
Usai sarapan pagi, keluarga itu akhirnya mandi bersama di laut yang lumayan tenang hari itu. Hanya nyonya Yuyun yang tidak mau ikutan mandi karena ia harus mengatur makan siang di mana menu hari ini adalah serba seafood. Mereka juga harus kembali lagi ke Jakarta usai makan siang karena besok si kembar dan Alia akan kembali ke sekolah.
Rupanya Alia belum begitu bisa berenang yang akhirnya diajar oleh suaminya sendiri. MARA mengajarkan gerakan yang paling ringan dalam gaya renang.
"Sayang, ikuti aku gerakan renang yang paling mudah kamu pelajari yaitu dengan gaya dada.
Gaya dada atau katak yang dalam istilah internasional disebut breaststroke ini dianggap mudah untuk dipelajari. Untuk melakukan gaya katak, posisikan tubuh menghadap ke air, lalu gerakan tangan menyapu air ke arah luar, dan kaki dihentak ke arah luar. Ambil nafas setelah dua atau tiga kali melakukan gerakan tersebut. Gaya ini cocok untuk berenang dengan kecepatan rendah." Ucap MARA diikuti oleh isterinya.
Karena kemauannya sangat tinggi, akhirnya Alia bisa melakukannya. MARA begitu bangga melihat Alia bisa melakukannya.
"Nanti kalau sudah pulang, kamu harus belajar mobil Minggu berikutnya denganku." Ucap MARA usai beberapa kali melakukan renang lagi dengan istrinya.
"Belajar bercinta saja belum, masa sudah belajar mobil." Goda Alia.
"Itu mah nggak usah belajar, bakalan ngerti sendiri." Balas MARA.
"Tapi aku ingin tahu rasanya seperti apa ." Ucap Alia.
"Baby...! Tolong jangan memancingku, kamu tidak tahu rasanya, bagaimana aku dari tadi menahan diri ketika kamu terus bicara ke arah sana." Pinta MARA sambil menekan perasaannya.
"Baiklah. Ayo kita pulang." Ucap Alia yang langsung keluar dari laut sambil mendekap tubuhnya yang kedinginan.
"Nanti basuh dulu tubuhmu dengan air hangat ya sayang sebelum pakai baju." Pinta MARA.
"Apakah kamu ingin mandi bersamaku?" Tanya Alia.
"Tidak ...! Belum saatnya aku mandi bersama denganmu." Tolak MARA tegas.
"Memangnya kenapa?" Tanya Alia.
"Aku tidak mau melanggar janjiku kepadamu. Jika aku melanggar, besok kamu bakalan tidak bisa masuk sekolah."
"Kenapa tidak bisa sekolah?" Tanya Alia dengan polosnya.
"Nanti cara jalanmu jadi ngangkang karena menahan sakit di area intimu."
__ADS_1
"Oh begitu. Emang sakit ya kalau pengantin baru melakukannya?"
"Katanya sih begitu. Tapi nggak tahu rasanya seperti apa karena hanya perempuan yang bisa merasakan itu."
"Ih, jadi perempuan nggak enak banget. Sakit saat pengantin baru. Terus saat hamil sengsara. Melahirkan apa lagi. Belum menyusui dan membesarkan anaknya." Keluh Alia.
"Makanya, kenapa Allah memberikan pahala surga untuk seorang istri yang taat pada suaminya karena melewati masa sakit itu." Ucap MARA.
"Tapi kenapa para suami masih doyan selingkuh kalau tahu istrinya melewati masa sakit itu?"
"Entahlah sayang. Semoga kita di jauhkan dari ujian yang mengerikan seperti itu." Ucap MARA.
Tidak berapa lama keduanya sudah berganti baju santai. Alia menuju dapur untuk membantu ibunya sedang membuat udang saus asam pedas. Kepiting saus Padang, cumi bakar, Ikan bakar dan spaghetti dengan daging lobster. Ada juga kerang saus tiram.
Ada lalapan dan juga cah kangkung, capcay sudah memenuhi meja itu. Dewa Dewi sudah mulai ngiler melihat hidangan lezat itu. Keduanya memang sudah lapar lagi karena kelamaan berenang. Begitu juga dua lelaki dewasa MARA dan pak Hadi yang sudah tidak sabar menikmati masakan istri mereka.
"Apakah ini sudah boleh dimakan, bunda?" Tanya MARA yang sudah tergiur dari aromanya saja.
"Sudah nak MARA. Boleh ko di makan sekarang." Ucap Nyonya Yuyun.
Dalam sekejap semuanya sudah duduk menghadap meja makan. Kali ini makannya di dalam ruang makan tapi tetap bisa melihat laut karena pintu belakangnya di buka lebar.
Tapi sebelumnya itu ia juga ingin memberikan kejutan untuk mertuanya.
"Ayah...! Aku mohon maaf kalau perbuatanku ini sangat lancang tanpa meminta izin kepada kalian." Ucap MARA terhenti sejenak.
"Emangnya ada apa nak MARA?"
"Untuk sementara waktu, aku harap ayah, bunda dan si kembar mau tinggal di rumah kami yang baru karena saat ini, aku sedang meminta mandor perusahaan untuk merenovasi rumah kalian." Ucap MARA hati-hati.
"Masya Allah, nak MARA." Pekik nyonya Yuyun begitu terharu dengan kebaikan menantunya.
"Insya Allah tidak akan lama, paling sekitar tiga bulan kalian sudah menempati lagi rumah kalian." Timpal MARA.
Dewa dan Dewi langsung bangun memeluk kakak mereka Alia." Terimakasih kak Alia, karena mau menikah dengan Abang MARA yang baiknya luar biasa." Ucap Dewa.
__ADS_1
"Semoga rumah tangga kalian bahagia ya kak. Jangan sakiti Abang MARA. Dia adalah idolaku mulai hari ini. Semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik untuk aku juga seperti bang MARA." Ucap Dewi.
"Aaamiin." Semuanya mengimani doanya si kembar.
"Tapi ada lagi ayah, bunda. MARA sudah menyiapkan restoran sederhana untuk kalian kelola sesuai dengan masakan yang kalian inginkan. MARA tidak mau lagi ayah dan bunda bekerja untuk orang lain.
Jadilah bos untuk diri sendiri. Nanti Dewa dan Dewi bisa bantu dan juga beberapa pelayan yang akan saya rekrut untuk membantu kalian."
Ucap MARA dan kali ini Alia bangun memeluk suaminya karena sangat terharu dengan perjuangan cinta suaminya yang begitu besar untuk keluarganya.
"Terimakasih MARA, suamiku." Tangis Alia pecah. Pak Hadi dan nyonya Yuyun ikut bangun memeluk MARA sebagai bentuk ucapan terimakasih mereka pada MARA.
Para pelayan juga ikut terharu menyaksikan kebahagiaan itu. Usai makan siang bersama, keluarga itu kembali berkemas untuk kembali ke Jakarta sambil menunggu azan Dzuhur.
Selang satu jam kemudian, keluarga itu melakukan sholat dhuhur berjamaah. Pelayan membantu memasukkan koper mereka ke mobil.
Bili sudah siap membawa pulang Keluarga itu ke Jakarta dan langsung menuju ke rumah baru MARA untuk istrinya Alia di mana rumah beserta isinya itu sebagai mahar untuk Alia.
Sepanjang perjalanan Alia tidur dalam pelukan suaminya. Begitu juga nyonya Yuyun yang tidur dalam pelukan pak Hadi. Sementara Dewa dan Dewi sibuk dengan ponsel mereka. Dewi lebih senang menonton Drakor sementara Dewa sedang asyik main game.
Sekitar enam jam perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya tiba juga di mansion mewah. MARA memang sengaja membangun mansion itu jauh sebelum mengenal Alia. Ia juga ingin mempersiapkan semuanya untuk calon istrinya entah itu untuk siapa dan istri yang beruntung itu jatuh pada Alia.
MARA membangunkan bidadari nya dan juga keluarga istrinya. Keluarga itu turun disambut oleh beberapa pelayan yang berdiri tertunduk.
"Sayang ..! Apakah ini rumah kita?"
"Bukan. Ini rumah kamu sayang!" Ucap MARA.
"Astaga...,! Ini seperti istana yang aku lihat di Drakor. Masya Allah." Puji Dewi yang kecanduan dengan Drakor.
Beberapa pelayan mengantar pak Hadi dan Bu Yuyun ke kamar mereka begitu juga Dewa dan Dewi di kamar mereka yang terpisah sesuai gaya interior dengan jender mereka masing-masing.
"Apakah kamar aku di rumah baru nanti seperti ini?" Tanya Dewa monolog. Rupanya di dalam kamar itu ada hadiah untuknya berupa laptop baru yang bertuliskan namanya.
"Astaga...! Kakak ipar ku yang satu ini benar-benar hebat. Ya Allah jadikan aku seperti dirinya selain Rosulullah sebagai tauladan ku." Pinta Dewa tulus.
__ADS_1
Begitu juga dengan Dewi yang mendapatkan hadiah serupa seperti Dewa. Gadis ini begitu haru hingga mencium barang impiannya itu yang sudah lama ia idam-idamkan.
Sementara di dalam kamar Alia dan MARA, keduanya sedang berciuman di dalam sana karena sejak tadi MARA sudah merindukan untuk mencium bibir istrinya ini.