
andika begitu frustasi memikirkan hal- hal yang terjadi hari ini, hal itu membuatnya sangat kesal hingga dirinya lupa membiarkan delvia pergi dengan keadaan sangat kotor.
"aku harus menelponnya" andika segera mengambil hanphonenya untuk menelpon delvia namun bukan kelihatannya keberuntungan tak memihak padanya karena ponsel delvia tak aktif.
andika terus mengumpat dengan kesal dirinya merasa sangat jengkel dan merasa sangat bersalah walaupun itu bukan kesalahannya sama sekali tapi entah kenapa akhir- akhir ini dia begitu memperdulikan delvia.
andika memutuskan untuk mencari delvia karena hari sudah sore dirinya tau delvia tak mungkin pulang kerumah dengan keadaan seperti tadi, andika mencari tau alamat semua sahabat delvia dan pergi mencarinya.
"pasti ada di antara 2 alamat ini" andika berucap dengan yakinnya dan langsung menuju ke alamat yang tertera di layar ponselnya.
*tongggg...tongggg*
suara bel rumah lala berbunyi saat andika menekannya dengan tak sabaran, andika memilih ke rumah lala duluan karena searah dan rumah lala yang duluan dia temui.
"permisi tuan mau cari siapa" sapa seorang pelayan rumah lala yang baru saja membukakan pintu.
"apakah la..la ada di rumah" tanya andika yang gagap menyebutkan nama sahabat istrinya itu karena takut salah ingat.
"ada tuan... masuk dulu biar saya panggilkan" ujar pelayan itu pada andika.
"tak apa saya tunggu di sini saja bi" tolak andika dan memilih menunggu lala di depan pintu rumah yang tak seberapa di bandingkan rumahnya.
pelayan itu segera pamit tinggal kedalam untuk memanggilkan majikannya dan memberitahukan kedatangan tamu majikannya itu, tak lama lalapun segera turun dengan rasa penasaran siapa pria yang bertamu di rumahnya dan mencarinya.
"ka...mu" ujar lala terbata karena terkejut melihat andika yang tengah berdiri menunggunya.
"ada apa" tanya lala bingung kenapa suami sahabatnya itu datang ke rumahnya.
"apa delvia disini" tanya andika sedikit canggung.
"tidak,,, memangnya kenapa? delvia kabur? pasti kau terlalu jahat dengan dia!!! kau ini manusia atau bukan" lala menjawab sambil meramal dengan asal- asalan berdasarkan pemikirannya.
__ADS_1
"baiklah jika dia tak disini aku permisi" ujar andika sambil berjalan meninggalkan teras rumah itu.
"kau tak sopan sekali yah!!! awas saja jika terjadi sesuatu pada sahabatku" teriak lala dengan begitu kesal dan menunjuk- nunjuk ke arah andika yang berjalan pergi dan langsung kembali masuk dengan wajah yang kesal namun menggemaskan.
andika sangat berharap delvia ada di rumah michel saat ini, andikapun dengan tak sabar melajukan mobilnya menuju kediaman michel yang merupakan tempat yang jarang di datangi bahkan belum pernah dia datangi yaitu tempat kosan walaupun penginapan michel terbilang kalangan orang berada namun tidak untuk andika baginya tempat tinggal yang berkalangan atas adalah menyewa apartemen.
"maaf tuan ini penginapan wanita jadi anda ada perlu apa datang disini" andika di cegat oleh penjaga yang menjaga gerbang penginapab itu karena memang penginapan michel kusus wanita.
"saya ingin bertemu teman saya" jawab andika yang merasa tak senang di tanya- tanya.
"siapa namanya tuan" tanya penjaga itu memastikan.
"mi..chan ia michan" ucap andika sambil mengingat- ingat dan memastikan.
penjaga itu meminta andika menunggu sebentar dan dirinyapun mengecek nama yang disebutkan andika namun tak ditemuinya.
"maaf tuan anda tak bisa masuk" ujar penjaga itu dengan nada tegas sambil setengah menutup gerbang.
"nama yang tuan sebutkan tak ada di daftar orang yang tinggal disini" jawab satpam itu mencoba siaga dengan andika.
"bagaimana bisa... aku ingin mengeceknya" andika ingin masuk dengan paksa namun niatnya gagal saat dua penjaga itu memeganginya.
"aku hanya ingin memastikan istriku ada di dalam dengan temannya atau tidak" andika mencoba membuat kedua penjaga itu mengerti.
"maaf tuan tidak bisa" kedua penjaga itu tetap bersikeras dan andikapun tak terima lalu dengan segera melawan dan berhasil masuk kedalam gerbang.
"andika" michel berpapasan dengan andika saat dirinya ingin keluar membeli sesuatu.
"kenapa sulit sekali menemuimu kenapa tak dari tasi kau keluar" ujar andika yang terlanjur kesal dengan kedua penjaga itu.
"maaf nona pria ini mengganggu ketenangan" ujar salah satu penjaga yang mengejar andika.
__ADS_1
"tak apa dia temanku" bela michel.
"oh baiklah saya pikir dia seorang pencuri atau pembunuh" ujar penjaga itu yang merasa lega.
"kau pikir aku seperti itu kau tak lihat penampilanku" seru andika yang masih sangat kesal.
"maaf tuan penampilan bukanlah kunci untuk melihat sikap orang" ujar penjaga itu dan langsung berlalu pergi dari situ.
"dasar sialan penjaga itu beraninya dia" guman andika rasanya dirinya ingin sekali memasukan kepala penjaga itu ke dalam besi gerbang pintu.
"kenapa kau mencariku" tanya michel.
"apa delvia ada di tempatmu" andika langsung kepada inti kedatangannya.
"tidak dia tidak kemari dan belum mengabariku dia juga tak masuk pelajaran tadi" jawab michel dengan nada yang tiba- tiba berubah menjadi panik.
"yasudah kalau begitu aku permisi" ujar andika sedikit kecewa dengan jawaban michel.
"andika tunggu" teriakan michel membuat andika menggentikan langkannya.
"apa kau bertengkar dengannya? aku melihat dia tak begitu baik tadi pagi dan dia menatapmu dengan begitu aneh" tanya michel yakin dengan apa yang dilihatnya tadi pagi saat mencabut beberapa gambar namun sedikit gugup.
"aku tidak bertengkar dengannya aku hanya bingung dia kemana dengan keadaan seperti itu dia tak mungkin pulang ke rumahku dan tak mungkin juga ke rumahnya" jelas andika yang menyembunyikan masalah clara tadi pagi.
"memangnya dia kenapa?" tanya michel lebih panik.
andikapun menceritakan semua kejadian di toilet itu dan membuat michel sangat khawatir dan merasa bersala meninggalkan delvia di toilet itu.
"temukanlah dia dia itu seorang wanita dan sekarang banyak yang tidak senang dengannya" pintah michel pada andika, michel menjadi sangat cemas setelah mendengar semua cerita andika takutnya ada yang menjahati delvia lagi.
"baiklah kalau begitu aku pergi dulu" andika pamit untuk kembali mencari delvia dimana saja dirinya dapat pergi andikapun tak lupa bertanya pada michel tempat- tempat yang biasa delvia datangi.
__ADS_1
sudah larut malam semua tempat yang michel bilangpun sudah andika datangi satu persatu namun tak ada satupun tempat yang delvia kunjungi, andika semakin khawatir dan cemas namun dirinya mulai mengingat perkataan michel tadi mungkin saja para wanita yang menyukai bayu menjahati delvia lagi, andika semakin tak karuan, dirinya memutuskan untuk kembali ke rumahnya dan mengecek mungkin saja delvia pulang kerumahnya.