Gadis Malang (Hanya Aku)

Gadis Malang (Hanya Aku)
bertemu dion


__ADS_3

sore itu delvia mempersiapkan semua yang ada untuk kepulangan kakaknya mulai dari kebersihan rumah sampai bahan makan yang akan dia besok pagi, waktu pun menunjukan bahwa delvia harus bersiap-siap karena sebentar lagi andika akan menjemputnya untuk bertemu orang tua andika lagi.


delvia telah siap dengan dress pink yang sangat cocok dengan warna kulitnya juga tak lupa make up tipisnya delvia selalu mengurai rambutnya mungkin baginya itu lebih baik dia hanya akan mengikat rambutnya jika dirinya merasa gerah atau ada acara- acara tertentu.


*tok...tok...tok* suara ketukan pintu membuat delvia segera kedepan untuk membuka pintunya.


"pasti buaya itu... dasar tak sabaran padahal masih ada 15 menit lagi" gerutu delvia.


*krekkkk*


"SURPRISE" teriak dion yang tengah berada di luar pintu itu.


"kakak" delvia kaget setengah mati dan langsung memeluk kakaknya dengan mata yang sudah sedikit berair karena terharu dan juga tak menyangka orang yang dia rindukan beberapa hari ini kini telah ada di depannya.


"kamu sepertinya kangen berat" ejek dion sambil melepas pelukan.


"yaiyalah... tapi kok kakak pulangnya sekarang sih bukannya bilangnya besok pagi delvia belum masak" tanya delvia sambil berjalan masuk.


"iya kakak sengaja buat bikin kamu kaget lagian ngak apa- apa juga kamu belum masak soalnya kakak udah makan di jalan tadi gak tahan lapar" jelas dion yang sengaja membuat kejutan untuk adiknya.


"ehh kamu udah cantik begini mau kemana" tanya dion yang melihat delvia sudah sangat rapi.


*tok...tok...tok* belum sempat delvia menjawab suara ketukan pintu menghalanginya.


"biar kakak yang bukakan pintunya" suru dion sambil berdiri menuju arah pintu utama mereka.


"astaga apa yang akan ku katakan kepada kakak" guman delvia yang panik.


delvia takut jika dion berpikiran macam- macam terhadapnya dan dion akan kecewa dengannya apalagi andika tak ada sopan- sopannya menurut delvia.


"malam" ujar andika yang kaget tapi tak panik melihat dion yang membukakan pintu.


"malam cari siapa yah" tanya dion dengan ramah.


"saya cari delvia kak, saya mau jemput dia" ujar andika dengan sangat sopan sambil tersenyum.

__ADS_1


"masuk dulu biar lebih jelas tujuannya" pintah dion yang ingin menanyakan banyak hal kepada lelaki di depannya itu dan juga adiknya.


"baik kak" jawab andika yang mengikuti dion masuk kerumah itu.


andika dipersilahkan duduk oleh dion dan delvia disuruh buatkan minuman, andika telah memberi isyarat kepada delvia karena dia tau delvia sedang panik jika dilihat dari raut wajahnya.


"siapa namamu" tanya dion dengan penuh selidik.


"nama saya andika" jawab andika dengan santai namun terkesan ramah dan sopan.


"saya dion kakaknya delvia" dion memperkenalkan dirinya terlebih dahulu agar andika tak mengasingkannya dan tak berpikiran macam- macam meskipun andika sudah tau.


"kamu siapanya delvia dan kamu mau jemput dia kemana" tanya dion lagi karena mungkin dirinya khawatir dengan adik semata wayangnya itu.


"saya pacarnya kak, saya sempat ingin memberitahukan ke kakak tapi kata delvia waktunya belum tepat dan saya ingin menjemputnya menemui orang tua saya soalnya katanya mereka kangen sama delvia" jelas andika dengan akting yang sangat sempurna sampai- sampai membuat delvia kaku saat mendengar penjelasan andika.


"mengapa kau tak memberitahu kakak" tanya dion dan langsung memalingkan tatapannya kearah delvia.


"maaf kak bukannya delvia ngak mau bilang delvia hanya takut kakak ngak setuju" jawab delvia gugup namun masih lancar di ucap.


"iya kak" jawab andika singkat.


"hubungan kalian sudah sampai mana? dan sudah seserius apa" tanya dion.


"uhuk..uhuk..." delvia yang sedang meminum jusnya tersedak mendengar pertanyaan kakanya itu namun dia memberi isyarat kepada sedua laki- laki itu bahwa dirinya tidak apa- apa.


"dasar bodoh" guman andika.


"saya dan delvia masih berpacaran biasa kak dan tidak ada yang lebih tapi baru kemarin saya melamarnya dan kami belum sempat bicarakan ini dengan kakak ataupun orang tua saya rencananya malam ini kami sepakat memberitahukan keinginan kami kepada orang tuaku dan besok kepada kakak tapi karena kakak sudah ada malam ini jadi kami harus membicarakan ini" jelas andika dengan sangat detail.


"astaga dia pandai sekali bermain kata" guman delvia yang gemas dengan kelicikan lelaki buayanya itu.


"apakah benar itu delvia" tanya dion memastika.


"iya kak delvia juga sudah yakin dengan pilihan delvia" ucap delvia dengan senyum seiklasnya dari wajah namun tidak di hatinya.

__ADS_1


"kakak juga tak ada hak melarang urusan pribadimu kau juga sudah besar jadi bisa mengatur jalan hidupmu kakak cuma bisa mendoakan yang terbaik" ucap dion dengan tulus membuat siapapun yang melihatnya terharu dengan kasih sayangnya pada adiknya.


"makasih kak" ucap delvia sambil memeluk kakaknya.


"dasar cengeng" guman andika yang merasa lucu dengan tingkah delvia.


"ohya andika kamu kulia atau kerja" tanya dion memastikan kelangsungan hidup adiknya.


"saya kulia sambil kerja kak" ucap andika.


"memangnya kamu sanggup" tanya dion mulai ragu.


"saya tau kakak khawatir dengan delvia tapi kakak tenang saja saya bisa mengurusnya dan setelah saya sudah bersama delvia saya akan lebih banyak bekerja dari pada kulia" ucap andika serasa sangat alami padahal hanya bualan untuk melangsungkan rencana gilanya.


"memangnya bisa" tanya dion yang berpikir andika tak akan lulus jika dirinya lebih banyak bekerja.


"bisa lah kak orang dia pemilik kampusnya" ujar delvia yang sudah mulai bosan dengan pertanyaan dan jawaban dua lelaki itu, mungkin bagi wanita yang memang dicintai dan mencintai hal yang dibicarakan dion dan andika sangatlah penting dan membahagiakan tapi untuk delvia itu hanyalah kekonyolan dan kebohongan semata.


"apa pemilik kampus" tanya dion tak percaya.


"iya" jawab delvia malas.


"iya kak saya andika edward deluks anak pemilik kampus loyal dan pemilik perusahaan edwardleser grup juga pewaris deluks grup" jelas andika sebenarnya dia tak ingin dion mengetahuinya karena mereka akan berpikir dia sombong tapi mau bagaimana lagi delvia yang membongkar semuanya dan tak mau memberi kakaknya penjelasan.


"a__pa deluks grup kau putranya yohan deluks?" tanya dion tak percaya.


"iya kak jadi jika kakak mengijinkan saya akan membawah delvia kerumah orang tua saya dan jika mereka setuju maka kita sekeluarga akan membicarakan ini" jelas andika.


dion masih tak bergeming dengan apa yang dia dengar dan masih mencoba memahami orang yang duduk di depannya itu memang jika dilihat lebih teliti andika sangatlah mirip ayahnya.


"andika... saya tak ingin kamu memanjakan delvia dengan uang dan saya juga tak akan merelakan adik saya denganmu walaupun kau memiliki banyak uang jika kau hanya akan menyakitinya saya rela hidup melarat bahkan mati sekalipun demi adik saya jadi saya mohon jaga dan lindungi dia seperti yang saya lakukan" ujar dion yang mengeluarkan semua unek- unek yang ada di dalam hatinya.


delvia menangis terharu dengan perlakuan kakanya dan kepedulian kakaknya tapi dia juga tak bisa kalah dari andika, tak hanya delvia hati andikapun merasa terhentak saat mendengar perkataan dion.


"baik kak aku akan menjaganya sebaik mungkin" ucap andika dengan sedikit berat.

__ADS_1


"baiklah aku menyetujui kalian tapi jika kau menyakitinya sekali saja jangan harap kau bisa bertemu dengannya" ancam dion yang menyetujui dengan syarat dan disanggupi andika.


__ADS_2