
orang tua andika kini sudah kembali ke kediamannya dan segera menghubungi seluruh kerabat dekat untuk memberitahukan pernikahan andika yang akan dilangsungkan besok, sedangkan andika mengajak delvia membeli gaun pernikahan dan cincin untuk acara besok itupun dilakukan hanya agar keluarga mereka tidak curiga.
"pilih saja yang kamu suka" ujar andika menunjuk ke arah semua cincin kalangan atas yang ada di mall itu.
andika menggunakan masker dan topi agar tak ada yang mengenalinya saat mempersiapkan pernikahan mereka.
"aku bingung kamu saja yang pilih" ujar delvia dengan lebingungan karena semua cincin- cincin itu sangat cantik dan mahal.
"kalau aku yang memilihnya untuk apa aku mengajakmu lagian cincin ini hanya kita pakai saat acara pernikahan saja" ujar andika tak terlalu perduli.
"benar juga" ucap delvia pelan membenarkan perkataan andika.
"astaga itu cantik sekali ukirannya sama seperti kalung peninggalan ibu" ucap delvia saat melihat sepasang cincin dengan ukiran kuno yang begitu menarik dan cantik dengan berlian berbentuk love yang menambah kecantikan cincin itu.
"kau mau yang ini?" tanya andika.
"iya" delvia menjawab dwngan antusias pikirnya juga cincinnya tak terlalu mahal dibandingkan yang lain.
"ini sangat murahan bisakah mencari yang lebih mahal supaya terlihat berkesan" ucap andika saat melihat cincin yang ditunjuk delvia memang cincinnya sangat menarik tehapi harganya sangat murah dimata andika mungkin karena cincinnya hanya dilapisi emas yang di ukir dan 1 berlian tambahan berbeda dengan cincin mewah lainnya.
"kalau kau tau seleraku murahan kenapa menyuruhku memilihnya kalau begitu kau saja yang pilih aku akan menunggumu di parkiran saja" ujar delvia kesal dan langsung berlalu meninggalkan andika.
andika membiarkan delvia pergi karena dia tak mau menambah keributan dan mengundang perhatian, akhirnya andika memilih cincin yang paling malah di tempat itu untung saja sebelum delvia pergi dia dan andika memang sudah memberikan ukuran jari mereka masing- masing sesaat sebelum memilih cincin.
"bungkuslah yang paling mahal sesuai ukuran jari saya dan calon istri saya" ujar andika tanpa berlama- lama sambil memberikan kartu atmnya.
"baik tuan" penjaga toko perhiasan itu langsung membungkus pesanan andika.
"ini tuan" ujar pelayan itu sambil menyerahkan cincin yang andika beli dan juga kartu atmnya.
"nona tolong bungkus juga yang itu yah" pintah andika yang mengurungkan niatnya untuk pergi dan menyuruh pelayan itu membungkus cincin yang tadi di tunjuk delvia.
"baik tuan" ucar pelayan dan langsung melaksanakan tugasnya.
andika selesai dengan cincinnya lalu segera kembali ke parkiran setelah itu memberikan cincin yang dia pilih kepada delvia, andika tidak memberi tahu delvia bahwa dirinya juga membeli cincin yang delvia pilih.
__ADS_1
setelah itu mereka langsung menuju ke butiq untuk membeli gaun pengantin.
*Rumah Bayu*
sedangkan dirumah, bayu sedang sibuk dan fokus dengan tugas di labtopnya.
"bayu besok kamu ada acara nak?" tanya papanya bayu yang baru saja mengakhiri panggilan teleponnya.
"tidak pah" jawab bayu singkat sambil menghentikan aktifitasnya dan menatap papanya saat bicara.
"memangnya kenapa?" tanya bayu.
"kita akan ke acara nikahan andika besok" jawab papanya bayu.
"ANDIKA?" tanya bayu setengah berteriak karena tak percaya.
"iya... andika memanya dia ngak kasih tau kamu?" jawab papanya bayu sambil kembali bertanya.
"andika menikah dengan siapa?" tanya bayu memastikan.
"papa juga kurang tau siapa wanitanya" jawab papanya bayu jujur.
"nak pernikahannya hanya di hadiri kerabat saja jadi tak menggunakan undangan nak" lagi- lagi jawaban papanya bayu membuat bayu lebih penasaran.
"astaga buat penasaran saja" gerutu bayu dan langsung mengambil ponselnya menghubungi seseorang.
.
.
.
"hallo" seorang gadis menjawab telepon bayu dengan sangat ramah.
"halo vha, kamu lagi di mana?" tanya bayu kepada shiva.
__ADS_1
bayu menelpon shiva untuk memastikan perkataan papanya kalau benar atau tidak.
"masih di luar negri kak... memangnya kenapa bay?" tanya shiva yang bingung kenapa tiba- tiba bayu menanyakan keberadaannya.
"ngak apa- apa cuma mau bicara saja tanyain kabar" ucap bayu bohong sebenarnya berbohong padahal dia ingin memastikan calon istri andika namun sepertinya shiva tak mengetahui apapun.
setelah cukup lama bercakap- cakap dengan shiva di telpon akhirnya bayu mengakhiri panggilan mereka.
"siapa wanita yang ingin dinikahi andika kenapa shiva seperti tak tau apa- apa" banyak sekali pertanyaan yang timbul di pikiran bayu ditambah lagi pernyataan shiva yang bilang dia dan andika baik- baik saja.
"sepertinya aku harus sabar menunggu besok aku sungguh penasaran ingin mengetahui siapa wanita yang malang yang berhasil di tipu andika" ucap bayu pasrah dengan keadaannya dan keingintahuannya.
andika dan delvia kini sedang sibuk memilih- milih tema dan gaun pernikahan mereka andika selalu menyuruh delvia memilih setelah memilih dirinya selalu berbeda pendapat dengan delvia.
"astaga aku sungguh heran denganmu biasanya cowok- cowok kaya yang aku baca di novel selalu pendiam dan dingin tapi kau sama seperti wanita" seru delvia yang sudah tak tahan dengan ocehan perbedaan pendapat andika.
"kau pikir aku akan sesuai hayalan bukumu" ujar andika dengan nada yang masih ingin mencari gara- gara.
"sudalah aku lelah kau saja yang atur semuanya" ujar delvia yang telah lelah bertengkar dengan andika.
"enak saja kau mau aku mengatur semuanya" andika tetap tak mau mengalah.
"baiklah KITA!!!... kita akan mengaturnya bersama" delvia kini sudah tak tau harus berbuat apa yang bisa dia lakukan hanya mengikuti keinginan dan perintah aneh andika.
"seperti itu kan pintar" ujar andika merasa menang dengan sedikit nada ejekan dan delvia hanya melepas napasnya yang memburu dengan kasar.
andika dan delvia mencoba setiap gaun yang sangat mahal- mahal dan hanya ada satu di dunia, mulai dari yang panjang pendek berlengan tak berlengan delvia mencoba semuanya sampai dirinya lelah dengan percobaan itu semua bajunya terlihat sangat bagus di tubuhnya dan karena itu dia disuruh mencoba semua gaun itu hingga akhirnya dia menetapkan pilihan pada gaun yang cantik dengan stelan berombak- ombak dan sangat menarik tanpa lengan yang dihiasi beberapa berlian dan permata.
"aku sudah memutuskan aku akan memakai yang ini" ujar delvia.
"itu tak terlalu bagus cobalah yang itu" andika memberi pendapat dan Menunjukan baju yang bulum delvia coba.
"yang memakainya kan aku mau jelek atau tidak itu pendapatku" bantah delvia.
"kau mau mempermalukanku" ujar andika yang tetap ingin delvia mencoba semuanya.
__ADS_1
"kau pikir anak mencoba semua ini kalau kau tidak suka yang ini maka carilah yang kau suka dan cobalah sendiri" delvia tak perduli lagi dan segera mengganti kembali pakaiannya dan langsung duduk beristirahat.
"begitu saja merajuk baiklah bungkus yang itu" andika kini mengalah karena melihat delvia memang sudah lelah hampir 2jam hanya mencoba gaun saja.