
"jangan lupa untuk kerumahku malam ini jam
6 akan ku jemput" ucap andika sebelum delvia meninggalkan tempat itu dan diiyakan delvia dengan anggukan.
delvia menyelesaikan kelasnya dan tak lupa juga dia memberi tahu kejadian hari ini kepada kedua sahabatnya, mereka bertiga kini sedang menuju kantin untuk mengisi perut mereka.
"pesan makanan seperti biasa saja biar cepat" pintah delvia yang sudah sangat lapar, makanan mereka selalu dipesankan oleh michel karena permintaan michel sendiri mungkin karena michel suka dengan jhosua anak pemilik kantin yang juga berkuliah di kampus itu dan setiap tak ada kelas selalu membantu orang tuanya.
"del liat deng andika itu ganteng banget yah" puji lala yang melihat andika berjalan menuju kantin tempat mereka berada saat ini membuat delvia menoleh ke arah tatapan lala.
"benerkan" lala membenarkan perkataannya sendiri namun delvia yang sempat beradu pandang dengan andika tampak tak berselera makan dan memalingkan wajahnya dan melihat ke arah ponsel.
"astaga di mau duduk di bangku kosong sebelah kayaknya" lala mulai seperti wanita lain yang histeris dengan andika karena baru kali ini andika mau makan di kantin umum.
semua wanita yang ada disitu sangat berisik histeris dan selalu menatap andika dan teman- temannya yang duduk di meja sebelah delvia hanya 2 wanita yang tak menghiraukan mereka yaitu delvia dan michel yang sedang memesan makanan karena tiba- tiba antrian menjadi sunyi.
"hay" sapa revan pada lala membuat jantung lala ingin meledak.
"hh__a_y" jawab lala dengan gugupnya
andika menyuruh seorang pria untuk memesankan makanan mereka sementara makanan delvia dan teman- temannya sudah datang.
delvia dan michel langsung memakan makanan mereka tanpa memikirkan para pria itu sedangkan lala bagai dihipnotis oleh sapaan revan.
"la... kamu ngak makan?" tanya michel yang melihat lala hanya senyum- senyum sendiri.
"iya la.. kalo kamu ngak makan biar aku makan" sambung delvia yang sudah selesai makan.
__ADS_1
"yah makan lah" lala tersadar dan langsung memegang makanannya karena takut diambil delvia.
tak lama makanan mereka habis sedangkan makanan andika dan teman- temannya masih sementara di lahap.
"kak andika ini coklat untukmu" salah seorang perempuan cantik dengan polosnya memberikan andika hadiah sesaat andika melirik delvia yang fokus menatap layar ponselnnya.
"kenapa di buang kak" tanya wanita itu saat andika menerima coklatnya dan membuangnya di lantai.
" karena aku tak suka coklat" andika bersuara dengan nada sedikit tinggi namun terkesan membentak membuat mata wanita itu tiba- tiba berkaca.
delvia yang melihat kejadian itu seakan tak senang dengan perlakuan andika yang membuat wanita itu patah hati dengan cara yang menjijikan.
"kalau kau tak suka tolak lah dan jika kau ingin membuangnya pikirlah dulu untuk membuangnya di tempat yang tak terlihat olehnya" bentak delvia sambil memunggut coklat itu dari lantai.
semua orang terkejut dengan keberanian delvia bahkan wanita yang memberika coklat itu pun menangis karena tak tahan dengan sakit hatinya ditambah dia terharu karena masih ad yang mau membelanya dan andika tak kalah kaget dengan wanita yang memiliki kesepakatan dengannya itu.
"wah berani sekali dia" ucap farel.
"iya bukankah dia wanita yang datang ke ruangan kita waktu itu" ujar revan yang mengingat wajah cantik delvia dengan tatapan yang sama saat dirinya keluar dari ruangan andika.
"owh.. lalu aku harus apa? jika aku ingin membuangnya di depan wanita ini agar dirinya sadar bagaimana" ledek andika dengan sombongnya.
"maka ambilah coklat ini tarik dia di depan tempat sampah dan bianglah di tempat sampah karena walaupun ini sekolahmu tapi kantin ini bukan tempat sampahmu" jawab delvia panjang lebar sambil melempar coklat di dada andika dan berlalu pergi dari tempat itu.
"berani sekali dia" guman andika yang menatap kepergian delvia tapi tak mengejar membantah ataupun memarahinya.
semua orang berbisik- bisik tentang delvia dan andika karena kejadian yang baru saja terjadi itu bahkan bayu yang sempat melihatnya saat baru tiba dan ingin bergabung dengan teman- temannya itu kagum dengan teman wanitanya yang telah membuatnya menaruh hati itu dia memang merasa delvia berbeda dari yang lain.
__ADS_1
"wah sepertinya kau punya musuh berat" ejek bayu yang baru saja tiba.
"ayo kembali ke ruangan" ajak andika, merekapun kembali ke dalam ruangan mereka termasuk bayu.
"berani sekali yah wanita itu... sudah cantik berani dan sangat menggoda" ujar revan membayangkan delvia.
"hey jangan berpikiran mesum" ucap andika dan bayu bersamaan seakan tak suka revan membayangkan tubuh bahenol delvia membuat revan farel dan vano kebingungan.
andika menatap bayu begitupun sebaliknya mereka sama- sama bingung.
"dia itu terlihat baik lagi pula dia memarahi andika karena andika yang salah" bela bayu pada delvia.
"iya juga kalau dilihat- lihat dia itu bagaikan superhero para wanita yang dicampakan olehmu andika" ujar revan yang masih tak percaya ada yang berani pada andika apalagi seorang wanita.
"tetap saja aku tak terima!!! kita lihat saja nanti" ucap andika tak terima dengan perlakuan delvia.
"lalu kau mau apa walaupun tak terima" tanya farel.
"aku juga akan membuatnya malu di depan banyak orang" seru andika yang ingin balas dendam dengan wanita yang akan menjadi istrinya itu.
"sudalah lagian kamu juga salah kan" ucap bayu.
"kamu kenapa biasanya tidak perduli urusan orang... ini kok malah membela wanita itu" tanya andika penuh selidik karena dari tadi bayu sepertinya sangat membela delvia.
"yah hitung- hitung aku menasehatimu untuk mengurangi dosa" ledek bayu yang sebenarnya menghindar dari pertanyaan andika karena memang bayu peduli dengan delvia.
"sialan kau" umpat andika dan mereka semuapun tertawa.
__ADS_1
delvia hari ini tak kerumah michel karena dia harus mempersiapkan kepulangan kakaknya besok karena andika menepati janjinya jadi dion bisa cepat pulang sebab perusahaannya sudah kembali normal malah lebih maju dari sebelumnya, delvia mempersiapkannya sore ini karena malam nanti dia tak memiliki waktu karena harus kerumah andika untuk melanjutkan sandiwarannya.