
delvia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya setelah dirinya selesai dengan tugasnya dan segera mengambil ponsel miliknya untuk mengabari dion setelah itu dirinya segera beristirahat.
pagi hari itu delvia sudah bersiap- siap ke kampus dirinya tengah sibuk membuat sarapan untuk dirinya sendiri setelah itu langsung berangkat.
seperti biasa delvia menemui kedua sahabatnya dan menghadiri jam kulia pagi setelah selesai delvia tak berlama- lam dirinya sudah tak sabar ingin menyelesaikan permulaan masalahnya karna dirinya tau dia akan lebih bermasalah untuk seterusnya.
''guys ayo ke kantin aku udah lapar nih'' rengek lala yang sudah sangat lapar dengan menepuk- nepuk perutnya.
''ya sudah ayo'' jawab michel.
''maaf yah kayaknya aku ngak bisa ikut'' delvia berucap dengan rasa bersalah dan tak enak hati.
''loh kenapa del'' tanya michel yang bingung dengan delvia.
''aku punya urusan, mungkin aku gak bisa masuk pas jam kulia sore nanti tolong absen yah'' ucap delvia.
''pokoknya nanti aku ceritain semuanya di kafe tempat biasa kita ketemu jam 7malam oke'' jelas delvia dan berlalu meninggalkan kedua sahabatnya itu.
''kok delvia aneh yah hari ini'' tanya lala yang masih menatap kepergian delvia.
''aku juga ngak tau...yaudah gak usah terlalu dipikirkan kan delvia sudah bilang tadi akan menceritakannya nanti malam'' jawab michel yang juga masih dengan pikiran yang bertanya- tanya.
''yasudah ayo kita makan dulu sekarang'' lala kembali mengeluh lapar, kemudian mereka berdua langsung pergi untuk mengenyangkan diri masing- masing.
delvia merasa tak enak dengan kedua sahabatnya tapi dirinya belum bisa bercerita jika situasinya sekarang belum pasti, dan delvia berpikir bahwa dia akan menjelaskan semuanya kepada kedua sahabatnya setelah dia bertemu dengan orang tua andika karna jika orang tua andika tak menyukainya maka dia tak perlu untuk bersama dengan andika tapi jika yang terjadi adalah yang sebaliknya maka dirinya harus menerimannya dan barulah dia mengetahui kepastian situasinya.
''wah kau lagi... kau tak mau menyerah yah mengejar andika'' ujar revan saat melihat delvia memasuki ruang pribadi mereka, delvia tak merespon perkataan rev danan langsung berjalan menuju ruangan andika.
''cuek sekali'' ucap revan dengan tatapan herannya.
''kau sudah datang'' ucap andika yang baru keluar dari toilet diruangan itu saat delvia baru ingin mengetuk pintu ruangannya.
''masuklah'' pintah andika dan delviapun menurutinya.
''bagaimana dengan pembicaraan kita kemarin'' delvia bertanya sesaat setelah mereka berada dalam ruangan andika.
__ADS_1
''tunggu'' jawab andika singkat sambil mencari sesuatu di dalam laci mejanya.
''ini tandatanganlah'' andika memberikan sebuah kertas yang berisikan kontrak pernikahan dan perjanjian mereka.
delvia mengambil dokumen itu dari tangan andika dan sekilas membacanya dan dirinya tak keberatan dengan kontrak itu karna isinya memang sama persis dengan apa yang mereka bicarakan dan sepakati kemarin setelah itu delvia segera menandatangani dokumen itu tanpa berlama-lama.
''apa kau sudah siap dengan perjanjian ini dan rencana kita hari ini'' tanya andika.
''yah siaplah kalau tidak aku tak akan ada disini'' delvia berucap dengan nada kesal mendengar ucapan andika yang menurutnya sangat tak masuk akal.
''aku kan hanya mengingatkan'' ucap andika tak mau kalah.
''hey kenapa kau diam'' ucap andika yang tak terima delvia mengabaikan perkataannya.
''lalu kau mau apa? apakah aku harus menyautimu dan kemudian kita bertengkar lalu aku kalah begitu maumu'' delvia menebak dengan telak apa yang andika inginkan.
''haiss lupakanlah ayo kita berangkat sekarang'' seru andika sambil menarik tangan delvia.
"hey tunggu" delvia menghentikan langka andika.
"dengar bodoh.." ujar delvia dengan santainya
"hey apa kau mengataiku bodoh.. berani sekali kau kau pikir ...""
"memang kau bodoh jika kita pergi bersama maka akan ada banyak orang yang akan melihat dan curiga" jwlas delvia yang memotong pembicaraan andika.
"benar juga... baiklah aku akan menunggumu di toko bunga dekat kampus yang ada di seberang jalan" ujar andika dan diiyakan delvia.
"dan ingat jangan mengataiku bodoh karna sebelum kau tidak ada orang yang berani mengataiku bodoh" jelas andika dengan tegas kepada delvia.
"baguslah jika aku orang pertama yang menyadarkanmu" ucap delvia saat hendak keluar dari ruangan itu.
"dasar wanita liar itu" guman andika dengan ekspresi heran akan tingkah delvia.
andika kini sedang menunggu delvia di dalam mobilnya yang terparkir tepat di depan toko bunga, tak lama delviapun tiba dan masuk dengan diam- diam kedalam mobil andika saat tak ada orang yang melihat.
__ADS_1
merekapun segera menuju rumah andika karena andika telah memberitau kedua orang tuanya bahwa dirinya telah menemuka wanita pilihannya yang telah menggantikan shiva di hatinya dan orang tuanyapun ingin segera bertemu wanita pilihan anaknya itu.
"hey bangun ayo turun kita sudah sampai" andika membangunkan delvia yang sudah tertidur dari masih setengah perjalanan.
"owh.. iya maaf aku ketiduran" ujar delvia sambil merapikan penampilannya dan segera turun dari mobil andika.
"astaga besar dan mewah sekali rumahnya" guman delvia dengan salut, delvia sangat kaget dengan rumah mewah itu tapi delvia tetap mencoba untuk bertingkah seperti biasanya.
"ayo masuk" andika mengajak delvia memasuki rumah mewah itu dengan menggandeng tangannya.
"apa orang tuamu jahat" tanya delvia.
"ia... soalnya orang tuaku itu singa dan jika kau mendekat pasti dimakan" bisik jahim andika.
"aku serius" seru delvia sambil mencubit lengan andika.
"sudalah kau nilai sendiri saja kan sudah mau ketemu" jawab andika santai.
saat memasuki pintu utama para pelayan memberi hormat pada tuan muda mereka dan calon nyonya muda mereka yang berjalan menuju ruang utama dimana papa dan mama andika berada.
"ahh kalian sudah datang" sapa mama andika yang melihat putranya dan seorang wanita cantik berjalan kearah mereka.
andika dan delviapun memberi salam dan setelah itu delvia berkenalan dengan orang tua andika.
"jadi kamu satu tempat kulia dengan andika" tanya elie mama andika.
"ia tante" jawab delvia dengan sopan.
"wah di depan mama papa aja dia jinak sekali pintar sekali dia bersandiwara" guman andika yang memperhatikan delvia karna jika dengannya rasanya delvia tak memiliki sopan santun tapi jika dengan orang lain dirinya sangat sopan dan terlihat dewasa.
"kamu sangat sopan dan cantik" puji mama elie.
"makasih tante" delvia tersenyum dengan pujian mama elie.
mereka bercakap- cakap hingga sudah hampir menjelang malam, orang tua andika terlihat sangat suka dan tertarik dengan delvia apalagi mama elie dia sangat merasa cocok dengan delvia, akhirnya delviapun pamit dari rumah andika, mama elie sempat ingin delvia menginap tapi delvia menolak karena sudah memiliki janji dengan sahabatnya, delviapun berjanji bahwa dia akan kembali lagi besok agar mama elie memperbolehkannya pulang akhirnya mama eliepun menyerah dan memperbolehkan andika mengantar delvia pulang.
__ADS_1