Gadis Malang (Hanya Aku)

Gadis Malang (Hanya Aku)
bayu lagi


__ADS_3

delvia memasuki rumahnya untuk bersiap- siap dan andika pun mengikutinya karena mereka berniat membicarakan kedatangan orang tuannya besok untuk melamat delvia.


*tok... tok.... tok*


suara ketukan pintu saat delvia dan andika berada di depan pintu rumah delvia yang masih terkunci.


*krekkk*


dion membuka pintu.


"pagi kak" sapa salam delvia dan andika.


"pagi kalian sudah datang" tanya dion sambil menyuruh mereka masuk.


"kak delvia langsung siap- siap yah soalnya ada jam kulia pagi ini" seru delvia sambil berlalu menuju kamarnya karena sudah mendapatkan ijin dari kakaknya.


"duduk dulu dika" tawar dion.


"astaga baru kali ini ada orang yang manggil aku dengan sangat akrab" guman andika yang merasa senang dengan sebutan dion.


"dika kamu ngak mau duduk" tanya dion yang membuyarkan gumanan andika.


"ah iya kak" jawab andika sambil mendudukan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tamu itu.


"kak ada ingin aku bicarakan" andika membuka percakapan.


"ada apa?" tanya dion yang duduk berhadapan dengan andika.


"besok orang tuaku akan kesini" ucap andika.


"bagus dong kalau mereka kesini kita bisa lebih dekat" jawab dion dengan senang hati.


"astaga gimana menyelesaikannya.... ini si singa dimana sih sengaja pasti" guman andika.


"dika" panggil dion yang melihat andika tampak bingung.


"kamu ngak apa- apa" tanya dion.


"ngak kak aku ngak apa- apa hanya saja orang tuaku besok akan datang melamar delvia" jelas andika.


"apa melamar secepat ini?" dion kaget dengan pernyataan andika.


"memangnya kalian berencana menikah kapan" tanya dion yang masih syok.


"rencananya kita menikah lusa kak" jawab andika seadanya.


"datang juga akhirnya" guman andika yang melihat delvia sudah selesai dan sedang menuju ke arah mereka.

__ADS_1


"astaga rencana besar dan kalian baru memberi tahu sekarang? kalian tidak memikirkan bagaimana cara menyiapkannya?" seru dion tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"iya kak.... soalnya orang tuannya andika mau kita segera menika dan kita juga sudah menentukan tanggal dan harinnya" timpal delvia yang duduk di sebelah andika.


"kakak setuju kan" tanya delvia ragu.


"apa harus secepat ini? apa kalian membuat masalah?" tanya dion masih kaget dan mencoba mengurus masalah ini dengan kepala dingin pasalnya adiknya adalah seorang wanita dan hanya delvialah keluarganya dan yang sangat dipedulikannya.


"ngak kok kak kita ngak pernah melakukan hal yang macam- macam" bela delvia.


"yasudah biar nanti kita bicarakan besok dengan orang tua andika nanti kalian bisa terlambat" dion memutuskan untuk tak bertanya lagi mungkin dia ingin menenangkan pikiran karena keputusan adiknya.


"baiklah kak kalu begitu kami pamit" ujar andika.


andika dan delviapun langsung menuju kampus, seperti biasanya andika menurunkan delvia di toko bunga supaya tak ada yang melihat kebersamaan mereka.


"del" teriak michel dan lala di seberang jalan.


delvia segera menyebrang dan menemui kedua sahabatnya itu, mereka bertiga berbincang- bincang sambil menuju ruangan mereka dan menunggu dosen tiba.


"astaga ini kelasnya dosen marco" ucap lala merinding.


"ya ampun kenapa harus dia sih" ucap michel saat melihat dosen marco memasuki ruangan mereka.


dalam pelajaran berlangsung mereka bertiga masi berbincang- bincang secara bisak- bisik, delvia menceritakan kejadian kemarin termasuk pernikahannya lusa nanti.


"apa?" teriak michel dan lala yang kaget dengan penuturan delvia.


"iya ada apa pak" tanya lala dengan polosnya tanpa merasa bersalah.


"keluar dan berdiri di lapangan basket sekarang " bentak dosen marco yang semakin kesal.


"tapi pak kan panas" seru lala dengan nada manjanya.


"astaga lala" ucap delvia dan michel bersamaan sambil menarik lala keluar.


"kita mau kemana" teriak lala, sedangkan dosen marco terlihat sudah sengan wajah datarnya dan kembali fokus mengajar.


"kamu gila yah" omel michel karena kesal dengan tingkah lala.


"memangnya aku kenapa" tanya lala tak mengerti.


"urusan aku nikah aja cepat kamu ngertinya" tambah delvia kesal.


"yaudah sekarang kita ke lapangan basket soalnya dosen marco itu tau segala hal" ajak michel menerima hukuman dari dosennya.


mereka bertigapun segera berjemur di siang hari, lala tak henti- hentinya bergerutu karena kepanasan tak dipungkiri juga dengan delvia dan michel.

__ADS_1


"dasar bodoh selalu saja bermasalah" ucap seorang yang memperhatikan delvia dari jauh yang tak lain adalah andika.


matahari semakin terik setengah jam sudah mereka berjemur, merwka sudah tak tahan dengan kondisinya.


"masih lama ngak" rengek lala.


"setengah jam lagi" jawab michel sambil melirik jam yang melekat di tangannya.


"wah lihat itu ada pangeran mendadak datang" ujar lala sambil menunjuk- nunjuk kearah seorang lelaki yang mendekati mereka dengan membawah minuman.


"del ini minum dulu" bayu menyondorkan minuman kepada delvia.


"bayu kan" delvia menebak bayu hanya tersenyum mengangguk, sedangkan lala dan michel hanya terpaku bingung.


"ngak usah bay nanti kamu dihukum juga" tolak delvia.


"ngak ada yang berani hukum aku" ucap bayu sambil terus menatap delvia membuat delvia salah tingkah.


"yasudah kalau delvia nga mau aku aja" ujar lala dan langsung mengambil minuman yang ada di tangan bayu membuat bayu kaget.


"eh" bayu berucap kaget.


"ngak apa- apa bay buat dia aja aku juga belum terlalu haus" seru delvia dengan tulus.


"kok pusing yah?" guman delvia sambil memegangi kepalanya.


"del kamu kenapa" tanya bayu panik.


"ngak apa- apa bay mungkin karena kurang tidur saja" ujar delvia.


"beneran" tanya bayu dengan ancang- ancang menopang tubuh delvia.


belum sempat delvia menjawab tubuhnya sudah tak sadarkan diri untung saja dengan sigap bayu menahan tubuh delvia agar tak terjatuh.


"delvia" teriak michel dan lala bersamaan karena kaget.


"kalian disini saja biar aku yang urus dia" ucap bayu sambil mengangkat tubuh delvia dan membawahnya menuju ruang uks.


michel dan lala khawatir tapi karena ada bayu mereka berdua sedikit lebih tenang, dari kejauhan ada sepasang mata yang melihat dan beranya- tanya dimana keberadaan delvia.


"dia dimana" andika mencari keberadaan delvia saat melihat di lapangan hanya tersisa michel dan lala.


"astaga enak sekali jadi wanita itu yah di gendong kak bayu ke ruang uks" cibiran wanita- wanita sirik membuat andika mengetahui keberadaan delvia.


"dasar penggoda bisa- bisanya dia menggoda bayu" guman andika sinis dan langsung pergi ke ruangannya.


sedangkan michel dan lala selesai dengan hukuman mereka dan melapor kepada dosen marco bahwa mereka telah selesai san delvia ada di ruang uks karena pingsan tadi.

__ADS_1


"kenapa bisa disini" ujar delvia yang sudah sadar dan melihat dirinya berada di uks.


"oh iya tadi aku pingsan pasti bayu yang membawaku kesini" guman delvia mengingat- ingat kejadian sebelum dirinya pingsan.


__ADS_2