Gadis Malang (Hanya Aku)

Gadis Malang (Hanya Aku)
memungkiri


__ADS_3

‘’syukurlah ternyata siluman ini ada gunanya juga’’ delvia memiliki ide untuk menghindari rasa canggungnya.


‘’bayu aku angkat telpon dulu yah’’ delvia meminta ijin karena tak enak jika langsung menjauh dan mengangkat teleponnya.


‘’iya’’ bayu sedikit memaksakan perkataannya.


Delvia segera menjauh sedikit dari jangkauan pendengaran bayu agar bayu tak mendengar dan mengetahui siapa yang menelponnya dan akan membicarakan apa.


‘’hallo?’’ delvia kini mengengkat panggilan itu saat dirasanya tempat dirinya berada saat ini aman dari pendengaran bayu.


‘’hey kenapa kau lama sekali menjawabnya’’ bentak andika yang kesal dari balik panggilan itu.


‘’yah maaf’’ ucap delvia singkat.


‘’sudah cepat katakan kenapa kau menelponku’’ tanya delvia.


‘’sepertinya kau merasa terganggu dengan teleponku apakah kau merasa tak enak dengan bayu’’ ucapan andika membuat delvia sedikit merinding takut.


‘’astaga dia mengetahuinya’’ guman delvia.


‘’kenapa diam… oh aku tau kau pasti bertanya kenapa aku bisa tau kan?’’ sambung andika menebak dengan telak pemikiran delvia.


‘’astaga apa kau benar- benar siluman sampai isi hatikupun kau tau’’ kesal delvia yang tanpa sadar membenarkan perkataan andika.


‘’sudalah aku tak perduli dengan urusanmu tapi bisaka kau tak melupakan janji temu dengan orang pertama’’ andika membicarakan maksud dari panggilan teleponnya.


Sebenarnya andika sedari tadi duduk manis di mobilnya dengan muka yang tak manis memperhatikan bayu dan delvia, andika sendiri tak tau kenapa dirinya tak suka calon istri pura- puranya itu dekat dengan sepupunya tapi dia memungkiri semuanya dan bersikap seakan- akan tak perduli.


‘’astaga iya maaf aku lupa’’ ujar delvia saat mengingat dirinya sudah duluan berjanji pada andika mau bertemu malam ini dan tak terasa cukup lama dirinya dan bayu di kafe membuatnya lupa dengan waktu.


‘’mau bertemu dimana’’ tanya delvia.


‘’taman kota saja disana lumayan sepi kalau malam’’ andika memberi tahu tempat pertemuan merekan dan mengakhiri teleponnya.

__ADS_1


‘’astaga kenapa juga aku takut ternyata dia tidak marah hanya saja mau mengatakan janji temu kita’’ guman delvia sambil menatap nama dan nomor ponsel yang baru saja mengakhiri panggilan mereka.


Delvia kini kembali ke tempat duduknya dan diam seribu bahasa dengan menampakan wajah gelisannya yang tak tau harus beralasan apa untuk pergi dari café itu jika delvia bilang karena ada janji dengan orang lain takutnya bayu tambah kecewa terhadapnya.


*hening*****


‘’siapa yang telpon tadi’’ tanya bayu membuyarkan keheningan antara mereka.


‘’ah itu… kakakku’’ jawab delvia dengan gugup namun tetap terucapkan dengan baik.


‘’bayu aku harus segera pulang tak enak dengan kakakku aku harus memasak untuknya’’ delvia mulai mencari alasan untuk pergi dan segera melangkakan kakinya keluar.


‘’bagaimana dengan jawabanmu?’’ bayu menahan lengan delvia dan menanyakan keputusan delvia terhadap pernyataannya.


‘’maaf aku tak bisa menjalin hubungan denganmu’’ ucap delvia dan langsung melepaskan tangannya dari genggaman bayu lalu bergegas pergi dari sana.


‘’delvia’’ langka kaki delvia terhenti di depan kafe karena bayu masih terus mengejarnya.


‘’tentu saja’’ ucap delvia dengan senyuman.


Bayu kini sangat dekat dengan delvia sehingga membuatnya tak dapat menahan diri dan juga di tambah senyum manis delvia membuat bayu dengan refleks memeluk tubuh delvia dan berhasil mengejutkan wanita itu.


‘’biarkan seperti ini untuk waktu yang singkat anggap saja bayaran karena kau telah menolakku’’ bayu mengucapkan kata- kata yang seakan sangat dalam yang memang berasal dari lubuk hatinya saat delvia ingin melepaskan pelukannya dan kata- kata itu berhasil membuat delvia membiarkan pelukan itu.


Sementara di sisi lain andika merasa sudah tak tahan dengan situasi panas yang tengah dilihatnya mulai dari merka makan bersama sampai berpelukan membuatnya salah paham dan pergi dari sana untuk menunggu delvia di taman kota, lagi- lagi dia memungkiri perasaannya.


''baiklah aku harus pulang sekarang'' delvia melepaskan pelukan bayu yang dirasanya sudah cukup lama.


''biar aku mengantarmu pulang ini sudah malam'' bayu memawarkan diri untuk mengantar delvia pulang.


"tidak usah bay... lagian aku juga mau mampir ke tempat michel dulu" delvia mencari alasan untuk menolak tawaran bayu.


"kalau begitu biar ku antar kamu ke rumah temanmu" bayu masih berusaha ingin mengantar delvia.

__ADS_1


"ngak usah bay... aku naik taksi aja" delvia berusaha menolak agar bayu tak mengantarkannya dan untung saja di saat yang tepat ada taksi yang datang dan delvia dengan segera memanggil menghentikan taksi itu.


"makasih ya bayu untuk hari ini dan makasih buat tawarannya tapi aku naik taksi saja" ujar delvia saat taksi yang di panggilnya berhenti tepat di sampingnya.


"yasudah kalau begitu berhati- hatilah" ujar bayu dengan nada sedikit tak rela.


delvia segera menaiki taksinya dan menyuruh supirnya mengantarkannya menemui andika, delvia merasa sangat lega karena bisa bebas dari situasi canggung tadi, sedangkan bayu merasa sangat kecewa dengan kejadian tadi dirinya terlalu percaya diri berpikir bahwa delvia memiliki perasaan yang sama dengannya namun nyatanya tak seperti yang dipikirkannya.


taksi yang ditumpangi delvia kini telah berhenti di tempat tujuannya, delvia segera turun dan mencari keberadaan andika di sekitaran taman itu.


"maaf yah lama" ujar delvia saat mendapati keberadaan andika dan langsung mendudukan tubuhnya di samping andika.


"masih niat datang ternyata" sindir andika entah kenapa sikap andika terlihat begitu aneh.


"yah kan aku sudah minta maaf aku lupa" ucap delvia yang memang merasa tak enak.


"yasudah katakan apa rencana mu untuk besok" andika memulai percakapan penting mereka.


"rencanaku? aku kan bilang kita susun rencana bersama bukan hanya aku yang berpikir" delvia tak terima dengan pertanyaan andika karena memang dirinya belum memikirkan banyak hal.


"bilang saja kau tidak punya rencana karena sibuk pacaran" ujar andika tanpa menatap delvia.


"siapa yang pacaran" delvia mengelak tak terima dengan perkataan andika yang membuatnya kesal.


"sudalah mau pacaran atau tidak aku tak perduli tapi usahakanlah fokus pada tujuan kita" andika berkata- kata dengan nada datarnya seakan tak keberatan jika delvia punya kekasih lain.


"kau ini bicara apa?" seru delvia setengah berteriak karena sudah sangat kesal tapi berusaha menahan emosinya.


"sudalah aku urus saja urusan kita masing- masing sekarang ayo susun rencana untuk besok" ajak delvia dengan sedikit membujuk.


andikapun akhirnya mengakhiri perdebatan kecil mereka dan melanjutkan pembicaraan mereka mengenai rencana mereka berdua dan saling bertukar pikiran untuk menghindari acara pernikahan yang meriah dan membuat keluarganya menyetujui pernikahan mereka hanya bisa di ketahui saudara dan kerabat dekat mereka.


setelah rencana mereka telah tersusun dengan sangat rapih andikapun mengantar delvia kembali ke rumah dan dirinya segera pulang untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2