
Michel segera menghubungi andika agar dapat memastikan sahabatnya akan pulang dengan selamat walaupun dirinya meninggalkan delvia.
***drttt… drtttt***
Untuk kesekian kalinya hanphone andika bergetar karena panggilan dari nomor yang sama namun tak dia kenali andikapun terpaksa menjauh dari clara dan segera mengangkat panggilan telepon yang dirasanya sangat mengganggu sedari tadi.
‘’hallo’’ michel akhirnya lega karena mendengar jawaban panggilan teleponnya karena sudah lebih dari tiga kali dirinya menelpon andika namun tak ada jawaban mungkin karena andika tak mngenal nomor hanphonenya.
‘’hallo ini aku Michel teman delvia’’ michel memperkenalkan dirinya dengan cepat agar andika tak mematikan sambungan teleponnya.
‘’ada apa? Aku sudah tau delvia ada di rumah kakaknya’’ jawab andika dengan nada seakan akan tau segalanya.
‘’iya tadinya dia di rumah tapi suasana hatinya begitu kacau jadi kami pergi karoke’’ jelas michel dengan berhati hati.
‘’jadi aku menelponmu ingin meminta tolong padamu untuk menjemput delvia soalnya dia mabuk berat aku harus mengantarkan temanku pulang karna temanku juga mabuk’’ sambung michel menjelaskan keadaannya sekarang.
‘’delvia mabuk? Kalian dimana sekarang’’ andika langsung merespon dengan sangat cepat mendengar mawita yang kini menjadi istrinya itu mabuk di tempat karoke.
Michelpun memberitahukan pada andika dimana dirinya dan delvia berada agar andika dapat dengan segera menjemput delvia yang tengah tertidur dan mengigau tak jelas.
Sementara di tempat lain andika mulai memikirkan alasan untuk meninggalkan clara karena clara tak akan mungkin membiarkan andika pergi begitu saja apalagi masalahnya menyangkut delvia.
‘’siapa kak’’ Tanya clara saat andika kembali dari tempat dirinya mengangkat telepon.
__ADS_1
‘’rekan kerja dia minta mendiskusikan perkerjaan besok…. Oh iya kamu kan sudah mendingan kakak pulang dulu soalnya mau menyelesaikan proposal buat pertemuan besok’’ andika mencari alas an yang telak untuk mengelabui clara.
‘’hmmm… yasudah kalau itu urusan penting kakak pulang saja aku juga sudah mendingan’’ jawab clara dengan berat hati namun tak dapat berbuat apapun selain mengiyakan.
Akhirnya andika merasa bebas sekaligus lega bisa pergi dari sana dan bisa dengan segera menjemput delvia, andika dengan gerak cepatnya langsung melajukan mobilnya menuju tempat istrinya berada sekarang ini.
‘’kenapa aku tidak berpikir dia akan senekat itu sampai mabuk mabukan’’ andika mulai berguman dan merasa dirinya yang bersalah dalam semua hal yung terjadi hari ini.
Tak butuh waktu lama andika pun tiba di tempat tujuannya dan langsung mencari ruangan dimana istrinya berada saat ini andikapun terkejut melihat betapa banyaknya minuman yang delvia dan lala minum di tempat itu pandangan matanya langsung menuju kepada Michel yang sedari tadi menunggunya.
‘’kenapa kau menatapku ini semua salahmu’’ Michel memberanikan diri menegur andika walalupun tanpa menatap andika karena Michel sebenarnya takut.
Andika mengakhiri pandangannya dan segera memopong tubuh delvia untuk dibawah pulang tanpa menjawab ataupun berkata sesuatu kepada Michel.
Andika sempat terhenti dan mencerna semua maksud perkataan Michel setelah dirinya memaknai maksud dari pesan Michel dirinya melanjutkan langka kakinya meninggalkan Michel dan juga lala yang masih mabuk berat seakan akan perkataan Michel hanya angin lalu namun dalam hatinya perkataan itu sangat menusuk.
Michel segera memopong lala dan membawa lala kerumahnya Michel bisa saja membawah delvia
bersamannya namun entah kenapa dirinya ingin andika yang membawah delvia mungkin michel merasa tak tega dengan sahabatnya yang sampai mabuk mabukan demi seorang pria yang bahkan tak tau perasaan dan pemikirannya, mungkin saja dengan begini andika akan mengerti perasaan delvia.
‘’astaga kau berat sekali ternyata’’ andika mengeluhkan berat badan delvia yang saat ini berada di gendong tangannya.
Andika mendudukan tubuh delvia di dalam mobilnnya dan tepat disebelah tempatnya menyetir, andika sempat memperhatikan delvia dengan seksama saat dirinya ikut masuk kedalam mobil dan memasangkan sabuk pengaman untuk keselamatan istrinya sebelum akhirnya menyudahi pandangannya dan langsung mengemudikan mobilnya.
‘’hausss’’ delvia mulai mengerjap sambil meminta air dengan nada sempoyongan.
__ADS_1
Andika menghentikan mobilnya dan membantu delvia untuk minum walaupun dirinnya tak berhenti menggerutu kesal dengan delvia yang berani beraninnya mabuk mabukan dan membuatnya repot ditambah lagi dengan meminta minum.
Andika melanjutkan lagi perjalanan pulangnya karena dirasa delvia sudah tak merasa kehausan lagi namun delvia masih saja mengigau tak jelas dan hampir tak bisa di dengar oleh andika namun andika tetap saja merasa terganggu sekaligus penasaran apa yang di katakan delvia.
‘’ahhh’’ delvia memegang kepalannya dan menyadarkan dirinya sendiri namun dirinya hanya terbangun tapi tetap dalam keadaan mabuk.
Andika hanya melirik seakan tak perduli dengan wanita di sampingnya yang berusaha mengumpulkan tenaga dan nyawanya agar kembali stabil.
‘’aku dimana’’ delvia mulai bertanya- tanya walau dalam keadaan mabuk namun tetap tak dihiraukan andika.
‘’wah siapa kau… kau sangat tampan’’ delvia melirik dan bertanya pada andika seakan akan dirinya tak mengetahui bahwa yang ada di sampignya itu adalah suaminya.
Perhatian Andika mulai teralihkan karena pertannyaan delvia yang dirasa sangat lucu dan sangat jujur karena biasanya delvia tak akan berkata dia tampan jika dalam keadaan sadar hal itu membuat andika tersenyum lucu dan bangga akan dirinnya sendiri.
‘’hey tunggu kau mirip seseorang yang aku kenal… kau tau kau itu mirip si buaya itu… iya kau mirip seperti dia’’ delvia mulai menyamakan andika dengan pria yang dirasannya orang lain yang tampan seperti andika.
‘’benarkah’’ andika mencoba berpura pura walaupun sebenarnya dirinya sangat geram disebut sebagai buaya.
‘’Iya tapi sayang dia tak pernah tersenyum sepertimu dia juga sangat menyebalkan… kau tau dia itu sebenarnya tampan tapi entah kenapa dia tak banyak tersenyum wajahnya selalu saja seperti bab gemuk malahan bbi gemuk lebih menggemaskan dari dia’’ curhat delvia tanpa menerawang dengan kesadarannya jika pria yang dipuji dan dihinanya itu adalah orang yang sama.
‘’tapi kau tau walaupun aku tau dia orang yang jahat tapi kenapa yah aku menyukainnya … menurutmu apa aku bodoh mengharapkan bulan di langit’’ belum sempat andika protes dengan penghinaan delvia terhadapnya, dirinya malah mendapatkan pengakuan perasaan delvia terhadapnya dan malah mengurungkan emosinya dan ingin mendengar pembicaraan delvia.
‘’dia itu sangat menyebalkan dan mungkin saja tak punya hati bahkan semua kenalannya berpikir aku wanita bayaran bahkan seorang jal*ng murahan’’ delvia melanjutkan pembicaraannya sampai akhirnya dirinya tertidur kembali.
Andika memperhatikan delvia dengan tatapan bersalah dan berpikir dirinya terlalu tak adil dengan delvia tapi jika dipikir kembali andikapun merasakan ada perasaan aneh saat bersama delvia dan mendengar semua cerita delvia tentang perasaan dan pendapat delvia terhadapnya.
__ADS_1