
Hari ini delvia beraktivitas seperti biasanya, delvia kembali diantar michel ke rumahnya
dan bersiap untuk berangkat ke kampus bersama, sedangkan lala sudah dijemput
oleh supir pribadinya, delvia dan michel kini telah tiba di parkiran kampus dan langsung menuju ruangan mereka.
‘’del tugas buat semester kita sulit deh’’ keluh michel.
‘’iya dilihat dari lembar halamannya aja udah pusing… pak wilbert memang gak tanggung- tanggung
nyusain para siswa’’ delvia membenarkan keluhan michel sambil mengingat tugas yang dijelaskan dosennya kemarin.
‘’tapi kayaknya buat kamu gak susah del…’’ ucapan michel membuat delvia bingung,
bagaimana tidak tugas sesusah itu dibilang michel enteng buat delvia.
‘’buktinya kamu ngerjain tugas yang lalu dari pak wilbert Cuma beberapa jam aja’’ sambung
michel mengingat- ingat tugas yang delvia buat waktu lalu.
‘’astaga itu tu hanya karunia Tuhan yang kirimin aku malaikat buat bantu bikin tugas itu’’
ujar delvia yang mengingat tugasnya bisa cepat selesai dengan hasil memuaskan karena dibantu bayu .
‘’maksudnya’’ tanya michel tak mengerti.
***drtttt…drtttt***
{getar hanphone delvia memotong pembicaraan mereka berdua.}
‘’nomor siapa yah’’ guman delvia sambil menatap panggilan tak bernama di layar ponselnya.
‘’hallo’’ delvia akhirnya mengangkat panggilan itu karena penasaran.
‘’aku ingin membicarakan sesuatu denganmu datanglah ke ruanganku’’ jawab seseorang dibalik
panggilan itu dan kemudian langsungmemutuskan panggilan tanpa ada jawaban dan tanpa ada pertanyaan dari delvia.
‘’didengar dari suaranya dan cara mematikan panggilannya ini pasti si buaya tak berhati
itu karena tak ada orang lain yang tak memiliki sopan santun seperti dia’’ guman delvia yang memegang erat ponselnya hingga rasanya ingin remuk dan rusak karena kekesalannya, delvia tau mahluk yang tadi menelponnya itu adalah andika.
‘’siapa del’’ pertanyaan michel membuat delvia tersadar.
__ADS_1
‘’si buaya…!!! chel aku tinggal duluan kamu ngak apa- apakan’’ jawab delvia sambil pamit karena mengingat apa yang dikatakan andika di telepon tadi.
‘’si buaya siapa?... dan kamu mau kemana?’’ tanya michel yang heran dengan jawaban delvia.
‘’si buaya itu andika… aku mau ke ruangannya sepertinya aku akan mendapatkan jawaban masa
depanku sekarang’’ jelas delvia.
‘’kau tidak apa- apa pergi sendiri? Atau ku temani saja’’ michel khawatir dengan delvia jika bertemu dengan andika mungkin karena delvia telah menceritakan semuannya padanya jadi michel merasa was- was.
‘’gak apa chel aku bisa sendiri kok… lagian kalo kamu ikut yang ada kamu diusir sama siluman buaya itu’’ tolak delvia yang tak ingin melibatkan sahabatnya kearah yang lebih jauh.
‘’iya juga yah… kalo gitu kamu hati- hati yah jangan lupa kasih kabar’’ michel membenarkan alasan penolakan delvia.
‘’pasti’’ delvia menjawab sambil berlalu menjauh dari michel.
Delvia kini sudah berada di depan pintu ruangan andika, delvia mengetuk pintu ruangan itu dan menunggu dibukakan oleh andika, delvia heran kenapa hari ini dalam ruangan pribadi andika dan teman- temannya sepi, delvia tak melihat teman- teman andika yang biasanya sangat berisik dan heboh.
‘’masuklah’’ andika delngan tiba- tiba membuka pintu dan menyuruh delvia masuk dan membuat delvia kaget dan kesal tapi tetap mengikuti perintahnya untuk masuk.
‘’dia memang seperti siluman’’ gerutu delvia saat berjaln dibelakang andika.
‘’kau bilang apa’’ tanya andika yang dengan segera membalikan badannya menghadap kearah delvia dan mendekatkan wajahnya ke wajah delvia dengan tatapan penuh selidik.
‘’oyah benarkah tapi aku mendengar kata *seperti* saat kau bicara tadi’’ selidik andika lagi yang sempat mendengar sedikit perkataan delvia.
‘’sudalah bukannya kau bilang ada yang ingin kau bicarakan ayo mulailah bicara’’ delvia
memulai percakapn baru agar masalah perkataannya tadi segera berakhir tanpa
diketahui andika.
‘’kalau begitu duduklah’’ pinta andika yang akhirnya terpancing dengan percakapan baru
delvia.
Delvia mendudukan tubuhnya disofa yanga ada di ruangan andika sedangkan andika duduk di kursi dimana tempatnya belajar dan bekerja, suasana menjadi hening delvia mulai frustasi dengan apa yang ingin dikatakan andika karena sudah hampir 2menit duduk manis tanpa berkata dan berbuat apa- apa tapi tak mendengar sepata katapun dari andika.
''kau ini niat bicara atau tidak'' ucap delvia yang sedari tadi kesal dengan sikap andika yang seperti tak menganggapnya ada.
''oh ternyata kau menungguku bicara yah'' ucap andika yang membuat kepala delvia serasa ingin meledak karena emosi dengan jawaban andika.
''andika aku tak ingin mencari masalah ayolah apa yang ingin kau bicarakan'' ujar delvia sambil menahan emosinya denga susah payah.
__ADS_1
mendengar delvia memanggil namanya untuk yang pertama kalinya dengan begitu manis namun biasa dimata delvia membuat andika tak berkutip dari posisinya, dirinya berpikir jika dia tetap diam maka delvia akan marah dan kesal niatnya andika ingin mengerjai delvia tapi malah tak sesuai rencana karena delvia tak marah sama sekali delvia malah bersikap sangat manis.
''astaga apa yang kupikirkan'' andika sadar dan berucap dalm hatinya sambil menggeleng- gelengkan kepalanya.
''kau kenapa'?'' tanya delvia yang heran dengan tingkah andika.
"aku tak apa- apa... aku hanya senang rencanaku berhasil orang tuaku sangat suka denganmu" andika mulai bercerita apa yang ingin dia bicarakan.
"jadi kita akan benar- benar menikah" tanya delvia yang sedikit kecewa dengan kabar yang sangat menggembirakan untuk andika.
"ia... dan sebagai tanda kebahagiaanku aku akan memberimu hadiah... cepat katakan apa yang kau inginkan" jawab andika dengan antusiasnya sambil memberikan tawaran menarik.
"aku ingin kita tidak menikah dan kau tidak lagi mengganggu kehidupanku dan keluargaku tapi tak mungkin kau kabulkan" guman delvia dengan tersenyum kecut.
"hey cepat katakan apa yang kau mau" andika memberikan tawaran lagi.
"aku tak menginginkan apapun... sekarang aku sudah dengar beritanya jadi bisa kan aku pergi" ujar delvia dengan nada bisanya.
"yakin" tanya andika lagi untuk meyakinkan delvia.
"iya" ujar delvia singkat lalu langsung berdiri dan berjalan mengarah keluar.
"yasudah terseralah" ucap andika sambil mengangkat kakinya diatas meja dan mengotakatik ponselnya.
"kenapa kembali" tanya andika yang melihat delvia berbalik mendekatinya.
"aku berubah pikiran... aku ingin sesuatu" ucap delvia.
"hehh... dasar wanita gengsinya tinggi ingin dipaksa kupikir dia memang berbeda tapi sama saja dengan wanita lain pada umumnya" guman andika yang tersenyum sinis mendengar perkataan delvia.
"makanya jangan jual mahal... katakanlah" ujar andika dengan nada sombongnya bisa dibilang nada sehari-harinya.
sebenarnya delvia kesal dengan perkataan andika tapi mau buat apa lagi dirinya baru mengingat keperluannya.
"aku ingin 40jt yang aku berikan kepadamu.. karena aku harus mengembalikannya kepada michel dan lala" pinta delvia.
andika terkejut mendengar permintaan delvia dirinya berpikir delvia akan memanfaatkan kesempatan tapi ternyata dia hanya ingin meminta kembali uangnya yang tidak seberapa dimata andika karena jika itu wanita lain maka mungkin mereka akan meminta paling rendah 40miliar bukannya 40jt.
"kau yakin" tanya andika tak percaya mungkindirinya salah mendengar jumlahnya.
"iya... tapi itu jika bisa" ucap delvia sambil menunduk karena malu karna bagi delvia uang itu sangat banyak.
"baiklah anggap saja ini hadiah dariku,, tulislah nomor rekeningmu" andika menyanggupi permintaan delvia bagaimana tidak hanya permintaan kecil begini.
__ADS_1
"terimakasih" ujar delvia sambil memberi nomer rekening yang dia tulis itu lalu segera pamit karena sebentar lagi dosennya akan masuk.