
Andika kini tengah memikirkan alasan apa yang akan dia katakan jika delvia memang tak pulang ke rumahnya dan orang tuannya menanyakannya apalagi dia pulang tanpa istrinya itu.
‘’Nak kamu baru pulang’’ tanya mama elie dengan nada lemah lembutnya saat melihat anak tunggalnya itu baru saja tiba di rumah.
‘’iya ma soalnya tadi ada tugas tambahan’’ jawab andika bohong.
‘’kamu pulangnya sendiri? Delvia dimana?’’ tanya mama elie kembali saat melihat menantunya tak bersama anaknya.
‘’dilihat dari pertanyaan dan raut wajah mama sepertinya singa itu tidak pulang kesini’’ guman andika sembari mencoba berpikir.
‘’delvia masih di rumah temannya sedang buat tugas nanti sebentar lagi baru andika jemput’’ jawab andika dengan raut wajah yang tak mencurigakan membuat mama elie percaya dengan yang dikatakan andika.
Andika segera menuju kamarnya dan membaringkan dengan kasar tubuhnya di atas ranjang kasurnya itu dan mencoba berpikir dimana kira- kira keberadaan delvia sekarang dan sedikit mencoba menghubunginya namun tetap saja tidak bisa tersambung, akhirnya andika memutuskan untuk membersikan tubuhnya lalu bersiap- siap untuk mencari delvia lagi.
‘’ma… pa… andika jemput delvia dulu yah’’ pamit andika pada kedua orang tuannya yang sedang bersiap untuk makan malam.
‘’kamu ngak makan dulu’’ tanya mama elie menawarkan.
‘’tak apa ma… nanti andika makan diluar sama delvia’’ andika beralasan dengan sangat tepat padahal dirinya sendiripun tak tau dimana keberadaan istrinya itu.
‘’baiklah kalau begitu kamu hati- hati di jalan yah cepat kembali bawah pulang menantu mama’’ ujar mama elie membiarkan anaknya menjemput menantunya.
‘’hallo… oh nak dion sudah sampai di luar kota….’’ Papa yohan berbicara dengan dion melalui sambungan telepon dan sedikit menjau dari meja makan mungkin ada hal yang penting.
‘’oh ternyata kak dion keluar kota… pasti dia ada di rumahnya sekarang’’ andika yang
sempat mendengar percakapan papanya di telpon langsung menjadi sedikit lega.
Andika segera melajukan mobilnya ke arah rumah delvia dirinya benar- benar yakin delvia ada di rumahnya karena tak mungkin dion berangkat tanpa memberitahu adik sematawayangnya itu.
__ADS_1
Andika sangat tak sabar untuk segera tiba di tempat yang dia tuju untuk menemui wanita yang sudah hampir setengah hari ini menghilang dan di cari- carinya hingga hampir membuatnya stresss.
‘’astaga bosan sekali.. mana kakiku sakit karena berjalan tadi’’ delvia mulai pusing sendiri dengan keadaannya yang membosankan biasanya dirinya tak akan merasa bosan walaupun sendiri tapi kali ini dirinya merasa sangat bosan entah kenapa.
‘’dasar andika si brengs*k… bahkan dia tak mencariku…. Astaga apa yang aku pikirkan aku ini Cuma pengganti’’ delvia mulai berperang dengan pikirang dan hatinya itulah yang membuatnya bosan dirinya berhara andika akan mencarinya dan menghubunginya namun nyatanya tidak seperti yang dia pikirkan menurut pemikirannya.
Delvia memutuskan untuk menghilangkan kebosanan serta kesedihannya dengan memanggil kedua sahabatnya menemaninya untuk pergi berkaroke.
‘’astaga ponselku mati mungkin kehabisan daya’’ delvia baru saja menyadari ponselnya mati dan segera mengisi daya ponselnya.
Sekitar sejam delvia menunggu daya hanphonenya lalu segera menghubungi michel dan lala untuk menjemputnya dan pergi bersama, sedangkan andika yang ingin buru- buru tiba malah harus bertemu clara yang sedang bermasala dengan pacarnya andikapun terpaksa membantu clara terlebih dahulu karena dipikirnya delvia akan tetap berada di rumah.
Setelah mendapatkan pesan dari delvia dan membalas pesan itu michel langsung berangkat menjemput delvia dan lala langsung ketempat karoke dan nanti bertemu disana.
‘’astaga ternyata siluman itu mengirimkan banyak pesan’’ delvia berucap pelan saat melihat ada lebih dari sepuluh pesan andika.
Tak lama michelpun sampai di tempat delvia dan mereka langsung berangkat ke arah tujuan mereka untuk bersenang senang dan menghilangkan stres.
‘’del apa kau tau andika tadi ke tempatku untuk mencarimu’’ michel memberitahu delvia kejadian sore tadi.
‘’benarkah’’ tanya delvia dengan nada malas dirinya berpikir andika mencarinya hanya untuk memarahinya.
‘’iya dia kelihatannya khawatir sekali denganmu dan kau tau demi untuk memastikanmu bersamaku atau tidak dia hampir berkelahi dengan penjaga di tempatku mereka mengira dirinya adalah pencuri’’ jelas michel mengingat- ingat kejadian tadi.
‘’benarkah’’ kini nada bicara delvia semangat seakan tak percaya.
‘’iya dan kata lala juga dia ke rumah lala’’ michel memperjelas karena setelah andika pergi dia menghubungi lala dan mengetahui andika juga kesana.
Delvia hanyan diam tak menanggapi rasanya dia tak begitu percaya mungkin saja andika hanya berakting panik supaya dikira peduli, kini delvia menyesal tak membaca pesan yang andika kirimkan karena hanya dari pesan itu dia dapat mengetahui andika perduli atau pura- pura perduli.
__ADS_1
Michelpun hanya diam dan tak bicara lagi dia menghargai perasaan dan pemikiran sahabatnya mungkin karena dia tau semua kejadian yang delvia lalui dan juga perlakuan andikan.
Sedangkan di tempat berbeda andika berusaha lepas dan pergi dari tempat clara namun wanita itu rasanya banyak sekali cara untuk menahannya.
‘’kakak kepalaku sakit sekali coba saja kak shiva disini pasti aku tak akan merepotkan kakak’’ ujar clara meminta belas kasih palsu.
‘’sudah kau istirahatlah aku akan menunggu sampai kau tertidur’’ pintah andika dengan terpaksa.
Michel, lala, dan delvia kini sedang bersenang senag di tempat karoke bernyanyi- nyanyi tak karuan dan bergoyang- goyang menghilangkan stres, delvia memesan bir untuk menenangkan pikirannya yang terus memikirkan lelaki yang kini menjadi suami palsunya itu sebenarnya lala dan michel sudah melarang karena saat mereka datang ke tempat itu selama ini mereka belum pernah memesan minuman yang berakohol namun delvia tetap bersikeras.
‘’del sudalah kau jangan terlalu banyak minum jangan terlalu memikirkan andika’’ ujar michel membujuk delvia yang sudah miring mabuk karena banyak minum.
‘’wah delvia jago juga’’ puji lala yang melihat banyaknya bir yang delvia minum.
‘’diamlah’’ pintah michel sedikit kesal dengan lalotnya lala.
‘’kau bilang apa? Memangnya siapa yang memikirkan baj*ngan seperti dia.. kau tau aku Cuma kesal dengan diriku yang bodoh ini’’ ujar delvia dengan menertawai dirinya sendiri dan membaringkan kepalannya di atas meja sambil memegang botol bir dan berkaca di pantulan botol itu.
‘’delvia’’ michel merasa sangat simpati kepada sahabatnya itu dia tau kalau delvia mungkin sudah menyukai andika namun tak tau dengan andika.
Melihat delvia yang sudah sangat mabuk michel akhirnya menyudahi perkumpulan mereka malam itu dan bodohnya lala dia juga ikut minum dan membuat michel tambah bingung delviapun sudah sangat tak terkendali akhirnya dia teringat perkataan andika jika menemukan kabar dari delvia dia harus menhubungi andika.
‘’chel aku pintar kan aku tak kalah dari delvia’’ ujar lala dengan suara mabuknya.
‘’dasar bodoh’’ muchel berdecak dengan kesal karena dia harus membawa lala ke rumahnya tak enak jika orang tua lala tau soal ini.
Michelpun segera menghubungi andika yang masih di perbudak oleh adik kekasihnya.
__ADS_1