
andika dengan segera berlari menghentikan delvia namun delvia terlebih dahulu naik ke dalam taksi dan segera pergi dari tempat itu.
"sial!!! pasti dia marah" andika mengumpat saat tak dapat menghentikan delvia.
"kak ayo biarkan saja dia kan paman dan bibi juga ngak lihat" ajak clara yang baru saja turun menyusul andika, clara malah lebih senang delvia pergi.
andika mengiyakan dan langsung kembali ke dalam mobil dengan pikiran yang tak beraturan.
delvia memang sengaja meminta berhenti dengan alasan membeli sesuatu karena dia tau jika dirinya meminta turun dan naik taksi pasti tak akan di ijinkan karena alasan orang tua andika jadi itulah rencara yang disusun delvia saat menahan amarahnya terhadap clara dan andika yang dirasanya sangat mengucilkannya rasanya ingin sekali dirinya menangis.
"astaga kenapa aku begitu marah saat andika tak mebelaku... ahhh apasih yang ku pikirkan" delvia mengusap- usap kasar wajahnya yang sempat dipenuhi airmata itu.
sementara di mobil andika masi banyak berpikir dan tak tau apa yang ada di dalam pikirannya dirinya saja merasa aneh dengan sikapnya yang sekarang dan tak menghiraukan percakapan tak berguna clara.
"kak?" panggil clara.
"KAKAK?" teriak clara yang jengkel dengan andika yang tak menghiraukannya.
"iya kenapa" jawab andika santai.
"kakak perhatiin aku ngak sih" omel clara.
"iya... yasudah turunlah sudah sampai" ujar andika sambil mempersilakan clara turun karena mobilnya telah berada di depan rumah clara.
"baiklah" clara hanya bisa mengendus kesal.
"dan jangan seperti tadi lagi yah itu tak sopan" ujar andika dari jendela saat clara sudah menutup pintu mobil itu.
tanpa mendengar jawaban clara yang aneh- aneh andika langsung melajukan mobilnya dan sesegera mungkin menuju ke kampus.
delvia kini telah tiba di kampus dengan taksi yang dia tumpangi, delvia segera masuk ke dalam kampus yang rasanya sangat dia rindukan itu namun dirinya melihat semua orang menatapnya dan berbisik- bisik apalagi para mahasiswi kampus itu.
delvia mencoba untuk tak menghiraukannya dan segera mencari keberadaan kedua sahabatnya.
"delvia" teriak michel dan lala bersamaan.
__ADS_1
"hay" sapa delvia dengan senyumannya.
"delvia ayo ikut" michel tiba- tiba menarik tangan delvia dengan cepat membawahnya ke papan pengumuman besar di kampus itu.
delvia tak melawan dirinya hanya mengikuti michel walaupun sebenarnya dirinya sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
"astaga apa- apaan ini" teriak delvia sambil mencabut seluruh gambar yang di tempel di papan pengumuman itu.
"siapa yang kurang kerjaan seperti ini" ujar delvia marah- marah dan mengundang perhatian orang- orang sekitar.
"del tenanglah" ujar michel sambil membantu mencabut gambar- gambar yang di tempel itu.
"wah kelihatannya ada yang malu ketahuan pacaran" suara tak asing itu membuat semua orang menyorot asal suara itu tak terkecuali delvia dan michel yang menghentikan aktivitas mereka.
orang yang berani berbicara seperti itu tak lain adalah andika hanya dia yang berani menyinggung status bayu di kampus itu, gambar yang terpajang yang membuat delvia begitu terkejut dan marah adalah potret dirinya dan bayu waktu terakhir bertemu di cafe dan juga pelukan terakhir di depan cafe dan ditambah tulisan- tulisan wanita materialistis dan juga wanita murahan yang suka jual diri tak pastas dengan bayu.
delvia tak memperdulikan andika dan setelah mecabut semua gambar di papan itu delvia langsung pergi bahkan tanpa melirik andika.
"ada apa dengan dia? apa masih marah" andika berguman dengan penasaran dan heran.
"kenapa dia sejahat itu sih chel.... aku sudah banyak membantunya apa mungkin itu semua kurang memangnya salahku dimana" delvia menangis dengan terisak- isak dan mencurahkan isi hatinya kepada sahabatnya dirinya sungguh sangat sedih karena dia berpikir orang yang membuat semua gambar itu tak lain adalah andika.
"michel kamu di panggil dosen" ujar seorang wanita yang tiba- tiba masuk ke dalam toilet.
"del aku tinggal sebentar yah kamu di temani lala dulu yah" ujar michel yang tak tega meninggalkan sahabatnya delvia hanya mengangguk.
tak lama michel pergi lalapun sudah delvia suru masuk ruangan karena tak enak jika terus menemaninya lala sempat menolak tapi tak bisa berbuat lebih dan membiarkan delvia sendiri karena delviapun sudah terlihat membaik.
"aku harus kuat menunggu sampai shiva datang hanya sampai shiva datang demi kakak" ujar delvia menyemangati dirinya sendiri.
"hahahah wanita murahan yah kasian" teriak beberapa wanita saat delvia membuka pintu toilet dan tepung terigu di atas pintu itu jatuh diatas kepala delvia dan membuat seluruh badannya bertepun dan ditambah air dan telur yang dilempar beberapa siswi kearahnya.
tiba- tiba tubuh delvia merasa sudah tak ada lemparan dan merasa ada yang melindunginya.
"bayu" ujar delvia saat membuka mata dan melihat pria yang tengah melindunginya itu.
__ADS_1
"STOP" suara pria yang tiba- biba menggelegar di tempat itu suara itu berhasil membuat semua orang merinding mendengarnya.
"kalian tak ada hak menghakimi" ujar andika, yah pria yang tadi berteriak dengan sangat kencang itu adalah andika.
bayu segera melepas bahu delvia dan delvia berlalu dari sana dengan menitikan air mata delviapun sempat saling bertatapan dengan andika namun dirinya dengan cepat berlalu dari sana begitu juga dengan bayu dan yang lainnya terkecuali andika yang masi tak bergeming dari posisinya rasanya dirinya tak senang saat mereka memperlakukan delvia seperti tadi di tambah lagi bayu yang menolongnya.
"kenapa aku seperti ini,,, kenapa begitu peduli dengan dia" guman andika yang heran dengan dirinya sendiri.
delvia tengah berada di jalanan untuk pulang namun tak ada taksi yang mau mengantarnya dengan keadaan seperti itu dirinyapun tak tau harus kemana jika dia ke rumahnya maka dion akan curiga apa lagi jika dia ke rumah andika apa yang akan terjadi.
*drtttt.. drttt... drttt* suara getaran ponsel delvia membuatnya berhenti dan duduk di tembok pinggiran jalan untuk memngangkat ponselnya.
"kakak" delvia berucap pelan saat melihat siapa yang menelponnya di saat seperti ini.
ingin rasanya delvia pulang dan memeluk kakaknya sambil menangis dan menceritakan semuanya tapi dirinya tak mampu.
"hallo kak" delvia akhirnya menjawab panggilan telepon itu.
"hallo sayang? kamu dimana" tanya dion.
"di pinggiran kampus kak.. memangnya kenapa" tanya delvia balik.
"ngak kakak cuma mau bilang kalau mau main ke rumah kakak beberapa hari ini ngak ada soalnya ada urusan bisnis diluar" jelas dion memberi tau maksud panggilannya.
"ke luar lagi?" tanya delvia.
"iya kakak berangkan setengah jam lagi soalnya ini proyek besar yang diberikan papa mertuamu jadi kakak harus tepat waktu agar tak mengecewakannya" dion kembali menjelaskan.
"benarkah... bagus kalau begitu kakak yang semangat yah" ucap delvia mengumpulkan semua tenaganya untuk mencoba bahagia.
"baiklah sayang sudah dulu yah" dionpun mengakhiri panggilan telepon itu.
"ternyata dia memang menepati janjinya tapi saya dia tak sebaik yang ku kira.... aku akan pulang ke rumah kakak saja kalau kakak
sudah pergi" delvia mendapatkan jalan keluar untuk situasinya.
__ADS_1