
Delvia terlelap dengan sangat nyenyak mungkin karena tempatnya sangat nyaman.
*Krukkk…krukkk*
Suara perut delvia mengganggu tidur nyenyaknya, delvia kini telah terbangun dan berdecak kesal dengan ketidak kompromi perutnya.
‘’astaga kenapa lapar di rumah orang sih’’ delvia memarahi perutnya sendiri, delvia memang sudah makan tapi dirinya hanya makan sedikit karena tak enak dengan orang tua andika.
‘’susah memang kalau perut orang susah makanan sedikit gak ada pengaruhnya di lambung’’ delvia lagi- lagi bercerita sendirian layaknya orang stress berat.
Delviapun memutuskan untuk keluar dari kamarnya untuk mengisi perutnya yang tak berhenti mengaum dan bergetar, delvia berjalan mengendap- endap menuju ke dapur untuk melihat apa yang bisa dia makan.
‘’sepertinya aku makan roti dan buah saja yang penting tadi aku udah makan nasi’’ guman
delvia saat melihat roti di pinggir pemanggang roty dan buah di dalam kulkas.
‘’lihat siapa yang tak tau malu sudah menginap mau maling lagi’’ ujar andika yang berada tepat di belakang delvia membuat delvia kaget setengah mati.
‘’astaga dia manusia atau siluman jam segini belum tidur’’ guman delvia yang berdiri kaku dengan posisisnya yang sambil memegang buah dan tangan satunya lagi baru saja merai roti yang ingin dimakannya.
‘’sedang maling apa kamu’’ tanya andika lagi dan membuat delvia mengubah posisinya menatap andika sambil memegangi buah dan roti tadi.
‘’sembarangan… aku Cuma mau makan kok aku lapar lagian sama tamu saja kamu pelit sekali’’ jawab delvia dengan nada menantang tapi sebenarnya dia takut dan malu tapi dipikir- pikir jika dia menunjukan ketakutannya maka andika akan lebih memojokannya.
‘’yah kalo ambil sesuatu terus ngak minta namanya apa kalau bukan maling?’’ seru andika yang sengaja ingin membuat delvia malu.
‘’yah jam segini mana aku tau ada orang yang aku tau semua orang tidur jadi aku ngak mau ganggu lagian keluarga kaya kayak kamu kan ngak keberatan kalau hilang makanan sigini’’ delvia mencoba memcari alasan dan tak mau kalah.
‘’buktinya ada aku kenapa ngak tanya dulu’’ recoh andika.
‘’yah mana aku tau kalau ada siluman kelelawar di rumah ini’’ ejek delvia sambil berjalan menuju meja makan dan duduk mamakan rotinya.
‘’apa katamu siluman kelelawar? berarti kamu juga siluman kelelawar dong’’ tanya andika dengan kesalnya.
__ADS_1
‘’sudahlah andika aku malas untuk berdebat denganmu aku lapar tadi aku hanya makan sedikit karena malu dengan orang tuamu, jangan lah terlalu peli aku kan hanya meminta makan sedikit lagian aku juga sudah banyak membantumu’’ jelas delvia yang kini tengah memakan buah karena rotinya sudah habis.
‘’kau berani sekali yah!!! Sudah mengataiku pelit masih juga menyebutku siluman’’ andika masih tak terima dengan perkataan delvia yang menyinggungnya.
‘’baiklah- baiklah kau itu baik dan sangat tampan rupawan mana mungkin kau itu siluman’’ bujuk delvia agar andika tak banyak bicara lagi.
‘’yah memang seperti itu seharusnya’’ andika memuji dirinya sendiri.
‘’dasar bodoh’’ guman delvia.
‘’apa yang kau pikirkan?’’ tanya andika yang memperhatikan delvia.
‘’jangan- jangan kau menyumpahiku’’ tambah andika menebak- nebak.
‘’tidak ada yang aku pikirkan,, sudahlah lebih baik kau ikut aku makan… pisang ini sangat enak’’ jawab delvia sambil memberi tawaran kepada tuan rumah itu.
‘’kau pikir aku monyet’’ seru andika tak setuju dengan buah pilihan delvia dan mengambil apel yang ada di meja lalu memakannya.
‘’hey mengapa kau tadi pura- pura keberatan untuk segera menikah’’ delvia mulai membuka percakapan dengan andika.
‘’nanti kalau aku hanya mengiya iyakan perkataan orang tuaku pasti mereka akan curiga jika ini semua sudah aku rencanakan’’ jawab andika mencoba menerangkan dan delvia hanya mengangguk tanda dia sudah mengerti dengan penjelasan andika.
‘’kenapa memangnya apa kau mau kita segera menikah’’ goda andika.
‘’jangan asal bicara aku malah lebih senang jika kita tidak jadi menikah… Cuma aku bosan saja bersandiwara lama- lama’’ elak delvia dengan nada tak suka akan godaan andika.
‘’memangnya kau pikir jika sudah menikah kau tidak perlu bersandiwara???’’ tanya andika.
‘’yah haruslah bodoh jika aku tak bersandiwara maka kekasihmu itu tak mungkin bisa bersamamu nantinya’’ ucap delvia dengan lancangnya.
‘’hey kau sudah dua kali mengataiku pelit dan berani mengataiku siluman dan sekarang sudah dua kali juga kau mengataiku bodoh...!!! ku rasa kau bosan hidup yah!!!!’’ andika kesal dan memarahi delvia.
‘’maaf- maaf bisaka pelankan suaramu yang lain sedang tidur tuan’’ ujar delvia yang tambah mengejek andika.
__ADS_1
‘’kau’’ andika semakin kesal dengan delvia.
‘’astaga dia benar- benar marah’’ guman delvia takut dan wajah entengnya berubah menjadi wajah khawatir.
‘’sepertinya aku mengantuk aku mau tidur sekarang’’ delvia mencoba menghindar saat andika berdiri dari kursinya dan mendekati delvia.
‘’mau kemana kau’’ andika mendorong tubuh delvia yang hendak berdiri dari kursinya.
‘’akhhhh’’ teriak delvia saat tubuhnya tak seimbang dan jatuh bersamaan dengan kursi dan juga orang yang mendorongnya yaitu andika.
Sebenarnya andika yang mengetahui delvia nakan terjatuh dengan segera menahan delvia tapi tak sempat karena delvia juga terjatuh dengan kursinya jadi bukan menolong andika malah ikut jatuh dan malah tambah merepotkan.
‘’astaga kalian berdua’’ teriak mam elie yang kaget saat melihat pemandangan di depannya.
andika berada tepat diatas tubuh delvia dan jaraknya sangat dekat, andika dan delvia langsung antusias memisahkan tubuh mereka dan langsung berdiri dengan malunya.
‘’ma ini ngak seperti yang mama bayangkan kok’’ ucap andika.
‘’memangnya apa yang mama bayangkan?’’ tanya elie dengan nada menggoda membuat delvia dan andika salah tingkah.
‘’astaga kenapa harus disaat seperti ini sih’’ guman delvia menahan rasa malunya.
‘’maksud andika kejadiannya mendadak ma’’ andika tak tau lagi harus berkata apa.
‘’yah ampun kenapa dia begitu bodoh’’ guman delvia yang semakin malu karena perkataan bodoh andika.
‘’makanya kalau mendadak segeralah menikah’’ goda mama elie lagi.
Andika dan delvia hanya tersenyum tanpa arti dan tanpa menjawab mama elie bingung melihat tingkah keduanya dan menatap mereka dengan keheranan.
‘’kalau begitu delvia pamit dulu soalnya delvia sudah mengantuk selamat malam’’ delvia langsung berlalu dari tempat itu dan segera menuju kamarnya.
‘’perset*n dengan sopan santu yang penting hilangin malu dulu nanti malah tambah panas situasinya kalau aku masih berada disitu’’ guman delvia di tengah perjalanannya menaiki tangga.
__ADS_1