Gadis Malang (Hanya Aku)

Gadis Malang (Hanya Aku)
singa dan buaya


__ADS_3

Setelah cukup lama bercakap- cakap dengan dion andika kini pamit dan meminta ijin untuk membawah delvia kerumahnya, dion sempat menolak tapi karena andika sudah terlanjur janji kepada kedua orang tuannya dan orang tuanya pun sudah 2 kali menanyakan keberadaan andika dan delvia jadi dionpun terpaksa mengijinkan.


‘’jangan terlalu lama pulangnya yah’’ ucap dion pada andika dan delvia yang sedang menaiki mobil andika.


‘’iya kak’’ jawab mereka berdua serentak.


Andika langsung melajukan mobilnya menuju rumah kediamannya, delvia terlihat sangat malas untuk pergi karena dirinya masih sangat ingin bercakap- cakap dengan dion apalagi tadi yang asik bercerita hanya andioka dan dion.


‘’kalau sudah sampai usahakan wajahmu jangan seperti celemek habis dipakai buat kue’’ andika membuka percakapan dengan memperingati delvia karena dilihatnya dari tadi delvia memasang wajah yang sangat kusut.


‘’iya aku tau kau tak usa repot- repot memperingatiku’’ seru delvia yang tampak kesal dengan andika dan menjawab tanpa melihat kearah andika.


‘’oh iya aku lupa kau kan pandai bersandiwara dan memiliki dua muka’’ ejek andika mengingat- ingat delvia sangat berbeda jika ada di depan orang tuanya.


‘’apa kau bilang??? Jangan sembarangan bicara yah’’ ucap delvia kesal dengan langsung menatap tajam pria yang sedang menyetir disebelahnya itu.


‘’siapa yang sembarang? Coba lihat dirimu jika di depanku seperti singa betina dan jika di hadapan orang tuaku kau seperti seekor kucing anggora’’ jelas andika dengan pendapatnya sendiri.


‘’hey..hey..hey..!!! kau tak sadar dengan dirimu sendiri? Kau tidak punya kaca?’’ ucap delvia yang mulai berpikiran sama dengan andika.


‘’memangnya kenapa aku’’ tanya andika dengan wajah heranya.


‘’lihat dirimu di depanku kau seperti buaya tapi di depan kakakku kau seperti seekor domba yang memiliki bulu emas’’ ejek delvia yang berpikir andika sama saja dengannya harus berakting di depan orang lain.


‘’memangnya untuk apa aku bersikap baik denganmu’’ tanya andika mengelak karena dirinyapun berpikir apa yang dikatakan delvia benar tapi dia tak mau kalah.


‘’untuk apa juga aku bersikap baik dan sopan padamu’’ bukanya menjawab delvia malah bertanya membuat andika akhirnya menyerah.


‘’sudah diamlah’’ seru andika kesal karena kalah debat dengan delvia.


Perjalananpun terasa sunyi kembali karena mereka berdua sama- sama dia andika hanya sesekali mencuri pandang melihat ke arah delvia yang sedang melamun menatap keluar jendela mobil, Mobil andikapun memasuki gerbang rumahnya,  rumah yang pernah sekali delvia datangi dan mungkin kedepannya akan sering dia kunjungi.

__ADS_1


‘’turunlah’’ ucap andika saat mobilnya kini berhenti di parkiran mobil rumah itu.


‘’iya aku tau’’ ucap delvia dengan nada tak suka diperintah andika, tapi yah mau bagaimana lagi dia harus patuh pada lelaki yang sering dia sebut buaya itu, delvia langsung turun dari mobil andika.


‘’mau apa kau’’ tanya delvia yang melihat andika meminta tanga delvia untuk menggandeng andika tangan andika.


‘’kau pura- pura bodoh atau memang bodoh? Atau kau mendadak buta yah sekarang’’ jawab andika kesal dengan respon delvia yang bukannya menggandeng tangannya malah bertanya.


‘’kau mau kita bergandengan memangnya harus? Waktu lalu kan ngak selebai ini’’ protes delvia.


‘’banyak bicara’’ seru andika sambil menggandeng tangan delvia dan sedikit menariknya untuk berjalan masuk, delviapu hanya mengikuti karena jika dia memberontak pasti akan menuai banyak perhatian.


''heran sekali dengan wanita ini... wanita lain ingin sekali aku gandeng tapi singa betina ini malah mengataiku lebay'' guman andika menahan rasa kesalnya.


Andika dan delvia pun untuk kedua kalinya memasuki rumah besar itu dan seperti biasanya mereka disambut dan diberi hormat oleh para pekerja dirumah itu, andika dan delvia berjalan menuju arah orang tuannya  dengan bergandengan tangan yang terlihat sangat mesra dan serasi.


‘’delvia’’ mama elie berucap saat melihat delvia dirinya segera berdiri dan mengambil ahli delvia dari andika.


‘’iya soalnya kak dion baru pulang dari luar kota, katanya sih besok tapi ternyata pulangnya malam ini jadi andika dan delvia sedikit mengobrol dengan kakak kan ngak enak kalau langsung ditinggal’’ jelas delvia.


‘’oh ternyata andika ngak bohong’’ jawab mama elie lega karena dirinya berpikir andika berbohong.


‘’kan


andika udah jelasin ke mama’’ ucap andika tak terima dengan kecurigaan mamanya


itu dan elie hanya tersenyum melihat sifat tak mau kalah anaknya itu.


‘’sudahlah


tak penting mereka lama datangnya yang penting mereka sudah disini dengan

__ADS_1


selamat’’ ujar papa yohan dengan bijaknya walaupun biasanya dia tak suka ada


orang yang tidak disiplin tapi kali ini mungkin karena alasannya sangat masuk


akal jadi dirinya tak mempermasalahkannya.


‘’jadi bagaimana status hubungan kalian’’ sambung yohan yang seperti orang tak sabaran.


‘’sudahlah pah nanti soal itu kita bicarakan nanti sekarang kita makan malam dulu nanti makananya dingin’’ seru elie yang tak mau terlalu menekan delvia dan andika ditambah lagi mereka baru datang dan pasti lapar.


‘’iya pah nanti kita bicarakan tapi sekarang lebih baik makn dulu karena andika lapar delvia juga belum makan’’ andika membenarkan perkataan mamanya.


‘’yasudahlah papa ngak akan terlalu menekan’’ ujar yohan yang mengalah dengan istri dan anaknya tapi sebenarna dirinya sangat penasaran dan di sisilain dia juga sudah lapar karena mama elie tidak mengijinkannya makan harus menunggu andika dan delvia dulu lalu makan bersama.


Delvia sangat kagum dengan kehidupan orang kaya di negaranya itu, dia pernah makan dirumah orang kaya yaitu dirumahnya lala saat itu delvia berpikir bahwa lala sangatlah kaya tapi saat dia melihat kekayaan andika yang 3kali lipat dari kekayaan lala dirinya sangat merasa kagum dan juga ada terselip rasa irih dengan kehidupan para orang kaya.


Mereka makan dengan sangat sopan dan senyap tanpa ada percakapan atau bunyi suara bising dari meja makan, delvia sudah terbisa bersikap sopan jadi juka hanya tatakrama saat makan dirinya sangat bisa jadi suasana terlihat seperti memang delvia berasal dari kalangan keluarga itu.


‘’delvia andika ayo keruang tengah tak baik bicara di ruang makan’’ ajak mama elie yang sama penasarannya dengan yohan tentang hubungan mudah mudih itu.


‘’baik ma’’ jawab andika sambil berdiri dan mengajak delvia keruang tengah.


‘’jadi bagaimana’’ tanya yohan.


‘’delvia setuju pah kak dion juga sudah setuju’’ jawab andika yang sudah mengerti pertanyaan papanya, andika menjawab sanbul mengengam tangan delvia dengan senyuman yang mematikan.


‘’gila pintar sekali dia berdusta apah ada kaset dimulutnya’’ ujar delvia yang tak sampai keluar hanya sampai di tenggorokannya dan hatinya sambil tersenyum menatap andika.


‘’jadi kamu sudah bicara dengan kakanya delvia’’ tanya mama elie dengan bahagianya dan dianggukan anaknya itu membuat kebahagiaannya semakin bertambah.


‘’benar itu delvia’’ tanya papa yohan memastikan.

__ADS_1


‘’iya paman’’ jawab delvia dengan lembutnya dan dengan wajah bahagi palsunya itu.


__ADS_2