
delvia kini sudah berada di ruangan andika, andika menyuruhnya mengunci pintu biar tidak ada orang ang nyosor dan menguping pembicaraan mereka karna andika sangat tau sifat kepo sahabat- sahabatnya itu.
''langsung saja keintinya ini uangmu'' seru delvia sambil mengambil uang dari dalam tasnya dan meletakan uang itu diata meja di depan andika.
''apa ini 40jt'' tanya andika dengan nada biasa saja.
''yaiyalah uang sebanyak ini mana mungkin jumblanya 10rb'' delvia mulai terpancing emosi tapi masih bisa ditahan, rasanya jika dirinya terus berdebat dengan andika dirinya akan mati muda.
''dan kamu pikir semuanya lunas?...'' lagi- lagi andika melontarkan pertanyaan yang tak masuk akal dengan nada santainya.
''yah lunaslah hutangku kan memang cuma begitu jumlanya'' ucap delvia dengan nada yang tak dikontrol karena dirinya mulai kesal dengan andika.
''kau tidak memberi lebih padaku?... tanda trimakasih gitu'' seru andika sambil meletakan tangannya di dagunya.
''sial dia mau mengungkit masalah di club'' guman delvia.
''sudalah jangan diperpanjang lagi kenapa orang kaya seperti kalian suka mempermainkan dan menindas orang susah sepertiku,,, akukan mengembalikannya sebelum jatuh tanggal perjanjian anggap saja dispensasilah'' ucap delvia dengan nada normal namun penuh arti.
''baiklah masalah ini aku anggap sudah selesai'' ucap andika membuat delvia mengembangkan senyumnya yang manis diwajah cantiknya.
''baiklah kalau begitu trimah kasih banyak aku pergi dulu harap tak akan ada masalah lagi diantara kita dan terimahkasih karena sudah menolongku di club waktu itu'' ucap delvia dengan tulus dan jujur, delvia dengan polosnya percaya bahwa andika telah melepaskannya dengan begitu mudah.
''tunggu!!! siapa yang mengijinkanmu pergi'' seru andika yang behasil membuat delvia berhenti.
__ADS_1
''lah masalahnyakan sudah selesai terus mau apa lagi'' delvia mulai bingung dengan tingka andika dan mulai berpikir bahwa akan ada bencana yang lebih besar kali ini.
''masalah yang ini memang sudah selesai tapi ada masalah baru yang ingin ku berikan padamu'' andika berucap sambil berdiri dan mendekat kearah delvia.
''aku tak perduli dengan apapun intinya aku sudah tak punya hutang denganmu lagi, permisi'' delvia membalikan badannya dan melangka menuju pintu keluar.
''apa kau tak takut aku melibatkan kakakmu? aku bisa melakukan apapun loh,,'' ancam andika dan membuat delvia kembali menghentikan langkanya.
andika sudah tau latar belakang keluarga delvia dan kisah hidup delvia bersama dion karena semalam andika mengutus salah satu orangnya untuk menyelidiki tentang delvia dan keluarganya hal seperti ini memang sangat mudah dan tidak butuh waktu lam untuk andika mengetahuinya secara detail, dirinya memang benar- benar menyusun rencananya dengan sangat sempurna , dirinya mengetahui bahwa delvia sangat menyayangi dion jadi dirinya menggunakan dion untuk mengancam delvia sungguh telak pemikiran andika.
''sebenarna apa yang kau mau jangan macam- macam dengan kakakku urusanmu itu denganku jadi jangan membawah orang lain apalagi sampai melibatkan kakakku'' seru delvia yang berbalik menghadap andika rasanya dirinya ingin mencakar habis lelaki yang ada di depannya itu.
''sudah kubilang mauku kau menjadi miliku tapi kau tenang saja ini adalah negosiasi yang menarik dan menguntungkan aku yakin kau pasti akan tertarik dan setuju saat mendengarnya'' jawab andika dengan santainya.
''aku hanya ingin mencoba hal baru lagian orang tuaku suka tipe wanita sepertimu'' ujar andika.
''kau memang sudah gila, aku tak ingin menjadi milikmu, aku tak ingin mendengar negosiasimu karna aku tak tertarik dan satu lagi aku tak takut dengan ancamanmu'' ujar delvia panjang lebar tak setuju dengan tawaran andika dan langsung meninggalkan ruangan itu dengan wajah kesal dan aura seperti seorang pembunuh membuat sahabat- sahabat andika bingung melihat tingkah delvia yang sedang berlalu meninggalkan ruangan itu.
''kita lihat saja kau pasti mau menerima tawaranku'' guman andika percaya diri.
delvia langsung pulang kerumahnya karena memang kebetulan sudah tak ada jam kulia kedua sahabatnya pun sudah pulang duluan delvia memang sengajah menyuruh michel dan lala pulang duluan karena dirinya tak ingin lebi merepotkan kedua sahabatnya itu karena delvia merasa bahwa mereka sudah banya membantu jadi delvia tak mau tambah merepotkan mereka apalagi mereka telah meminjamkan uang padanya delvia jadi tambah tak enak jika mereja juga harus menunggunya, merekapu mengerti dengan perasaan delvia jadi mereka mengiyakan permintaan delvia yang menyuruh mereka mrninggalkan delvia.
delvia tibah dirumanya dan langsung masuk kedalam kamar dan segerah merebahkan tubuhnya di atas kasur, sore itu dirinya teris kepikiran dengan ancaman andika delvia takut jika terjadi apa- apa terhadap kakaknya karena terlalu memikirkan masalah itu akhirnya delvia merasa gelisa sendiri dan merasa sedih dirinyapun akhirnya tak dapat menahan airmatanya karna tak bisa berbuat apa- apa delvia menangis cukup lama hingga membuatnya terlelap tidur.
__ADS_1
matahari sudah lama terbenam delvia terbangun sengan mata yang sembab delvia sadar bahwa dirinya sudah tertidur cukup lama dirinya segera mengambil hanphone yang ada di dalam tasnya dan melihat ada panggilan tak terjawab dari dion 10menit yang lalu delvia segera menelpon balik kakanya rasanya dia begitu rindu dengan kakaknya karena sudah 2hari tak melihat dan tak mendapat kabar dari kakaknya rasanya kalau bisa dia ingin menyusul ke tempat dion.
''halo kak'' delvia bersuara dengan bahagiannya saat panggilannya dan dion telah terhubung.
''halo sayang apa kabar maaf yah kakak baru bisa kasih kabar'' sahut dion diseberang telepon.
''aku baik kok kan,,, ia gak apa- apa aku ngerti kok,, kakak apa kabar aku sangat merindukanmu'' ucap delvia dengan nada sedih dicampur kemanjaan delvia.
''kakak juga baik dan juga lebih merindukanmu.... tapi mungkin kakak akan lebih lama disini'' ucap dion yang sedikit berat dan tak tega.
''kenapa harus lebih lama'' tanya delvia dengan sedihnya.
''kakak juga tak menyangka padahal kemarin semuanya sudah terkendali tapi tiba- tiba hari ini banyak perusahaan yang membatalkan kontrak kerja sama dan sulit sekali mencari perusahaan pengganti jadi sebagai manager kaka juga bertanggung jawab'' delvia terkesigap mendengar penjelasan dion air matanyapun kembali menetes keluar tanpa permisi.
''ini semua karna aku'' guman delvia yang menahan tangisnya.
''baiklah kak tidak apa- apa kalau begitu tetaplah semangat dan jangan lupa istirahat yang cukup delvia mengerti dengan situasi kakak fokuslah bekerja tak usah terlalu memukirkanku'' delvia berucap seakan- akan dirinya tak bermasalah delvia berusaha tegar agar dion tak curiga dan kawatir.
''makasih yah kamu mau mengerti... yasudah kamu istirahatlah kakak juga mau istirahat'' ucap dion dan diiyakan delvia lalu setelah itu langsung mengakhiri panggilan telepon itu.
delvia kembali merebahkan tubuhnya dan kembali menangis saat membayangkan masalah yang dialami dion disana apalagi itu karena dirinya delvia tak menyangka bahwa ancaman andika memang tak main- main delvia tau betul dan yakin bahwa kekacawan yang terjadi di perusahaan kakaknya itu adalah ulah andika agar delvia lengah dan sadar akan posisinya.
''dia benar- benar tak main- main mau tak mau aku harus segera menolong kakak anggap saja balas budiku,,, andika kali ini kau menang'' guman delvia yang sudah menemukan keputusannya.
__ADS_1