
‘’ayolah delvia kamu pasti bisa menghadapi semuanya’’ batin delvia mulai menyemangati dirinya sendiri.
Delvia kini memberanikan diri untuk keluar dan menemui suaminya yang sempat di usirnya keluar tadi, rasanya dirinya begitu tega namun dirinya merasa tak enak karena andika mau membantunya untuk mengantarkannya pulang ditambah lagi anjuran rasa sayang yang mendorongnya untuk memperhatikan andika.
‘’maaf soal yang tadi’’ delvia memberanikan diri menegur andik yang sedang duduk santai di ruang tamunya.
‘’soal apa’’ andika kembali menggoda delvia.
‘’ahh sudalah lupakan saja’’ delvia bingung untuk apa dirinya meminta maaf kan dipikirnya andika yang tanpa sopan masuk ke kamarnya dan membuat semua kejadiannya menjadi rumit serumit tadi.
…. Hening…..
‘’apa kau sudah makan’’ tanya delvia dengan hati hati.
‘’kau membuatku repot hampir seharian dan sampai sekarangpun aku tak memikirkan perutku dan kau masih bertanya’’ jawab andika dengan panjang lebar seakan akan pertanyaan delvia hanya membuatnya merasa lapar.
‘’aku kan hanya bertanya setidaknya kalau kau lapar aku akan membuatkan sesuatu untukmu’’ tungkas ketus delvia yang kesal akan jawaban yang didapatnya dari niat baiknya.
‘’aku tak mau kau buatkan makanan nanti kalau kau berniat meracuniku siapa yang tau’’ andika kembaki membuat delvia semakin kesal dengan perkataannya.
‘’ kenapa kau bisa tau kalau aku ingin meracunimu… kalaupun aku telah meracunimu aku pasti akan sangat bahagia dan bebas melakukan apapun semauku’’ delvia langsung merespon dengan tak ingin kalah entah mengapa mereka berdua sulit sekali untuk akur.
Andika terkejut dengan jawaban delvia yang sepertinya memang ingin meracununya namun andika tau kalau delvia hanya terbawah emosi saja.
‘’kau ini bagaimana baru saja saat mabuk kau bilang menyukaiku dan sekarang kau ingin meracuniku apakah kau tak akan sedih dan menyesal kalau aku jadikau aku pasti sangat terpuruk’’ andika tetap saja tak ingin kalah dan malah membuat delvia memerah malu dan setengah tak percaya dengan apa yang dikatakan andika.
‘’astaga delvia kenapa mulutmu bocor saat mabuk’’ guman delvia dengan wajah panik dicampur rasa malu.
‘’kau tau kau tadi bilang aku sangat tampan danaku imut seperti se….’’
‘’diamlah jika kau tak ingin aku buatkan makanan maka pesanlah makananmu sendiri dan tak usah banyak bicara apalagi menuduhku yang tidak tidak’’ belum sempat andika menyelesaikan hayalannya delvia dengan cepat memotongnya dengan kesal lalu langsung berlalu ke dapur untuk memasak makanannya sendiri.
__ADS_1
‘’aku menyesal ingin berbuat baik dan menaru rasa pada siluman seperti itu’’ delvia menggerutu sambil menyediakan bahan makan untuk dimasaknya.
sedangkan andika dengan senyum kebanggaannya merasa menang dengan segera memesan makanan online namun dirinya hanya memesan 2 porsi pitza entah kenapa dirinya rasanya hanya ingin makan itu.
Delvia kini telah selesai dengan kegiatannya didapur aroma yang enak dari seporsi makanan yang dibuatnya begitu menyengat sempurna di hidung siapa saja termasuk andika yang tanpa disadari delvia sudah berada di sampingnya.
‘’sedang apa kau disini’’ delvia seakan akan menaru curiga dengan keberadaan suaminya itu.
‘’memangnya apa salahnya aku disini’’ andika kembali bertanya pada delvia.
‘’apakah salah seorang suami memantau kinerja istrinya’’ sambung andika.
‘’sudah kan kalau seperti itu kau bisa pergi sekarang karena aku hanya memasak makanan ukuran seorang saja’’ delvia membalas dengan sangat telak.
‘’kenapa aku pergi aku ingin makan disini karena aku lapar dan itu karena kau’’ tungkas andika sambil mengambil ahli makanan delvia dan duduk di sisi lain meja makan.
‘’kau tak takut kuracuni’’ delvia mengangkat saah satu sudut bibirnya dengan kesan menyinggung.
‘’itu mungkin… karena aku ingin mati agar terhindar dari kesengsaraan hidup denganmu’’ tungkas delvia dengan santainya namun dalam hatinya dia sangat kesal akan tindakan andika karena diapun sangat kelaparan setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya.
‘’uhukkkk…uhkkkk’’ andika serasa di berikan batu besar di dalam pendengaran dan pencernaaan serta tenggorokannya mendengar perkataan delvia.
‘’mau apa kau’’ andika mendekatkan tubuhnya ke arah delvia sambil membawa makanan yang dibuat delvia hal itu membuat delvia sangat grogi dan takut.
‘’makanlah juga’’ andika mendaratkan sesuat makanan di depan bibir mungil delvia yang masi tertutup rapat.
‘’kenapa aku harus memakannya’’ tanya delvia dengan keheranan.
‘’karena kau mencoba meracuniku maka kau juga harus memakannya agar kita mati bersama’’ jelas andika.
‘’cepatlah mau ku paksa… atau kau mau mengulur waktu sampai racun di tubuhku bekerja’’ sambung andika dengan keseriusan yang berhasil membuat delvia tertawa lepas sambil memegangi perutnya.
‘’uhukkk…uhkkk’’ delvia merasakan keganjalan karena andika dengan segera memasukan makan tadi kedalam mulut delvia yang masih tertawa.
__ADS_1
Andika sedikit merasa jengkel dengan kejailan delvia namun dirinya ikut tertawa saat delvia tersedak makanan yang diberikannya entah mengapa dirinya sangat ingin melihat wajah istrinya yang sedang marah atau jengkel terhadapnya.
‘’kau mau membunuhku secara terang terangan’’ delvia menggerutu saat dirinya sudah merasa baikan di bagian tenggorokannya.
‘’siapa suruh kau menertawakanku dan mengerjaiku’’ jawab andika enteng.
‘’siapa suruh kau bodoh’’ ketus delvia.
‘’untuk kesekian kali kau mengataiku bodoh kau tak ta…’’
***ting tong*** ting tong***
Suara bel pintu membuat andika mengalah dan segera menyuruh delvia membukakan pintu, delvia sempat menolak namun dia tak mungkin menang dari andika untuk saat ini jadi dengan terpaksa delvia pergi membukakan pintu dan andikapun melanjutkan makannya dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun, tak berapa lama Delvia kembali dengan membawah 2box pitza andikapun enggan bertanya karena dirinya sudah tau siapa yang datang.
‘’ini punyamu’’ delvia meletakan dengan kasar box pitza yang dibawahnya tepat di depan andika dan hendak berlalu.
‘’kau mau kemana’’ tanya andika dan membuat delvia menoleh.
‘’pergi ke kamar memangnya mau kemana lagi’’ ketus delvia.
‘’kau tak makan dulu’’ tanya andika kembali.
‘’mau makan apa makanan ku saja kau ambil apa lagi makananmu’’ sindir delvia dengan terus terang.
‘’makanlah pitza itu memangnya kau pikir aku sekejam dan seserakah itu’’ jawab andika tanpa menatap padahal sebenarnya dirinya perduli.
‘’tak usah selera makanku sudah hilang aku juga tak lapar lagi’’ jawab delvia berbohong.
Delvia meninggalkan dapur dengan sangat cepat andikapun dapat menebak kalau wanita itu masih marah terhadap kelakuannya, andika mulai merasa sedikit bersalah hanya sedikit saja mungkin karena dirinya tak tega dengan istrinya.
Delvia menutup pintu kamarnya tanpa menguncinya, delvia memang terbiasa tak mengunci kamar karena dion selalu melarangnya itu dilakukan dion tak lain hanya ingin memastikan keselamatan adiknya jika terjadi sesuatu dan tak ada niat lainnya.
__ADS_1