak terkejut karena melihat Reza disini.
Laki-laki ini melihat Daren dari atas ke bawah, layaknya seorang penyelidik. "Pacar kamu?"
***
LIKE KALAU SUKA
TERIMA KASIH ATAS APRESIASINYA
__ADS_1
ily