
malam harinya saat dion pulang delvia telah selesai memasak dan menyiapkan makn malam, delvia mengajak dion makan sekaligus ingin menanyakan kepada kakaknya jika kakaknya punya uang.
''kakak ayo makan malam dulu'' ajak delvia.
''iya ayo, wah sepertinya kamu masak makanan yang enak yah aromanya saja sudah harum seperti ini'' ucap dion sambil menuju meja makan dan memuji masakan adik kesayangannya itu, delvia tersenyum dengan bangga saat kakaknya memujinya.
''ohya delvia kakak beberapa hari ini akan keluar kota untuk perjalanan bisnis yah'' dion angkat suara diatas meja makan.
''memangnya harus ya kak'' tanya delvia dengan nada penasarannya.
''yah harus karna perusahaan tempat kakak bekerja mengalami masalah jadi harus segera di tangani agar keuangan tetap stabil'' jelas dion agar adiknya mengerti keadaannya karna dion sendiri pun tidak tega meninggalkan adik semata wayangnya itu.
''ya sudah tidak apa-apa lagian delvia juga sudah besar kakak tidak perlu kawatir'' ucap delvia dengan senyuman tapi sebenarnya ada rasa kecewa tapi mau bagaimana lagi.
''baiklah, maaf yah tapi ini memang penting'' ucap dion sambil menatap dalam adiknya karna baru kali ini dia akan meninggalkan adiknya sedikit lama.
''ia tidak apa-apa kak'' delvia mengiakan namunhati dan pikirannya benar-benar kacau sekarang.
''baiklah kakak kembali ke kamar yah mau bersiap-siap'' ujar dion sambil beranjak dari meja makan.
delvia merapikan meja makan dan mencuci piring setelah itu dia langsung menuju kamarnya untuk beristirahat sekaligus menenangkan dirinya.
''yah Tuhan bagaimana ini aku tidak mungkin menambah masalah dan beban pikiran kakak apalagi soal uang'' delvia mulai bingung dan semakin tertekan dengan masalahnya.
''bagaimana ini aku tidak tau harus dapat uang dari mana... aku tidak memiliki benda yang mahal untuk dijual dengan harga sebanyak itu hanya ada kalung peninggalan mama tapi aku sudah berjanji untuk tidak menjualnya'' guman delvia kembali dengan diiringi buliran bening dari mata cantiknya hingga membuatnya lelah berpikir dan terlelap tidur.
keesokan harinya delvia meminta ijin pada dion untuk tidak kuliah dan mengantarkan kakaknya ke bandara namun alasan utama dia tidak ingin ke kampus bukanlah ingin mengantar kakaknya namun delvia ingin lari dari masalahnya sejenak dan sekaligus mencari jalan keluar karna dia tau jika dirinya ke kampus pasti akan ada andika dan belum lagi pertanyaan yang akan dilontarka michel dan lala akan membuatnya tambah pusing dan stres.
''kakak kali ini saja delvia janji kak'' delvia memohon kepada kakaknya dengan memelas.
''delvia sekarang kamu sudah besar belajarlah dengan baik dan jadilah orang sukses kau tidak boleh bolos kuliah'' ujar dion yang merasa tidak tega dengan adinnya yang memohon.
__ADS_1
''bagaimana delvia bisa belajar dengan baik sedangkan delvia memikirkan kakak'' seru delvia menambah alasan dan bersikeras untuk tidak kuliah hari ini.
''baiklah tapi kali ini saja yah dan berjanjilah untuk besok dan seterusnya belajarlah dengan baik'' ujar dion memberi ijin bersyarat.
''siap bos'' ujar delvia sambil memberi hormat pada kakaknya membuat dion gemas dan mengacak-acak rambut adiknya.
''kakak aku sudah besar'' gerutu delvia sambil merapikan rambutnya.
''iya,iya adik kakak sudah dewasa'' ucap dion sambil memeberikan senyuman terbaiknya.
mereka berdua kini tiba di dandara dion memeluk adiknya dan mengucapkan selamat tinggal untuk beberapa hari kepergiannya, delvia sempat menangis saat pesawat dion sudah lepas landas, dia kini tengah duduk di depan bandara tiba-tiba dia diberi brosur oleh seorang penyebar brosur.
''hey tunggu'' ucap delvia pada pembagi brosur itu saat dirinya membaca isi brosur tersebut.
''iya apakah anda tertarik'' seru pembagi brosur itu.
''apakah brosur ini benar gaji perminggunya 50jt diluar bonus?'' tanya delvia tidak percaya.
''baiklah terima kasih informasinya'' delvia berucap girang
''sama-sama... saya pemisi'' ujar pembagi brosur itu dan diiyakan oleh delvia.
delvia merasa sangat senang hatinya begitu lega ketika dirinya mendapatkan brosur itu, rasanya dirinya ingin terbang karna sangking bahagiannya, delvia pulang dan mempersiapkan apa saja yang dipakainya untuk melamar kerja sebentar.
''aku harus tampil baik agar aku diterima aku sangat membutuhkan pekerjaan ini hanya satu minggu kakak pasti tidak akan mengetahuinya dan aku bisa membayar hutang pada buaya itu'' ucap delvia dengan begitu gembira.
malam harinya delvia terlihat sangat cantik dan menarik dirinya segera berangkat ke tempat tujuannya dengan langkah pasti.
***CLUB STARS***
''astaga ramai sekali'' guman delvia saat tiba di dalam club malam itu yang sungguh ramai dan dikelilingi orang-orang kaya dan wanita-wanita seksi.
__ADS_1
''permisi bisa liat kartu identitasnya'' ujar penjaga clup disitu.
''maaf pak jika ingin mendaftar ini dimana yah?'' tanya delvia sambil memberikan brosur ditangannya.
''mari ikut saya nona'' ucap penjaga itu sambil berjalan mendahului delvia.
delvia memperhatikan semua yang ada di dalam club itu semuanya mewah dan terlihat seperti desain yang mahal.
''silahkan masuk kedalam nona'' ucap penjaga keamanan itu sambil membukakan pintu dan mempersilahkan delvia masuk.
delvia berjalan memasuki ruangan tersebut dirinya melihat ada seseorang yang duduk di kursi kerja yang tengah sibuk dan menggaruk-garuk kepalanya dengan frustasi, delvia langsung memberi salam dan langsung pada tujuannya yaitu pekerjaan yang ada di dalam brosur.
''baiklah kau diterimah pakailah ini dulu'' ujar manager itu sambil memberikan pakaian pelayan clup kepada delvia dirinya tidak banyak bertanya maupun memberi syarat karna dia memang butuh seorang pelayan apalagi kalau dilihat delvia sangatlah menarik.
''seksi sekali'' guman delvia yang melihat pantulan dirinya menggunakan baju pelayan clup di depan cermin.
''antarkan ini di ruangan nomor 305, berhati-hatilah dan bersikap yang sopan'' ujar kepala manager sambil menyondorkan nampan anggur.
delvia membawah nampan itu dengan sangat hati-hati namun sialnya dirinya memasuki ruangan yang salah delvia memasuki ruangan nomor 350 dirinya bukanlah sengaja tetapi dirinya benar-benar lupa dengan nomor ruangannya.
''permisi'' ucap delvia sambil membuka pintu ruangan dan memasuki ruangan itu dengan membawa nampannya.
''sayang akhirnya kamu datang'' tiba-tiba delvia dikejutkan oleh seseorang.
''kau siapa jangan macam-macam aku hanya pelayan disini'' ujar delvia dengan rasa takut.
''aku hanya ingin bermain sebentar tubuhku sudah sangat tak tahan'' ucap pria tua yang sangat berbau alkohol itu sambil memegani pinggang delvia.
''dasar ******** jangan mendekat'' delvia sontak menendang pria tersebut dan melangkah mundur dengan cepat.
''dasar ****** berani-beraninya kamu memukulku, biar ku beri kau pelajaran'' pria itu kini menjambak rambut delvia dan menamparnya dengan sangat keras lalu dirinya meminumkan obat perangsang pada delvia.
__ADS_1
''dasar ********'' delvia berteriak dan segera memukul kepala pria itu dengan botol anggur kosong yang ada disebelahnya dan saat pria itu merasa lengah dan pusing delvia segera berlari meminta bantuan.