
"hey kenapa kau menangis?" tanya andika dengan nada seakan- akan tak perduli namun tak di respon sama sekali oleh delvia.
"baiklah baiklah maaf aku terlalu kasar berbicara tentangmu aku kan hanya bercanda saja lagi pula yang terjadi tadi itu kecelakaan tanpa di sengaja" jelas andika mengelak demi meminta maaf.
delvia tetap saja tak menghiraukan andika dan langsung menghapus air matanya dan segera bangun lalu pergi membuang susu yang tadi di minta andika.
"mod wanita itu aneh- aneh terutama dia" guman andika sambil memperhatikan delvia.
"dasar brengsek!! dia berbicara seperti itu seakan- akan aku ini seorang ******" delvia tak berhenti menghujat andika di dalam hatinya sembari membuang susu yang mama elie berikan ke dalam toilet.
delvia kembali dan membaringkan tubuhnya di atas kasur berdampingan dengan andika, delvia enggan tidur di sofa karena tidurnya tak beraturan dan takut jatuh sedangkan andika memang tak mau mengalah jadi mereka berdua tidur bersama di kasur yang sangat besar itu dengan pembatas 2 bantal guling dan 2 bantal kepala di atasnya.
pagi harinya delvia terbangun duluan dan langsung menyegarkan tubuhnya dengan air, lalu merapikan bagian tempat tidurnya dan sesegera mungkin ingin keluar dari kamar itu.
"kau mau kemana" tanya andika yang baru saja bangun dan melihat delvia sedang menuju keluar.
"mau keluar olaraga pagi" jawab delvia.
''kau gila yah" andika spontan menyauti jawaban delvia.
"apa salahnya" tanya delvia masih tak mengerti.
"kau ini memang sangat bodoh ya, kalau kamu keluar olaraga lalu apa yang akan mama pikirkan jika melihatmu begitu fress" jelas andika.
"oh iya aku lupa untung saja belum pergi" ujar delvia mengingat.
"kau bukan lupa tapi bodoh" ucap andika mengejek.
"cepat bantu aku membereskan ini sebelum mama datang" pintah andika.
andika dan delvia segerah mengacak- acak tempat tidur mereka lalu andika membuat luka kecil di jarinya dan meneteskannya di kasur agar terlihat seperti mereka benar- benar melakukannya, andika merasa tak adil akhirnya dia juga dengan sengaja membuat tangan delvia luka kecil agar darahnya terlihat sedikit banyak.
"dasar siluman" delvia mengomel dengan suara berbisik sambil memegangi jari telunjuknya yang tergores.
"kau boleh keluar tapi nanti dan jangan lupa berpura- puralah seperti sedikit sakit" ujar andika yang membuat delvia mengerti dan juga merinding geli.
__ADS_1
"kau seperti sudah pakar saja" ketus delvia yang merasa andika memang sudah sangat berpengalaman.
"sudalah ikuti saja" ujar andika melerai.
tak lama dari persiapan mereka seperti tebakan andika mama elie akan muncul pagi ini dengan berpura- pura mengambil gelas susu semalam sekaligus membawahkan baju ganti untuk anak dan menantunya itu.
"pagi sayang" ucap mama elie saat andika membukakan pintu yang tengah di ketuk- ketuknya tadi.
"pagi ma" jaga andika yang berpura- pura terlihat malas.
"dimana istrimu?" tanya mama elie yang berjalan masuk kearah meja tempat gelas susu berada sambil melihat sekitar kamar lalu meletakan baju yang dibawahnya diatas kasur.
"dia sedang mandi ma" ucap andika menjawab.
"mama ini kan kita punya pelayan kok mama yang repot antar dan ambil gelas susunya" ujar andika yang mengikuti mamanya berjalan keluar.
"ngak apa- apa nak mama senang kok" ujar mama elie dengan senyuman yang mengembang sempurna.
"yasudah sebentar lagi kalian turun sarapan yah" pintah mama elie sambil berlalu dari sana dan andikapun hanya bisa mengiyakan.
"wah sepertinya anakku memang serius dengan delvia... aku tak perlu khawatir lagi" guman mama elie sambil berjalan dengan bahagiannya mengingat- ingat apa yang dilihatnya di atas kasur yang berantakan itu tadi.
"tubuhmu itu gemuk cocoknya pakai pakaian yang seprti ini bukan seperti yang semalam" ejek andika saat memperhatikan delvia yang mengenakan dress mini berwarna pink bercampur putih itu.
sebenarnya delvia sangat cantik dan tubuhnyapun sangat pas sebagai diatas standar wanita cantik namun andika tak mungkin mengakuinya itulah sebabnya dirinya mengejek delvia padahal di dalam hatinya dirinya ingin memuji wanita itu.
andika dan delvia kini telah sampai dan duduk di masing- masing kursi mereka yang berdampingan di meja makan tak lupa juga delvia berpura- pura berjalan dengan gaya yang seakan- akan dirinya kesakitan dan merasa perih di bagian bawahnya.
hal itu membuat semua mata tertuju padanya dan semua mata yang melihat itu sangat berbahagia kecuali seseorang yang merupakan tamu tak di undang yaitu clara, clara bermalam di rumah andika karena permintaan andika sebab semalam terlalu larut untuk clara pulang sebenarnya kedua orang tua andika tak menyetujuinya tapi karena alasan kemanusiaan jadi mereka terpaksa menyetujuinya.
"mah kelihatannya ada yang bersenang- senang ini" goda papa yohan dan hanya di respon tertawa dari semua orang di meja makan itu.
"sudah- sudah ayo sarapan dulu" ujar mama elie meredakan suara bising di meja makan itu.
mereka semua lansung menikmati sarapan pagi itu dengan suasana bahagia dan seperti biasanya tak ada percakapan saat mereka tengah menikmati makanan pagi itu.
__ADS_1
seusai makan andika dan delvia pamit untuk ke kampus orang rumah sempat tak setuju namun mereka bersikeras dengan alasan tugas kulia.
"ayo berangkat" ajak andika.
"kakak aku numpang yah" clara tiba- tiba langsung berlari menuju parkiran dan ingin di antar pulang andika.
"iya lagian kita juga searah" andika menerima permintaan clara.
clara langsung masuk dan duduk di depan dengan andika sedangkan delvia yang sempat disenggol clara sedikit kesal dengan tingka clara yang sangat angkuh dan tak tau sopan santun.
delviapun duduk di belakang sambil memainkan hanphone tanpa memperdulikan andika dan clara yang sedari tadi membicarakan shiva.
"kakak apa kau benar- benar melakukannya dengan dia" tanya clara tanpa ada rasa malu dan tanpa memperdulikan delvia.
"tidak" jawab andika singkat.
"sudah ku tebak dia hanya berpura- pura tadi, memang wanita bayaran seperti ini mana mungkin perawan" ucap clara dengan nada sombongnya karena berpikir delvia di bayar andika untuk menikah tanpa memikirkan delvia yang sedari tadi sangat marah mendengarnya namun berusaha menahan amarahnya.
"sudalah clara jaga ucapanmu kau ini juga perempuan" ujar andika mencoba menghentikan percakapan.
"memang benar kan... dan jangan sama kan aku dengan dia aku bukan perempuan bayaran kak" ujar clara seakan tak bersalah dan tak punya hati.
"bisakah kita berhenti sebentar di depan situ?" andika hendak menyauti clara tapi delvia duluan berbicara.
"untuk apa" tanya andika penasaran.
"ada yang ingin ku beli" ujar delvia dengan nada biasa padahal sebenarnya dirinya sangat terbakar amarah dan rasanya ingin sekali mencekik clara.
"oh baiklah" andika mengiyakan dan segera menepikan mobilnya di tempat yang delvia tunjukan.
"buat repot saja" sahut clara yang tak suka andika mengikuti keinginan delvia namun delvia lagi- lagi bersikap tak menanggapinya.
delvia turun dari mobil dan berdiri di sebelah toko kue dan membeli beberapa potong kue setelah dirinya membayar kue itu dia belum kembali ke mobil dan berpura- pura memilih kue lagi.
andika dan clara yang memperhatikannya merasa aneh.
__ADS_1
"kenapa dia lama sekali" clara mulai menggerutu.
"apa yang dia lakukan" ujar andika dan sesegera mungkin turun dari mobil saat melihat delvia menghentikan sebuah taksi yang baru saja datang.