
Pagi harinya delvia terbangu di jam seperti biasanya yaitu jam 5 pagi delvia mungkin terbiasa karena dirinya telah diajari dion untuk bangun dan membuat sarapan karena di masa mendatang delvia harus melakukan itu karena dirinya seorang wanita yang pastinya akan menjadi seorang istri.
Delvia keluar dari kamarnya dan langsung menuruni tangga menuju ke dapur, delvia melihat beberapa pelayan sedang memasak di dapur delvia berinisiatif untuk membantu mereka.
‘’apakah saya bisa membantu’’ tanya delvia memberi diri.
‘’maaf nona kami bisa melakukannya lagipula nona adalah tamu disini’’ jawab seorang pelayan dengan sopannya.
‘’tapi…’’
‘’nona ini sudah menjadi tugas kami jika nona membantu nona hanya akan mendatangkan masalah untuk kami nona jadi tolong mengertilah’’ ujar pelayan itu memotong pembicaraan delvia dengan coba menjelaskan agar delvia tak memaksa.
‘’baiklah aku mengerti’’ ujar delvia.
Delvia memutuskan untuk pergi mencari tempat yang nyaman untuknya dia memilih pergi ke taman yang ada di halaman rumah andika tepatnya di samping garasi mobil ada taman bunga dengan kolam ikan mini.
‘’segar sekali’’ ucap delvia saat menduduki tubuhnya di ayunan yang ada di taman itu.
‘’pantas saja pria itu angkuh ternyata dirinya tak pernah merasalkan kekurangan’’ guman delvia yang memperhatikan taman sambil membayangkan dengan irih hidup andika.
‘’permisi nona anda di panggil ngonya besar untuk sarapan’’ panggil salah satu pelayan kepada delvia.
‘’baiklah’’ delvia menjawab sambil berlalu meninggalkan taman itu dan mengikuti pelayan tadi menuju ruang makan.
Delvia masuk dan langsung memberi salam kepada kedua orang tua andika, sedangkan andika belum terlihat di ruangan itu.
‘’sayang ayo sarapan bersama’’ panggil mama elie.
‘’ia ma… makasih’’ jawab delvia dengan malu- malu dan langsung menduduki salah satu kursi di meja makan yang besar dan panjang itu.
‘’andika mana’’ tanya papa yohan.
‘’pasti belum bangun memang sudah jadi kebiasaan… del kamu bisa ngak bangunin andika’’ pintah mama elie.
‘’delvia kan ngak tau letak kamar andika’’ elak delvia.
‘’kamarnya ada di lantai 3 paling pojok kanan’’ ucap mama elie memberi tahu.
‘’tapi ngak enak sama andikanya ma’’ delvia beralasan saja sebenarnya dirinya mana mau membangunkan buaya.
__ADS_1
‘’gak apa- apa sayang sekaligus latihan’’ mama elie tetap bersikeras dan malah menggoda delvia.
Delviapun mengiyahkan kalau dia mencari alasan lagi maka pasti orang tua andika akan curiga dan ditambah lagi delvia merasa tak enak jika terus digoda mama elie, delvia melangkahkan kakinya menuju arah letak kamar yang ditunjuk oleh mama elie tadi.
*tok..tok…tok*
Delviamulai mengetuk pintu kamar andika.
*tok…tok..tok*
‘’astaga siapa sih ganggu’’ gerutu andika kesal sambil membukakan pintu.
‘’ahhhh’’ delvia spontan berteriak dan memalingkan wajahnya saat dilihatnya andika membuka pintu dan berdiri dihadapannya dengan hanya menggunakan celana boxser yang sering dipakai andika saat tidur dan sudah jadi kebiasaan.
‘’papa dan mama mu menyuruh kamu turun untuk sarapan’’ delvia menyampaikan pesan yang ingin dia sampaikan.
‘’kalau bicara itu tatap orangnya’’ seru andika kesal karena delvia membelakanginya.
‘’kamu juga kalau menggunakan pakaian yang wajar’’ balas delvia masih dengan membelakangi andika dan membuat andika melirik tubuhnya sendiri.
‘’apa yang salah’’ tanya andika yang masih mencari kesalahan di tubuh setengah tel*njangnya.
‘’cepatlah turun’’ ucap delvia sambil berlalu tanpa menatap andika.
‘’dasar singa betina liar’’ umpat andika dan kembali masuk kedalam kamar dan bersiap untuk turun sarapan.
Delvia dengan cepat melangkahkan kakinya kembali ke ruang makan dirinya masih terbayang tubuh andika yang sempat dilihatnya dirinya merasa geli sendiri dengan apa yang dilihatnya karena walaupun delvia hanya tinggal berdua dengan dion, dion tak pernah bertelanjang dada apalagi hanya memakai celana seperti andika tadi jadi itulah pertama kalinya delvia melihat lelaki setengah telanj*ng.
‘’sayang dimana andika’’ tanya mama elie yang melihat delvia hanya kembali sendirian.
‘’dia nanti menyusul ma soalnya baru bangun’’ jawab delvia.
Tak berapa lama andikapun terlihat menuju kearah mereka, andika melirik de3lvia sejenak dengan tatapan tajam dan kemudian duduk untuk sarapan, selesai sarapan papa yohan meminta mereka untuk ke ruang kerjanya mungkin ada hal penting yang mau dibicarakan.
‘’bagaimana keputusan kalian semalam’’ tanya papa yohan TDP
‘’semalam’’ tanya delvia heran.
‘’iya semalam kalian bicarain pernikahan kan’’ papa yohan memperjelas pertanyaannya
__ADS_1
‘’iya malahan sampai mau beradegan’’ mama elie lebih memperjelas maksud pembicaraan dirinya dan suaminya membuat delvia dan andika merasa kaget.
‘’ah.. iya mah semalam kita udah bicarain soal pernikahan… iya kan sayang?’’ andika menangkap maksud dari pertanyaan itu dan meminta dukungan dari lawan mainnya.
‘’i—ya semalam kita bicarain soal rencana kita kedepannya’’ delvia mengerti dengan kode keras andika.
‘’jadi gimana keputusannya’’ tanya kedua orang tua andika.
‘’ehh keputusan yah’’ jawab andika.
‘’iya keputusan kalian gimana’’ tanya papa yohan semakin menekan tak sabaran.
‘’keputusannya besok kita bertemu dulu dengan kak dion lalu kita bicarakan disana masalah pernikahan kita jadi kayak lamaran orang tua dulu’’ jelas andika yang mendapatkan jawaban emas di otak cerdasnya.
‘’iya itu harus tapi kalian mutusin nikahnya kapan’’ tanya papa yohan yang tak puas dengan jawaban andika.
‘’lusa… iya lusa’’ jawab andika blak- blakan membuat delvia melototkan matanya pertanda ingin sekali bertengkar dengan andika.
‘’ah bagus sekali tanggalnya juga cantik pasti delvia yang mutusin yah’’ seru mama elie dengan bahagian dan menebak dengan sembarangan.
‘’ah iya mah’’ ucap delvia dengan senyuman yang dipaksa sebenarnya delvia enggan menjawab tapi andika menatapnnya dengan tatapan yang sulit diartika sepertinya andika akan memakan delvia hidup- hidup jika tak menjawab pertanyaan mama elie.
‘’baiklah mama dan papa akan bantu menyiapkan semuanya termasuk kedatangan kita di rumah delvia besok’’ ujar papa yohan.
‘’Dan untuk masalah acara dan yang lainnya nanti kita bicarakan di rumah delvia besok supaya jadi lebih enak untuk kelangsungannya’’ tambah ayah yohan yang terlihat sangat senang dan antisias.
‘’baiklah kalau begitu antarlah delvia pulang kalian kan mau ke kampus’’ ujar mama elie mingingatkan kewajiban dua mahasiswa itu.
‘’kalau begitu andika dan delvia pamit dulu yah mah pah’’ pamit andika.
Delviapun ikut pamit dan mereka berdua langsung menuju ke mobil andika yang terparkir di garasi mobilnya, keduannya masih termen ung dengan kejadian yang mereka alami tadi niatnya mengulur waktu malah mempersingkat waktu.
‘’kita harus membuat rencana’’ ujar delvia membuka percakapan.
‘’rencana apa untuk apa’’ tanya andika.
‘’yah kita harus mencari alasan untuk tidak menikah dengan meriah agar tak banyak yang tau tentang pernikahan kita’’ jelas delvia.
‘’lagian kamu juga pake jawabnya lusa lagi’’ ketus delvia.
__ADS_1
‘’yah kan gugup kamu aja diam kayak patung… nanti mereka curiga’’ andika membela diri dengan benar.
‘’yasudah nanti kita susun rencananya bentar malam soalnya ku mau ngerjain tugas dulu’’ ucap delvia, andikapun mengiyakan dan suasanapun kembali sunyi sampai di rumah delvia.